ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Wednesday, September 13, 2017

Mengkompromikan dalil-dalil tentang dzikir dengan suara keras dan suara pelan

oleh : Drs. Rik Suhadi, S.ThI (Direktur Pondok Babussalam Socah)

a.      Dalil dalil dzikir dg mengeraskan suara :
- قول ابن عباس:
إن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي - صلى الله عليه وسلم - ، وكنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته.
Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.”(HR. Imam Bukhari)


riwayat lain, yaitu:

"كنا نعرف انقضاء صلاة رسول الله صلي الله عليه وسلم بالتكبير"
Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.”(HR. Imam Bukhari   dan Muslim)

b.        Dalil dalil  dzikir dengan melembutkan suara

QS. Al –a’raf  205 , 55.

 (205) وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
205. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

(55)ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِين
55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas
 
 (QS. Maryam ayat 3)

إذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut

يا أيها الناس ! اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم و لا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا و هو معكم
Ringankanlah atas diri kalian ( jangan keraskan suara ) karena kalian tidak berdo’a kepada dzat yg tuli dan tidak kpd yg ghaib akan tetapi kalian berdo’a kepda Dzat yang maha mendengar, maha dekat dan Dia ada bersama kalian (Muttafaq ‘alaih ).


Pendapat – pendapat ulama :

       Ulama –ulama yang membolehkan dengan suara jahr ( mengeraskan sura dalam dzikir )

      1. Ibnu Hazm. Beliau berkata,

ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن


“Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik.” (Al Muhalla, 4: 260)


2. Ath Thobari, beliau berkata,

فيه الإبانه عن صحة ما كان يفعله الأمراء من التكبير عقب الصلاة


“Hadits ini sebagai isyarat benarnya perbuatan para imam yang bertakbir setelah shalat.” (Rujuk Fathul Bari, 2: 325)


3. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan
Yang disunnahkan dalam setiap do’a adalah dengan melirihkan suara kecuali jika ada sebab yang memerintahkan untuk menjaherkan. Allah Ta’ala  berfirman,


ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55)


B. Ulama- Ulama yang tidak membolehkan atau memakruhkan dengan suara jahr
  1. Imam an-Nawawi  memadukan antara hadits-hadits yang menganjurkan (mustahab) mengeraskan suara dalam berdzikir dan hadits-hadits yang menganjurkan memelankan suara dalam berdzikir; bahwa memelankan suara dalam berdzikir itu lebih utama sekiranya dapat menutupi riya dan mengganggu orang yang shalat atau orang yang sedang tidur. Sedangkan mengeraskan suara dalam berdzikir itu lebih utama pada selain dua kondisi tersebut karena: pebuatan yang dilakukan lebih banyak, faidah dari berdzikir dengan suara keras itu bisa memberikan pengaruh yang mendalam kepada pendengarnya, bisa mengingatkan hati orang yang berdzikir, memusatkan perhatiannya untuk melakukan perenungan terhadap dzikir tersebut, mengarahkan pendenganrannya kepada dzikir terebut, menghilankan kantuk dan menambah semangatnya”. (Abu al-Fida` Ismail Haqqi, Ruh al-Bayan, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 3, h. 306
  2. Imam Malik (pendiri mazhab Maliki) bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah MUHDATS (BID'AH), sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitabnya Fathul Baari.
  3. Sebagian Ulama lain, diantaranya Syaikh Ibnu Saini bin Musa Rahimahullah dan Syaikh Abdul Hakim Bin Amir Abdat bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah bid'ah atau minimalnya MAKRUH , berdasarkan Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,


كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »


“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.”



      4. Imam Ath-Thobari Rahimahullah berkata,

فِيهِ كَرَاهِيَة رَفْع الصَّوْت بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْر ، وَبِهِ قَالَ عَامَّة السَّلَف مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ اِنْتَهَى

“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.”

     5. Imam Syafi'i dalam Kitabnya Al-Umm:
وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم

“Aku menganggap bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan (mengeraskan) suaranya sedikit tatkala zikir setelah shalat adalah untuk mengajari para sahabat. Karena kebanyakan riwayat yang aku tulis dan riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau tidak berdzikir dengan tahlil dan takbir setelah salam. Dan terkadang beliau juga berdzikir dengan tata cara yang pernah disebutkan.”.


    6.  Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sa`il halaman 79 menyebutkan beberapa dampak yang kurang baik dari mengeraskan dzikir, diantaranya : Orang yang berdzikir akan terganggu oleh dzikir orang lain jika semuanya mengangkat suara, khususnya kalau susunan dzikirnya berbeda-beda. Kemudian akan mengganggu orang-orang yang masbuq,yakni yang terlambat dalam shalat, kemudian juga mengganggu orang yang melakukan shalat sunnah (orang yang shalat sunnah setelah shalat wajib tanpa dzikir karena ada keperluan yang mendesak atau yang lainnya).


Kesimpulan :
Masalah berdzikir dengan suara jahr (keras ) atau sirr ( lembut ,samar ) setelah usai salat fardhu adalah termasuk persoalan ijtihadiyah  di kalangan ulama yang masing-masing berpegang kepada dalil yang shahih, oleh karenanya kita hendaknya mengedepankan sikap saling menghormati terhadap masing masing pendapat, tanpa menjadikannya sebagai alat pemecah belah, sehingga umat Islam menjadi mudah di hadap-hadapkan dan dibenturkan antar sesame iman  hanya karena persolalan ijtihadiyah.
Disamping itu sebagai generasi yang cerdas hendaknya kita mampu meluaskan wawasan kita terutama atas dalil dalil yang yang lebih rajih ( kuat ) dengan cara mengkaji dan mempelajari seteliti mungkin dengan tanpa mengabaikan pendapat2 ulama yg benar-benar ahli dalam bidangnya agar kita benar benar punya pegangan kuat  dalam ber ittiba’ ( mengikuti ) cara beribadahnya Rasulullah saw.
Paparan diatas secara singkat hendaknya mampu membuka wawasan berfikir kita .
Demikian semoga bermanfaat.
Share:

Friday, July 21, 2017

BENARKAH TERDAPAT KESALAHAN DALAM AL-QUR’AN ?

oleh : Drs. Rik Suhadi, S.ThI (Direktur Pondok Babussalam Socah)

Didalam al-Qur’an ada tiga ayat yang memuat tentang kalimat “As-shaabiuun” atau as-shaabiin “ . tepatnya pada QS. Al-Baqoroh ayat 62, QS. Al-Maidah ayat 69 dan QS. Al-Hajj ayat 17 , ayat  ini sejak lama sering dijadikan perdebatan , bahkan akhir-akhir ini ayat yang memuat kalimat As-Shaabiin dan As-Shaabiuun ini mulai dipersoalkan oleh orang-orang diluar Islam. Mereka menganggap bahwa al-Qur’an terutama tiga ayat yang memuat kalimat as—Shaabiuun dan as-Shaabiin tersebut terdapat kesalahan. Mereka menilai adanya ketidak samaan penulisan dan bacaan terutama pada QS Al- Maidah ayat 69 .   Tiga ayat tersebut dalam Qur’an adalah :

Pertama Al-Qur’an Surat al-Baqoroh : 62

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ 
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ 

Kedua : Al-Qur’an Surat al-Maidah : 69

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  

Ketiga : Al-Qur’an Surat Al-Hajj : 17

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ 

Pendapat pendapat Tentang Shaabiuun

Sebelum membahas tentang perbedaan penulisan, bacaan dan kedudukan kalimat pada ayat-ayat tersebut ada baiknya  kalau terlebih dahulu kita menyimak berbagai pendapat Ulama tentang “ Shabiuun “,  diantaranya adalah :

Mujahid : 
“ Shaabiuun” adalah kaum, atau nama yang diberikan kepada suatu kaum , diantara majusi, yahudi dan nasrani, mereka tidak  termasuk agama tetapi hanyalah kaum. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abi Najih . dan  dari ‘Atho’ , Said bin Jabir , Abu .Aliyah, Robi’ bin anas, As-Sudy, Abu Sya’tsa’, Jabir bin zaid Dhahhak dan Ishak  bahwa : Shaabiuun  itu adalah sempalan Ahli kitab dan mereka ini membaca Zabur

Ibnu Jarir  :                      
Menjelaskan bahwa  mereka shalat lima kali menghadap kiblat 

Abu Ja’far ar-Razi   :
Mereka adalah kaum yang menyembah malikat dan shalat menghadap kiblat dan mereka membaca zabur.

Ibnu Abi Hatim   :     
Mereka adalah kaum yang berasal dari Irak, mereka beriman kepada seluruh nabi-nabi mereka berpuasa sekali setahun selam 30 hari , Shalat menghadap Yaman, sehari lima kali.

Umar     :               
Mengatakan bahwa mereka termasuk Ahli –Kitab, bahkan umar berpendapat bahwa sembelihan Shaabiiin sama dengan sembelihan ahli-Kitab. 

Ibnu Abbas      :  
Menyatakan bahwa sembelihan mereka tidak halal, perempuan-perempuan mereka haram dinikahi

Al-Kalaby    :    
menyatakan bahwa mereka adalah “kaum” antara Yahudi  dan     Nasrani .

Qotadah  :               
adalah kaum yang membaca zabur dan menyembah malaikat, mereka shalat menghadap kiblat yang lain  dan mengingkari Allah .

As’ad Huumud   :
Mereka ( As-Shaabiuun ) adalah manusia yang menyembah bintang-bintang dan mensucikan malaikat. 
Disim,pulakan bahwa “ Shaabiuun “ bukanlah “Agama” tetapi “ sebuah Kaum” keluar / menyimpang dari kalangan ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani ) terhadap agama mereka, dan menyembah bintang atau malaikat.

Perbedaan Qira’at 
Pada surat al-Baqoroh ayat 62, tertulis الصَّابِئِينَ   dalam keadaan Nashab setelah kalimat النَّصَارَى . pada surat al-Maidah tertulis الصَّابِئُونَ dalam keadaan rofa’ sebelum kalimat النَّصَارَى , sedangkan pada Surat al-Hajj ayat 17 tertulis الصَّابِئِينَ dalam keadaan Nashab sebelum kalimat َالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ, dimana sesungguhnya letak perbedaannya ?

Ahlul Madinah  :
membaca kalimat الصابئين dan الصّابئون ini dengan meninggalkan huruf hamzahnya  sehingga terbaca “الصّابين والصّابون dalam banyak mushaf Qur’an. Sedangkan  orang –orang yang tetap membaca dengan hamzah mereka beralasan bawa kalimat itu berasal dari : يصبوا صبوءاً  صبا

Abu Ja’far    :
berpendapat, bahwa kalimat الصابئون itu jama’ dari "صابئ dan merupakan kata pecahan  : seperti :  صبأ الرجل يصبأ صبواً" dikatakan kepada seseorang  ketika seseorang keluar atau pindah dari satu agama ke agama yang lain . 

Ibnu Abbas     :
menyatakan bahwa tidak ada kalimat الصابُون itu, yang ada hnayalah الصابئون, tidak ada kalimat الخاطون itu melainkan الخاطِئون 

Al Jumhur  :    
 membacanya dengan hamzah seperti : صَبَأَ نابُ البعير أي : خَرَجَ  وصَبَأَتِ النجومُ : طَلَعت                                        
Pada  surat al-Maidah : 69 , al-Jumhur membacanya dengan واو  (wau),  merofa’ kannya, sebagaimana mushaf-mushaf al-Amshor.

Al-Kholil , Sibaweh ( Ulama Basrah) dan orang-orang  yang mengikutinya  :
Merofa’kannya , dengan alas an kalimat الصابئون pada Al-Maidah : 69 tsb , posisinya adalah mubtada’ dengan khobar makhduf ( tak disebut/terbuang ) , untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah sebagai khobar-awal dengan maksud atau sekaligus sebagai khobar akhir, dengan kejelasan sbb : 
كذلك إنَّ الذين آمنوا والذين هادُوا مَنْ آمنَ بهم إلى آخره والصابئون 
Sebagai contoh : إن زيداً وعمروٌ قائمٌ  maksudnya 
إنَّ زيداً قائم وعمرو قائم  jika seperti ini maka yang mahduf ( terbuang) adalah قائم  yang awal atau sebaliknya 

Az-Zamakhsyari :  sependapat dengan Sibaweh , dia menyatakan :
والصابئون : رفعٌ على الابتداء ، وخبرُه محذوفٌ ، والنيةُ به التأخير عمَّا في حَيِّز » إنَّ « من اسمها وخبرها ، كأنه قيل : إنَّ الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى حكمُهم كذلك والصابئون كذلك 
Bani Harits dan lainnya, :
 أنَّ » الصابئون « منصوبٌ  menyatakan dalam keadaan nashab ( ini hanya terjadi pada Bani harits ) .  Mereka menjadikan Alif tatsniyah dalam semua kondisi sebagai ganti dari Rofa’ Nashab dan jar, begitu juga waau tanda rofa’ isim jamak salim mereka tetapkan dalam keadaan nashab dan Jarr  sebagaimana tetapnya alif . contoh: رأيت الزيدان ومررت بالزيدان. ( pendapat ini sementara dianggap Dhoif )

Pendapat lain :
 أنَّ علامةَ النصبِ في « الصابئون » فتحةُ النون  Bahwa tanda fathah pada huruf nun (ن )  adalah alamat Nashab. Nun (ن ) adalah hurub I’rob ( terpengaruh ) sebagai contoh : الزيتون » و « عربون » 
Al- Farasiy      :
Membolehkan tanda fathah pada nun ((ن), sebagai alamat nashab pada sebagian Isim jamak salim dengan syarat yang mengiringinya adalah khusus huru “f ya’ “ ( ي ) bukan wau (و )  seperti “« جاء البنينُ » atau dalam hadits : « اللهم اجْعَلْها عليهم سنيناً كسنينِ يوسف

Ubay bin Ka’ab, ‘Utsman bin Affan , ‘Aisyah, Al-Juhdury, Sa’id bin Jabir,  jama’ah dan Ibnu Katsir  :
Mereka membaca ayat 69 QS Al-Maidah ini dengan ya’ ( ي )  الصابئينMereka menashabkannya. Dan kalimat  ini jelas sebagai bentuk ‘athof “ kepada isimnya « إنَّ » .
Ibnu Haziy      :
Dalam tafsirnya menyatakan bahwa Qiraaat as-Sab’ah dengan wau( و) dalam keadaan rofa’, dan menurtnya “Aisyah pernah mengatakan bahwa kalimat ini terdapat kekeliruan pada  I’rabnya.

Husain Al-Bashori dan Al-Juhri    :
Membaca  الصابِيُون dengan mengkasroh ba’ (ب ) sebelum ya’ kholishoh ( tanpa siddah ) dan meringankan bacaan seperti orang yang membaca يَسْتهزِيُون dengan memurnikan ya’( ي )  nya.

Menurut H. Ahmad Syadali, M.A  dalam bukunya “Ulumul Quran” :  
 Al-Qur’an yang tercetak belum dapat dijadikan pegangan dalam masalah Qira’at. banyak mushaf yang dicetak di belahan dunia Islam sebelah Timur berbeda dengan yang dicetak di Afrika utara misalnya .karena qira’at yang umum diikuti kedua wilayah ini berbeda . bahkan mushaf-mushaf yang tertulis atas perintah Usman itu tidak bertitik dan tidak berbaris. Karena itu mushaf-mushaf ini dibaca dengan berbagai qira’at . sebagaimana sabda Nabi SAW.
إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرءوا ما تيسر منه
Artinya : “Sesungguhnya al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf ( bacaan) maka bacalah (menurut) makna yang engkau anggap mudah “ HR Bukhari Muslim 

Namun demikian perbedaan bacaan dan penulisan kalimat dalam mushaf al-Qur’an, tidak bisa dipandang sebagai suatu kesalahan yang mutlak, meskipun terkadang berpengaruh kepada istimbath hukum, tetapi lebih merupakan khasanah bahasa al-Qur’an , khasanah Ilmu pengetahuan bahkan tekhnologi yang boleh terus digali untuk dipahami dan didalami. Turunnya al-Qur’an melalui perantaraan Malikat jibril yang tidak melalui tulisan itu,sebenarnya  memberikan kesempatan  bagi kita   untuk terus mempelajari dan mendalami bahwa secara cerdas al-Qur’an telah mengajari kita akan kekayaan pola kalimat dan kekayaan gaya bahasa  yang terdapat padanya.
Kembali pada persoalan perbedaan kalimat الصابئينdan الصابئون pada ketiga surat tersebut , secara maknawi tidak terdapat pergeseran maksud , hanya uslubnya  ( gaya bahasa ) saja yang berbeda , sehingga mereka yamg sudah faham mengenai uslub ini tidak terlarang menggunakan gaya bahasa yang mereka anggap lebih mudah dipahami.

Share:

“ Abai Terhadap Tiga Persoalan Penting “

Oleh: Drs. Rik Suhadi S.Th.I
Pengasuh pondok Babussalam Socah Jawatimur

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah…….
Di zaman mutakhir ini  disaat Akhlaq, moralitas manusia sdh mulai terpuruk, dan dunia sudah berada pada puncak kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya, Ada 3 bentuk  prilaku yg di abaikan oleh manusia modern.
1.   Abai terhadap  halal haram. Terutama dalam mengais rezeki. Ini sesuai sabda Nabi kita

, لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
 “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.”  HR. Bukhari

2.  Abai terhadap jalainan kasih sayang persaudaraan, baik dalam hal persaudaraan yang se nasab, maupun persaudaraan seiman dan seagama.
Padahal Allah mengajarkan bahwa orang orang yang beriman itu adalah bersaudara

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Qs. Al hujurot : 10
3.  Abai terhadap sunnah sunnah Rasulullah saw. Padahal Rasulullah mengancam orang yang inkar dan membenci sunnahnya bukan ermasuk golongannya

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى؛ فَلَيْسَ مِنِّى».
Maka siapa yg  membenci sunnahku , maka dia bukan golonganku.

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah…….

Tiga persoalan ini juga pernah disindir oleh sebuah hadits  yang hadits ini oleh  al-Bany di indikasikan dhoif, sedangkan al-hakim mengatakan  tsiqot ma’mun, Ibnu Hibban mentsiqohkannya , dan hadits ini sangat bersesuaian dengan hadits2 lain yang shohih dari Rasulullah saw, dan dalam kenyataan keseharian peristiwa ini telah banyak terjadi terjadi.

سَيَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ لَا يَكُونُ فِيهِ شَيْءٌ أَعَزَّ مِنْ ثَلَاثٍ: دِرْهَمٌ حَلَالٌ، أَوْ أَخٌ يُسْتَأْنَسُ بِهِ، أَوْ سُنَّةٌ يُعْمَلُ بِهَا».
Akan datang satu zaman kepada kalian, pada saat itu tidak ada yang lebih agung dari tiga persoalan, 1. Dirham yang halal, 2. Saudara yang dapat menentramkan, dan 3. Sunnah yang diamalkan.

ke 1  :  “Abai terhadap hal haram”  
Rasulullah memberikan Isyarat yang sangat tajam kepada kita bahwa nanti akan ada suatu masa yang pada saat itu manusia dalam memperoleh hartanya dengan cara-cara yang tidak halal, pada masa itu moralitas sudah sedemikian rusak, akhlaq dan prilaku manusia sudah mulai hancur, dan manusia begitu tamak dan rakus akan harta dunia, mereka tidak  lagi peduli  apakah dalam memperoleh hartanya itu mereka lakukan dengan cara cara yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya ataukah di peroleh dengan cara cara  yang diharamkan .
Berbagai cara mereka lakukan untuk mendapatkan uang  , mulai dari cara yang paling kasar seperti merampok, mengkaorup, mark ap, penggelapan, suap menyuap sampai kepada cara yang paling halus dan tersembunyi seperti berbagai macam bentuk riba yang di poles agar terlihat halal.
Tentang riba ini Rasulullah saw dalam riwayat AQbu Daud dan Ibnu Majah pernah menyatakan :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ
Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu masa, dimana pada masa itu tidak ada seorangpun yang tidak makan riba, kalaupun ia tidak makan ribanya dia akan terkena debunya.

Prediksi Rosulullah Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa riba akan merata dimana-mana baik itu dalam bentuk yang jelas dan dalam bentuk yang samar-samar.  sampai-sampai Rasulullah menyatakan kalaupun kita tidak makan riba , kita akan terkena debu-debu riba.
Prilaku riba ini terjadi diakibatkan karena mereka berlogika bahwa jual beli itu sama denagn riba sebagai mana firman Allah SWT :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
275.  Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan, lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Rasulullah sangat merncela prilaku riba ini dengan  menyatakan bahwa Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina.

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi , dishahihkan al-Al-Bani)

«الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ،
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. ( Ibnu Majah , Shahih menurut Syaikhon )

ke 2  :  “Abai terhadap jalainan kasih sayang persaudaraan baik dalam hal persaudaraan yang senasab, maupun persaudaraan seiman dan seagama

Akhir-akhir ini ukhuwah Islamiyah kita di negri ini tengah teruji, atau bahkan ada yang sengaja membenturkan antara sesame ummat Islam, mereka sangat menginginkan kalau umat islam tidak bersatu,  musuh-musuh Islam sangat senang jika mereka saling berseteru.
Oleh kerenanya Jangan hanya karena Perbedaan pendapat, yg tanpa di diskusikan dengan baik, kemudian menjadikan reataknya jalinan persaudaraan.
Jangan hanya karena berbeda warna baju lantas saling membid’ahkan satu dengan lainnya
jangan hanya karena kita beranggapan paling benar dan paling bersih sehingga kita mudah menyalahkan saudara yang lainnya tanpa alas an yg benar dan jelas, sehinga sikap-sikap ini meretakkan jalinan ukhuwah Islamiyah kita.
Padahal Rasulullah telah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya jalinan persaudaraan, dan silaturrahim. Dan bahkan Rasulullah mengancam dengan mengatakan “ tidak beriman salah seorang yg tidak mencintai saudaranya.

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri
( HR Muslim ).

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Sesungguhnya orang beriman yang satu bagi orang beriman lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan kepada sebagian yang lain.dan Rasulullah menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari

 مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
Rasulullah menjelaskan tentang bahaya memutus tali silaturrahim, sebagaimana sabda Beliau :

 « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ». قَالَ ابْنُ أَبِى عُمَرَ قَالَ سُفْيَانُ يَعْنِى قَاطِعَ رَحِمٍ
tidak akan masuk surga orang yang memutus “ berkata ibnu abi Umar , berkata sufyan, ya’ni : sipemutus jalinan kasih sayang

 ke 3  :  “Abai terhadap sunnah ”  
Pada zaman itu orang2 banyak meninggalkan sunnah , mereka lebih suka bertasyabbuh dengan kebiasaan2 diluar Islam dengan alas an agar terlihat modern, dan mereka lebih suka berpegang dengan tradisi2 yg bertentangan dengan Islam dengan alas an melestarikan kebudayaan nenek moyang, yang semuanya itu kebanyakan menyesatkan dan sangat mengancam keislaman seseorang dari kemurnian beragamanya.
Rasulullah memperingatkan kita akan terjadinya prilaku yg mengekor dan menyerupai orang-orang di luar islam :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, Yahudi dan nasranikah?" Nabi menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" HR.Bukhari .
oleh karenanya kalau ada orang yang berpegang teguh dengan sunnah pada zaman itu maka itu adalah sesuatu yg sangat menakjubkan dan itu adalah prilaku yg agung, dan dianggap asing .
sebagaimana sabda Rasulullah saw.
إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
 “Sesungguhnya Islam pertama kali dianggap asing maka ia akan kembali dianggap asing. Maka beruntunglah orang2 yg dianggap asing “ HR. Ibnu Majah.
اقو قو هذا...............


الحمد لله حمدا كثيرا كما امر  اشهد ان لا اله الا الله
يايها الذين امنوا اوصيكم واياي بتقوى الله . فقد فاز من اتقى كما قال تعالى في القران الكريم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
Kesimpulan :
1.    Dalam kehidupan ini kita hendaknya waspada dan berhati2 dalam menais rizeki Allah SWT,  agar tdk terjebak kedalam praktek riba dan cara2 y tidak dihalalkan oleh Allah SWT.
2.    Eratkan tali persaudaraan sesame kita baik persaudaraan sedarah maupun persaudaraan sesama iman.
3.    Hidupkan sunnah denan cara mencontoh prilaku prilaku Rasulullah Saw. Dan Ittiba’ kepada Rasulullah saw. Hindarkan diri kita dari prilaku prilaku yg bertentangan dengan sunnah Rasulillah Saw.

.Rasulullah berpesan dengan dua  peninggalan , dua pusaka  yang sangat agung, yang dengan dua pusaka itu bila dipegang kuat-kuat  akan  bisa terselamatkan dari kondisi2 seperti itu terutama di era mutakhir ini yg sangat mudah seseorang menjadi tersesat karena ketidak tahuannya mengenai petunjuk dan sunnah.

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ , وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم.
Aku tinggalkan pada kalian dua perkara kalian tidak akan tersesat selamanya selam kalian berpegang pada keduanya , Kitab Allah ( al-Qur’an ) dan Sunnah NabiNya saw ( Muwatthok Malik ).

معا شرالمسلمين . اعلموا ان الله امرنا ان نصلي على نبيه الكريم فبدأ بنفسه قاءلا ان الله وملئكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه وسلمواتسليما. اللهم صل على محمد ......
اللهم اغفر لنا ولجميع المسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات . اللهم ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة خسنة وقنا عذاباالنار
عبادالله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وان نعمل  صالحا ونهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكرالله يذكركم واشكره على نعمه يزدكم ولذكرالله اكبر .

Share:

Friday, July 7, 2017

'Sedekah untuk orang yang sudah meninggal' Dan QS. An-Najm: 39 bertentangankah ?

Riksuhadi, Babussalam socah

“Manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” ini adalah terjemahan al-Qur’an Surat an-Najm ayat 39 :

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Ayat ini menyatakan bahawa manusia tidak akan mendapatkan balasan pahala dari selain yang di amalkannya sendiri ketika seseorang itu masih hidup .
Lantas bagaimana kedudukan sedekah seseorang yang di atasnamakan orang tuanya yang sudah meninggal dunia …? Apakah termasuk bid’ah ?

Ada beberapa hadits yang membicarakan persoalan sedekah bagi seseorang yg sudah meninggal yg dilakukan oleh anaknya atau ahli warisnya dengan meng atas namakan orang tuanya. Bahkan ada beberapa hadits mengenai persoalan sedekah orang mati ini yang dikonsultasikan kepada Rasulullah oleh sahabat diantara hadits hadits tersebut adalah :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمَّهُ تُوُفِّيَتْ، أَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَإِنَّ لِي مِخْرَافًا وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا. [رواه البخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Sesungguhnya ibuku telah wafat, apakah bermanfaat baginya jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya". Orang itu berkata: Sesungguhnya saya mempunyai kebun yang berbuah, maka saya mempersaksikan kepadamu bahwa saya telah menyedekahkannya atas namanya.” [HR. al-Bukhari]

Dan sabda beliau:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمِّي افْتَلَتَتْ نَفْسُهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. 
[رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan saya menduga jika dia berkata pasti dia bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz al-Bukhari]

Dan sabda beliau lagi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ إِنْ أَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ayahku wafat dan meninggalkan harta akan tetapi beliau belum berwasiat. Maka apakah dia dihapuskan (dosanya) jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. Muslim]

Hadits-hadits sahih riwayat al-Bukhari dan atau Muslim ini menunjukkan dengan jelas bahwa sedekah yang kita lakukan dengan mengatasnamakan orang tua kita itu pahalanya sampai kepada mereka.
Adapun jika hadits-hadits di atas dihubungkan dengan ayat dan hadis berikut :

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
  
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An-Najm (53): 39].

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: 'Barangsiapa yang membuat hal baru pada ajaran kami ini yang bukan termasuk darinya maka tertolaklah ia'.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka dapat diambil kesimpulan berikut:
a.     Pada umumnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat an-Najm (53) ayat 39, seorang manusia itu tidak memperoleh pahala dari Allah selain apa yang telah diusahakannya/dikerjakannya sebelum dia meninggal dunia. Oleh karena itu, setelah meninggal dunia, dia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari Allah karena dia tidak bisa lagi beramal saleh.
b.     Namun keumuman ayat di atas dikhususkan oleh hadits-hadits yang menyatakan bahwa sedekah yang dilakukan seorang anak atas nama orang tuanya yang telah meninggal dunia, pahalanya sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia tersebut. Sebagian ulama menambahkan, bahwa kemauan anak untuk bersedekah atas nama orang tuanya itu termasuk hasil usahanya mendidik anak tersebut ketika masih di dunia dahulu, sehingga layak jika sedekahnya itu sampai kepadanya.

c.      Adapun hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim terakhir itu adalah mengenai sesuatu yang dibuat-buat dalam agama atau disebut dengan bid'ah, yaitu sesuatu yang tidak mempunyai sandaran hukum. Dan masalah sedekah atas nama orang tua yang telah meninggal itu --karena ada dalil atau sandaran hukumnya-- bukan termasuk perkara bid'ah.[]
Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah