ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Friday, July 21, 2017

BENARKAH TERDAPAT KESALAHAN DALAM AL-QUR’AN ?

oleh : Drs. Rik Suhadi, S.ThI (Direktur Pondok Babussalam Socah)

Didalam al-Qur’an ada tiga ayat yang memuat tentang kalimat “As-shaabiuun” atau as-shaabiin “ . tepatnya pada QS. Al-Baqoroh ayat 62, QS. Al-Maidah ayat 69 dan QS. Al-Hajj ayat 17 , ayat  ini sejak lama sering dijadikan perdebatan , bahkan akhir-akhir ini ayat yang memuat kalimat As-Shaabiin dan As-Shaabiuun ini mulai dipersoalkan oleh orang-orang diluar Islam. Mereka menganggap bahwa al-Qur’an terutama tiga ayat yang memuat kalimat as—Shaabiuun dan as-Shaabiin tersebut terdapat kesalahan. Mereka menilai adanya ketidak samaan penulisan dan bacaan terutama pada QS Al- Maidah ayat 69 .   Tiga ayat tersebut dalam Qur’an adalah :

Pertama Al-Qur’an Surat al-Baqoroh : 62

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ 
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ 

Kedua : Al-Qur’an Surat al-Maidah : 69

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  

Ketiga : Al-Qur’an Surat Al-Hajj : 17

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ 

Pendapat pendapat Tentang Shaabiuun

Sebelum membahas tentang perbedaan penulisan, bacaan dan kedudukan kalimat pada ayat-ayat tersebut ada baiknya  kalau terlebih dahulu kita menyimak berbagai pendapat Ulama tentang “ Shabiuun “,  diantaranya adalah :

Mujahid : 
“ Shaabiuun” adalah kaum, atau nama yang diberikan kepada suatu kaum , diantara majusi, yahudi dan nasrani, mereka tidak  termasuk agama tetapi hanyalah kaum. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abi Najih . dan  dari ‘Atho’ , Said bin Jabir , Abu .Aliyah, Robi’ bin anas, As-Sudy, Abu Sya’tsa’, Jabir bin zaid Dhahhak dan Ishak  bahwa : Shaabiuun  itu adalah sempalan Ahli kitab dan mereka ini membaca Zabur

Ibnu Jarir  :                      
Menjelaskan bahwa  mereka shalat lima kali menghadap kiblat 

Abu Ja’far ar-Razi   :
Mereka adalah kaum yang menyembah malikat dan shalat menghadap kiblat dan mereka membaca zabur.

Ibnu Abi Hatim   :     
Mereka adalah kaum yang berasal dari Irak, mereka beriman kepada seluruh nabi-nabi mereka berpuasa sekali setahun selam 30 hari , Shalat menghadap Yaman, sehari lima kali.

Umar     :               
Mengatakan bahwa mereka termasuk Ahli –Kitab, bahkan umar berpendapat bahwa sembelihan Shaabiiin sama dengan sembelihan ahli-Kitab. 

Ibnu Abbas      :  
Menyatakan bahwa sembelihan mereka tidak halal, perempuan-perempuan mereka haram dinikahi

Al-Kalaby    :    
menyatakan bahwa mereka adalah “kaum” antara Yahudi  dan     Nasrani .

Qotadah  :               
adalah kaum yang membaca zabur dan menyembah malaikat, mereka shalat menghadap kiblat yang lain  dan mengingkari Allah .

As’ad Huumud   :
Mereka ( As-Shaabiuun ) adalah manusia yang menyembah bintang-bintang dan mensucikan malaikat. 
Disim,pulakan bahwa “ Shaabiuun “ bukanlah “Agama” tetapi “ sebuah Kaum” keluar / menyimpang dari kalangan ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani ) terhadap agama mereka, dan menyembah bintang atau malaikat.

Perbedaan Qira’at 
Pada surat al-Baqoroh ayat 62, tertulis الصَّابِئِينَ   dalam keadaan Nashab setelah kalimat النَّصَارَى . pada surat al-Maidah tertulis الصَّابِئُونَ dalam keadaan rofa’ sebelum kalimat النَّصَارَى , sedangkan pada Surat al-Hajj ayat 17 tertulis الصَّابِئِينَ dalam keadaan Nashab sebelum kalimat َالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ, dimana sesungguhnya letak perbedaannya ?

Ahlul Madinah  :
membaca kalimat الصابئين dan الصّابئون ini dengan meninggalkan huruf hamzahnya  sehingga terbaca “الصّابين والصّابون dalam banyak mushaf Qur’an. Sedangkan  orang –orang yang tetap membaca dengan hamzah mereka beralasan bawa kalimat itu berasal dari : يصبوا صبوءاً  صبا

Abu Ja’far    :
berpendapat, bahwa kalimat الصابئون itu jama’ dari "صابئ dan merupakan kata pecahan  : seperti :  صبأ الرجل يصبأ صبواً" dikatakan kepada seseorang  ketika seseorang keluar atau pindah dari satu agama ke agama yang lain . 

Ibnu Abbas     :
menyatakan bahwa tidak ada kalimat الصابُون itu, yang ada hnayalah الصابئون, tidak ada kalimat الخاطون itu melainkan الخاطِئون 

Al Jumhur  :    
 membacanya dengan hamzah seperti : صَبَأَ نابُ البعير أي : خَرَجَ  وصَبَأَتِ النجومُ : طَلَعت                                        
Pada  surat al-Maidah : 69 , al-Jumhur membacanya dengan واو  (wau),  merofa’ kannya, sebagaimana mushaf-mushaf al-Amshor.

Al-Kholil , Sibaweh ( Ulama Basrah) dan orang-orang  yang mengikutinya  :
Merofa’kannya , dengan alas an kalimat الصابئون pada Al-Maidah : 69 tsb , posisinya adalah mubtada’ dengan khobar makhduf ( tak disebut/terbuang ) , untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah sebagai khobar-awal dengan maksud atau sekaligus sebagai khobar akhir, dengan kejelasan sbb : 
كذلك إنَّ الذين آمنوا والذين هادُوا مَنْ آمنَ بهم إلى آخره والصابئون 
Sebagai contoh : إن زيداً وعمروٌ قائمٌ  maksudnya 
إنَّ زيداً قائم وعمرو قائم  jika seperti ini maka yang mahduf ( terbuang) adalah قائم  yang awal atau sebaliknya 

Az-Zamakhsyari :  sependapat dengan Sibaweh , dia menyatakan :
والصابئون : رفعٌ على الابتداء ، وخبرُه محذوفٌ ، والنيةُ به التأخير عمَّا في حَيِّز » إنَّ « من اسمها وخبرها ، كأنه قيل : إنَّ الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى حكمُهم كذلك والصابئون كذلك 
Bani Harits dan lainnya, :
 أنَّ » الصابئون « منصوبٌ  menyatakan dalam keadaan nashab ( ini hanya terjadi pada Bani harits ) .  Mereka menjadikan Alif tatsniyah dalam semua kondisi sebagai ganti dari Rofa’ Nashab dan jar, begitu juga waau tanda rofa’ isim jamak salim mereka tetapkan dalam keadaan nashab dan Jarr  sebagaimana tetapnya alif . contoh: رأيت الزيدان ومررت بالزيدان. ( pendapat ini sementara dianggap Dhoif )

Pendapat lain :
 أنَّ علامةَ النصبِ في « الصابئون » فتحةُ النون  Bahwa tanda fathah pada huruf nun (ن )  adalah alamat Nashab. Nun (ن ) adalah hurub I’rob ( terpengaruh ) sebagai contoh : الزيتون » و « عربون » 
Al- Farasiy      :
Membolehkan tanda fathah pada nun ((ن), sebagai alamat nashab pada sebagian Isim jamak salim dengan syarat yang mengiringinya adalah khusus huru “f ya’ “ ( ي ) bukan wau (و )  seperti “« جاء البنينُ » atau dalam hadits : « اللهم اجْعَلْها عليهم سنيناً كسنينِ يوسف

Ubay bin Ka’ab, ‘Utsman bin Affan , ‘Aisyah, Al-Juhdury, Sa’id bin Jabir,  jama’ah dan Ibnu Katsir  :
Mereka membaca ayat 69 QS Al-Maidah ini dengan ya’ ( ي )  الصابئينMereka menashabkannya. Dan kalimat  ini jelas sebagai bentuk ‘athof “ kepada isimnya « إنَّ » .
Ibnu Haziy      :
Dalam tafsirnya menyatakan bahwa Qiraaat as-Sab’ah dengan wau( و) dalam keadaan rofa’, dan menurtnya “Aisyah pernah mengatakan bahwa kalimat ini terdapat kekeliruan pada  I’rabnya.

Husain Al-Bashori dan Al-Juhri    :
Membaca  الصابِيُون dengan mengkasroh ba’ (ب ) sebelum ya’ kholishoh ( tanpa siddah ) dan meringankan bacaan seperti orang yang membaca يَسْتهزِيُون dengan memurnikan ya’( ي )  nya.

Menurut H. Ahmad Syadali, M.A  dalam bukunya “Ulumul Quran” :  
 Al-Qur’an yang tercetak belum dapat dijadikan pegangan dalam masalah Qira’at. banyak mushaf yang dicetak di belahan dunia Islam sebelah Timur berbeda dengan yang dicetak di Afrika utara misalnya .karena qira’at yang umum diikuti kedua wilayah ini berbeda . bahkan mushaf-mushaf yang tertulis atas perintah Usman itu tidak bertitik dan tidak berbaris. Karena itu mushaf-mushaf ini dibaca dengan berbagai qira’at . sebagaimana sabda Nabi SAW.
إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرءوا ما تيسر منه
Artinya : “Sesungguhnya al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf ( bacaan) maka bacalah (menurut) makna yang engkau anggap mudah “ HR Bukhari Muslim 

Namun demikian perbedaan bacaan dan penulisan kalimat dalam mushaf al-Qur’an, tidak bisa dipandang sebagai suatu kesalahan yang mutlak, meskipun terkadang berpengaruh kepada istimbath hukum, tetapi lebih merupakan khasanah bahasa al-Qur’an , khasanah Ilmu pengetahuan bahkan tekhnologi yang boleh terus digali untuk dipahami dan didalami. Turunnya al-Qur’an melalui perantaraan Malikat jibril yang tidak melalui tulisan itu,sebenarnya  memberikan kesempatan  bagi kita   untuk terus mempelajari dan mendalami bahwa secara cerdas al-Qur’an telah mengajari kita akan kekayaan pola kalimat dan kekayaan gaya bahasa  yang terdapat padanya.
Kembali pada persoalan perbedaan kalimat الصابئينdan الصابئون pada ketiga surat tersebut , secara maknawi tidak terdapat pergeseran maksud , hanya uslubnya  ( gaya bahasa ) saja yang berbeda , sehingga mereka yamg sudah faham mengenai uslub ini tidak terlarang menggunakan gaya bahasa yang mereka anggap lebih mudah dipahami.

Share:

“ Abai Terhadap Tiga Persoalan Penting “

Oleh: Drs. Rik Suhadi S.Th.I
Pengasuh pondok Babussalam Socah Jawatimur

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah…….
Di zaman mutakhir ini  disaat Akhlaq, moralitas manusia sdh mulai terpuruk, dan dunia sudah berada pada puncak kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya, Ada 3 bentuk  prilaku yg di abaikan oleh manusia modern.
1.   Abai terhadap  halal haram. Terutama dalam mengais rezeki. Ini sesuai sabda Nabi kita

, لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
 “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.”  HR. Bukhari

2.  Abai terhadap jalainan kasih sayang persaudaraan, baik dalam hal persaudaraan yang se nasab, maupun persaudaraan seiman dan seagama.
Padahal Allah mengajarkan bahwa orang orang yang beriman itu adalah bersaudara

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Qs. Al hujurot : 10
3.  Abai terhadap sunnah sunnah Rasulullah saw. Padahal Rasulullah mengancam orang yang inkar dan membenci sunnahnya bukan ermasuk golongannya

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى؛ فَلَيْسَ مِنِّى».
Maka siapa yg  membenci sunnahku , maka dia bukan golonganku.

Ma’asyiral muslimin rohimakumullah…….

Tiga persoalan ini juga pernah disindir oleh sebuah hadits  yang hadits ini oleh  al-Bany di indikasikan dhoif, sedangkan al-hakim mengatakan  tsiqot ma’mun, Ibnu Hibban mentsiqohkannya , dan hadits ini sangat bersesuaian dengan hadits2 lain yang shohih dari Rasulullah saw, dan dalam kenyataan keseharian peristiwa ini telah banyak terjadi terjadi.

سَيَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ لَا يَكُونُ فِيهِ شَيْءٌ أَعَزَّ مِنْ ثَلَاثٍ: دِرْهَمٌ حَلَالٌ، أَوْ أَخٌ يُسْتَأْنَسُ بِهِ، أَوْ سُنَّةٌ يُعْمَلُ بِهَا».
Akan datang satu zaman kepada kalian, pada saat itu tidak ada yang lebih agung dari tiga persoalan, 1. Dirham yang halal, 2. Saudara yang dapat menentramkan, dan 3. Sunnah yang diamalkan.

ke 1  :  “Abai terhadap hal haram”  
Rasulullah memberikan Isyarat yang sangat tajam kepada kita bahwa nanti akan ada suatu masa yang pada saat itu manusia dalam memperoleh hartanya dengan cara-cara yang tidak halal, pada masa itu moralitas sudah sedemikian rusak, akhlaq dan prilaku manusia sudah mulai hancur, dan manusia begitu tamak dan rakus akan harta dunia, mereka tidak  lagi peduli  apakah dalam memperoleh hartanya itu mereka lakukan dengan cara cara yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya ataukah di peroleh dengan cara cara  yang diharamkan .
Berbagai cara mereka lakukan untuk mendapatkan uang  , mulai dari cara yang paling kasar seperti merampok, mengkaorup, mark ap, penggelapan, suap menyuap sampai kepada cara yang paling halus dan tersembunyi seperti berbagai macam bentuk riba yang di poles agar terlihat halal.
Tentang riba ini Rasulullah saw dalam riwayat AQbu Daud dan Ibnu Majah pernah menyatakan :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ
Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu masa, dimana pada masa itu tidak ada seorangpun yang tidak makan riba, kalaupun ia tidak makan ribanya dia akan terkena debunya.

Prediksi Rosulullah Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa riba akan merata dimana-mana baik itu dalam bentuk yang jelas dan dalam bentuk yang samar-samar.  sampai-sampai Rasulullah menyatakan kalaupun kita tidak makan riba , kita akan terkena debu-debu riba.
Prilaku riba ini terjadi diakibatkan karena mereka berlogika bahwa jual beli itu sama denagn riba sebagai mana firman Allah SWT :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
275.  Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan, lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Rasulullah sangat merncela prilaku riba ini dengan  menyatakan bahwa Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina.

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi , dishahihkan al-Al-Bani)

«الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ،
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. ( Ibnu Majah , Shahih menurut Syaikhon )

ke 2  :  “Abai terhadap jalainan kasih sayang persaudaraan baik dalam hal persaudaraan yang senasab, maupun persaudaraan seiman dan seagama

Akhir-akhir ini ukhuwah Islamiyah kita di negri ini tengah teruji, atau bahkan ada yang sengaja membenturkan antara sesame ummat Islam, mereka sangat menginginkan kalau umat islam tidak bersatu,  musuh-musuh Islam sangat senang jika mereka saling berseteru.
Oleh kerenanya Jangan hanya karena Perbedaan pendapat, yg tanpa di diskusikan dengan baik, kemudian menjadikan reataknya jalinan persaudaraan.
Jangan hanya karena berbeda warna baju lantas saling membid’ahkan satu dengan lainnya
jangan hanya karena kita beranggapan paling benar dan paling bersih sehingga kita mudah menyalahkan saudara yang lainnya tanpa alas an yg benar dan jelas, sehinga sikap-sikap ini meretakkan jalinan ukhuwah Islamiyah kita.
Padahal Rasulullah telah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya jalinan persaudaraan, dan silaturrahim. Dan bahkan Rasulullah mengancam dengan mengatakan “ tidak beriman salah seorang yg tidak mencintai saudaranya.

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri
( HR Muslim ).

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Sesungguhnya orang beriman yang satu bagi orang beriman lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan kepada sebagian yang lain.dan Rasulullah menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari

 مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
Rasulullah menjelaskan tentang bahaya memutus tali silaturrahim, sebagaimana sabda Beliau :

 « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ». قَالَ ابْنُ أَبِى عُمَرَ قَالَ سُفْيَانُ يَعْنِى قَاطِعَ رَحِمٍ
tidak akan masuk surga orang yang memutus “ berkata ibnu abi Umar , berkata sufyan, ya’ni : sipemutus jalinan kasih sayang

 ke 3  :  “Abai terhadap sunnah ”  
Pada zaman itu orang2 banyak meninggalkan sunnah , mereka lebih suka bertasyabbuh dengan kebiasaan2 diluar Islam dengan alas an agar terlihat modern, dan mereka lebih suka berpegang dengan tradisi2 yg bertentangan dengan Islam dengan alas an melestarikan kebudayaan nenek moyang, yang semuanya itu kebanyakan menyesatkan dan sangat mengancam keislaman seseorang dari kemurnian beragamanya.
Rasulullah memperingatkan kita akan terjadinya prilaku yg mengekor dan menyerupai orang-orang di luar islam :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, Yahudi dan nasranikah?" Nabi menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" HR.Bukhari .
oleh karenanya kalau ada orang yang berpegang teguh dengan sunnah pada zaman itu maka itu adalah sesuatu yg sangat menakjubkan dan itu adalah prilaku yg agung, dan dianggap asing .
sebagaimana sabda Rasulullah saw.
إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
 “Sesungguhnya Islam pertama kali dianggap asing maka ia akan kembali dianggap asing. Maka beruntunglah orang2 yg dianggap asing “ HR. Ibnu Majah.
اقو قو هذا...............


الحمد لله حمدا كثيرا كما امر  اشهد ان لا اله الا الله
يايها الذين امنوا اوصيكم واياي بتقوى الله . فقد فاز من اتقى كما قال تعالى في القران الكريم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
Kesimpulan :
1.    Dalam kehidupan ini kita hendaknya waspada dan berhati2 dalam menais rizeki Allah SWT,  agar tdk terjebak kedalam praktek riba dan cara2 y tidak dihalalkan oleh Allah SWT.
2.    Eratkan tali persaudaraan sesame kita baik persaudaraan sedarah maupun persaudaraan sesama iman.
3.    Hidupkan sunnah denan cara mencontoh prilaku prilaku Rasulullah Saw. Dan Ittiba’ kepada Rasulullah saw. Hindarkan diri kita dari prilaku prilaku yg bertentangan dengan sunnah Rasulillah Saw.

.Rasulullah berpesan dengan dua  peninggalan , dua pusaka  yang sangat agung, yang dengan dua pusaka itu bila dipegang kuat-kuat  akan  bisa terselamatkan dari kondisi2 seperti itu terutama di era mutakhir ini yg sangat mudah seseorang menjadi tersesat karena ketidak tahuannya mengenai petunjuk dan sunnah.

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ , وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم.
Aku tinggalkan pada kalian dua perkara kalian tidak akan tersesat selamanya selam kalian berpegang pada keduanya , Kitab Allah ( al-Qur’an ) dan Sunnah NabiNya saw ( Muwatthok Malik ).

معا شرالمسلمين . اعلموا ان الله امرنا ان نصلي على نبيه الكريم فبدأ بنفسه قاءلا ان الله وملئكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه وسلمواتسليما. اللهم صل على محمد ......
اللهم اغفر لنا ولجميع المسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات . اللهم ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة خسنة وقنا عذاباالنار
عبادالله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وان نعمل  صالحا ونهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكرالله يذكركم واشكره على نعمه يزدكم ولذكرالله اكبر .

Share:

Friday, July 7, 2017

'Sedekah untuk orang yang sudah meninggal' Dan QS. An-Najm: 39 bertentangankah ?

Riksuhadi, Babussalam socah

“Manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” ini adalah terjemahan al-Qur’an Surat an-Najm ayat 39 :

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Ayat ini menyatakan bahawa manusia tidak akan mendapatkan balasan pahala dari selain yang di amalkannya sendiri ketika seseorang itu masih hidup .
Lantas bagaimana kedudukan sedekah seseorang yang di atasnamakan orang tuanya yang sudah meninggal dunia …? Apakah termasuk bid’ah ?

Ada beberapa hadits yang membicarakan persoalan sedekah bagi seseorang yg sudah meninggal yg dilakukan oleh anaknya atau ahli warisnya dengan meng atas namakan orang tuanya. Bahkan ada beberapa hadits mengenai persoalan sedekah orang mati ini yang dikonsultasikan kepada Rasulullah oleh sahabat diantara hadits hadits tersebut adalah :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمَّهُ تُوُفِّيَتْ، أَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَإِنَّ لِي مِخْرَافًا وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا. [رواه البخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Sesungguhnya ibuku telah wafat, apakah bermanfaat baginya jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya". Orang itu berkata: Sesungguhnya saya mempunyai kebun yang berbuah, maka saya mempersaksikan kepadamu bahwa saya telah menyedekahkannya atas namanya.” [HR. al-Bukhari]

Dan sabda beliau:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أُمِّي افْتَلَتَتْ نَفْسُهَا، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. 
[رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري]
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan saya menduga jika dia berkata pasti dia bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz al-Bukhari]

Dan sabda beliau lagi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ إِنْ أَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: Sesungguhnya ayahku wafat dan meninggalkan harta akan tetapi beliau belum berwasiat. Maka apakah dia dihapuskan (dosanya) jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. Muslim]

Hadits-hadits sahih riwayat al-Bukhari dan atau Muslim ini menunjukkan dengan jelas bahwa sedekah yang kita lakukan dengan mengatasnamakan orang tua kita itu pahalanya sampai kepada mereka.
Adapun jika hadits-hadits di atas dihubungkan dengan ayat dan hadis berikut :

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
  
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An-Najm (53): 39].

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: 'Barangsiapa yang membuat hal baru pada ajaran kami ini yang bukan termasuk darinya maka tertolaklah ia'.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka dapat diambil kesimpulan berikut:
a.     Pada umumnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat an-Najm (53) ayat 39, seorang manusia itu tidak memperoleh pahala dari Allah selain apa yang telah diusahakannya/dikerjakannya sebelum dia meninggal dunia. Oleh karena itu, setelah meninggal dunia, dia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari Allah karena dia tidak bisa lagi beramal saleh.
b.     Namun keumuman ayat di atas dikhususkan oleh hadits-hadits yang menyatakan bahwa sedekah yang dilakukan seorang anak atas nama orang tuanya yang telah meninggal dunia, pahalanya sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia tersebut. Sebagian ulama menambahkan, bahwa kemauan anak untuk bersedekah atas nama orang tuanya itu termasuk hasil usahanya mendidik anak tersebut ketika masih di dunia dahulu, sehingga layak jika sedekahnya itu sampai kepadanya.

c.      Adapun hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim terakhir itu adalah mengenai sesuatu yang dibuat-buat dalam agama atau disebut dengan bid'ah, yaitu sesuatu yang tidak mempunyai sandaran hukum. Dan masalah sedekah atas nama orang tua yang telah meninggal itu --karena ada dalil atau sandaran hukumnya-- bukan termasuk perkara bid'ah.[]
Share:

PENGHAPUS DOSA


Oleh : Drs. Rik Suhadi STh.I
(Direktur Pondok Babussalam, Socah)
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini terkadang kita manusia banyak melakukan kelalaian, kesalahan dan dosa karena pelanggaran agama yang kita lakukan . Baik pelanggaran itu kita lakukan yang berkaitan dengan sesama manusia ,sesama makhluq Allah atau pelanggaran dan kemaksiatan yang kita lakukan kepada sang kholiq Allah SWT. Setiap anak Adam pasti tak sepi dari perbuatan  salah khilaf dan dosa  sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw :

 كلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وخيرُ الخطَّائينَ التَّوابُونَ
Setiap anak adam melakukan kesalahan dan   sebaik baik pelaku dosa adalah yang    bertaubat (segera) ( HR. Thurmudzi, Ibnu Majah Hakim )

Tetapi Allah SWT yang maha rahman dan rahim kepada hanba-hambanya masih memberikan kesempatan lebar pintu taubat peng hapus dosa, selama matahari belum terbit dari arah tenggelamnya, yakni dengan melakukan beberapa perbuatan sikap dan kesungguhan dalam melakukannya .

Di antara perbuatan itu adalah:

     1.  Beriman kepada Allah SWT, mentauhidkannya dan beramal shaleh.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.(QS. AlAnkabut: 7)

Diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi Muhammad Muhammad saw bersabda,
 “Pintu-pitu surga dibuka pada hari senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

2.  Menjauhi dosa-dosa besar.
 Allah SWT berfirman:
  إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan- kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. Al-Nisa’: 31)

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَأَنَسٍ وَحَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Shalat lima waktu, jum’at yang satu kepada jum’at yang lain, Ramadhan yang satu dengan ramadhan yang lain adalah penghapus dosa selama dosa-dosa besar dijauhi”.

    3.  Taubat yang benar-benar taubat.
 Allah SWT berfirman
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا () يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا () إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak  berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya. (69)(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. (70)kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqon: 68-70).

  إِنَّ اللهَ - عَزَّ وَجَلَّ - يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءَ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءَ الَّليْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang dan Dia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam hingga terbitnya matahari dari tempat terbenamnya ) “ (HR Muslim)
[التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ [صحيح ابن ماجه

“ Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tidak punya dosa sama sekali “ (Shahih Ibnu Majah Al Albani)


 لَوْ أَخْطَأْتـُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ تُبْتُمْ، لَتَابَ عَلَيْكُمْ]

“ Seandainya kalian melakukan kesalahan-kesalahan sepenuh langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya taubat kalian akan diterima ” (Shahih Ibnu Majah )


    4.  Istigfar
Allah SWT berfirman:
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nisa’: 106)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Zaid RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
Barangasiapa yang mengucapkan, (Aku meminta ampun kepada Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri dan aku memohon taubat kepada -Nya). Maka dia akan diampuni dosa-dosanya sekalipun dia berlari dari peperangan”. 

أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Anas bin Malik ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Allah tabaraka wa ta'ala berfirman: "Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi." Abu Isa berkata; hadits adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini ( HR.Thirmidzi). 

    5.  Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid.
 عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً
Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Dzar RA
bahwa Nabi menceritakan tentang firman Tuhannya bahwa Dia berfirman: Wahai hambaKu sesungguhnya kalian senantiasa berbuat dosa dan kesalahan baik pada waktu siang ataumalam, dan Aku mengampuni semua dosa-dosamu, maka mintalah ampun kepadaKu niscaya Aku pasti mengampunimu”.

    6.  Berwudhu’.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Humron, budak Utsman bin Affan RA berkata,
 “Aku memberikan Utsman air untuk berwudhu’ lalu dia berwudhu’ dengannya, kemudian dia berkata, “Sesungguhnya banyak masyarakat yang mempertanyakan sesuatu yang datangnya dari Rasulullah SAW namun aku tidak mengetahui dari manakah sumber hadits tersebut?. Hanya saja aku pernah melihat Rasulullah Muhammad SAW berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian dia berkata, “Barangsiapa yang berwudhu’ dengan cara seperti ini maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju mesjid terhitung sebagai pahala tambahan baginya”.

    7.  Shalat, melangkah menuju shalat.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan terhadap sesuatu yang bisa menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?. Para shahabat menjwab: “tentu, wahai Rasulullah!”. Beliau menjawab, “Menyempurnakan wudhu’ pada tempat-tempat anggota wudhu’, memperbanyak langkah menuju mesjid dan menunggu shalat setelah adzan, maka jagalah amalan tersebut (seperti pasukan yang menjaga perbatasan Negara)”

    8.  Bersedekah.

Allah SWT berfirman:
  إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik  bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian  kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Baqarah: 271)
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Muazd bin Jabal RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :
Tidakkah aku menunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?. Puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebgaimana air memadamkan api”.

    9.  Melakukan  Haji dan Umroh.
Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dari hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Laksanakanlah haji dan Umroh, sebab dia menghapuskan dosa-dosa, kesalahan sebagaimana pandai besi yang menghapuskan karatan besi”.

   10.   Adanya  Musibah yang menimpa.
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA berkata: Pada saat turunnya firman Allah SWT: 
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
Barang  siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberipembalasan dengan kejahatan itu. (QS. An-Nisa’: 123).
Maka kaum muslimin merasakan kesulitan yang sangat tinggi, dan Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Berbuatlah yang mendekati kebenaran dan berbuatlah yang benar, maka pada setiap apapun yang menimpa seorang muslim sebagai penghapus bagi dosa-dosanya, bahkan musibah yang menimpanya atau duri yang menusuknya (sebagai penghapus dosa baginya)”.
Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis-Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?”
Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi
Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.” Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah- berkata di dalam kitabnya Fathul Majid:
Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka.
Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid).

Itulah beberapa amalan yang dapat menjadikan dosa dosa kita terhapus …
Spiritnya adalah
1.      Bagi orang yang telah terlanjur banyak melakukan kemaksiatan dan perbuatan perbuatan dosa hendaknya jangan berputus asa dari kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hambanya insyaf dan mau bertaubat, kembali kepadaNya seraya memohon Ampunan Allah.. Karena kasih sayang Allah jauh melebihi murkanya
2.      Setelah mengetahui betapa Besarnya ampunan Allah ini jangan sampai kita menjadi orang yang ringan melakukan perbuatan dosa walaupun dosa dosa kecil agar kita menjadi orang-orang yg terangkat derajatnya disisi Allah SWT .

Semoga bermanfaat
Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah