ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Tuesday, December 4, 2018

PERILAKU MUSLIM - TADHARRU’


Oleh : Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed, Apt. (Pembina Yayasan Babussalam Socah)




PERILAKU MUSLIM

TADHARRU’


Pengertian Tadharru’

Tadharru’ adalah suatu perasaan yang menjadikan kita merasa sangat fakir, sangat tak berdaya, dan sangat membutuhkan Allah, suatu perasaan yang merendahkan diri, dan merasa bahwa dirinya sangat tak berdaya tanpa rahmat dan pertolongan Allah. Tadharru’ berarti kita memohon dan meminta kasih sayang dan pertolongan Allah segenap hati dan jiwa, serta menangisi segala bentuk ketidak berdayaan kita, sambil memohon kebaikan di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. al-An’am [6]: 42-44).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-A’raf [7]:55).

Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أحَبَّ الله ُ عَبدًا ابـْتَلا َهُ لِيَسْمَعَ تَضَرُّعَهُ

“Apabila Allah menyenangi hamba maka dia di uji agar Allah mendengarkan permohonannya (kerendahan dirinya ketika berdoa —berthadarru).” (HR: Al-Baihaqi).
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar dalam menjalani hidup ini, senantiasa bersikap tadharru’. Maknanya adalah suatu perasaan yang menjadikan kita merasa sangat fakir dan sangat membutuhkan Allah untuk mendengarkan permohonan kita ketika kita berdoa. 

Tadharru' mengandung makna tadzallul (kerendahan dan kehinaan diri) dan istiqamah (ketundukan diri). Oleh karena itu, ketika kita ber-tadharru’ kepada Allah SWT, akan menumbuhkan kesungguhan dan kekhusyu'an dalam beribadah dan berdoa serta menjadi sebab Allah SWT akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya.

Imam Ahmad ibn Hanbal berkata, ber-tadharru’lah seperti orang yang tersesat di tengah samudra luas, padahal ia hanya memiliki sedikit persediaan.
Beliau berkata, "Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah sebatang kayu yang digunakannya supaya terapung. Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak, "Ya Allah, ya Allah!"
Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta pertolongan Allah. Itulah yang disebut dengan tadharru’ di hadapan Allah."

Tadharru’ merupakan bentuk ibadah yang sangat luar biasa, karena disitu terjalin hubungan antara  Allah dengan hambanya, meninggalkan segala urusan di dunia ini, tertunduk, tersujud menangisi segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat, dan mengadu segala masalah yang dihadapi, menyatakan ketidakberdayaan kita sebagai manusia yang sangat lemah, tidak bisa berbuat apa-apa tanpa rahmat dan kasih sayang Allah, mengharap segala bantuan dan ridho dari-Nya, menjadikan-nya satu-satunya tempat tuk berserah diri, meminta rahmat dan pertolongan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita semestinya bersikap tadharru’di setiap waktu dan kesempatan. Berbagai musibah yang kita alami diharapkan menjadi sarana muhasabah kepada Allah. Ketika bermuhasabah kita menyadari akan kesalahan, memohon ampun kepada-Nya, lalu memanjatkan permohonan dengan suara yang lembut dan sikap tadharru’.       


Adab berdzikir dan berdoa

Dalam Tafsir Al-Baidhawy disebutkan penjelasan surah Al-A’raf: 55 bahwa, “Allah memerintahkan mereka agar berdo’a kepadanya dengan merendah diri dan ikhlas, ud’u Rabbakum tadharru’an wa khufyatan’. Artinya dengan merendah diri dan suara yang lembut. Suara yang lembut ini merupakan bukti yang ikhlas.”
Al-Qurthuby mengatakan dalam tafsirnya, tentang surah Al-A’raf: 55, “Merahasiakan do’a (tidak dengan suara nyaring) jauh lebih mulia, karena yang demikian itu tidak disusupi riya.”.
Menurut Ibnu Jarir, tadharru’ artinya merendahkan diri dan tenang untuk menaatinya. Sedangkan khufyatan berarti berarti kekhusyuan hati dan kebenaran keyakinan terhadap Wahdaniyah dan Rububiyah Allah, bisikan antara kalian dengan Allah, bukan dengan suara nyaring berbau Riya’.

Perintah berdoa dengan suara yang lembut juga termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. [QS: al-A’râf: 205].

Merendahkan suara dan tidak mengeraskannya termasuk adab dalam berdoa. Adab ini mencerminkan nilai-nilai yang positif, antara lain adalah:
1.      Cara ini menunjukkan keimanan yang lebih besar, karena ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar suara yang lirih.
2.      Cara ini lebih beradab dan sopan. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar suara yang pelan, maka tidak sepantasnya berada di hadapan-Nya kecuali dengan suara yang rendah.
3.      Sebagai pertanda sikap khusyuk dan ketundukan hati yang merupakan ruh doa.
4.      Lebih mendatangkan keikhlasan.
5.      Cara berdoa dengan suara lirih juga menunjukkan, bahwa seorang hamba meyakini kedekatannya dengan Allah Subahnahu wa Ta’ala.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".

Nabi SAW bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad).

Dzikir dengan suara setelah sholat fardhu berjamaah.

Bagaimana halnya dengan berdzikir dengan suara jahr (keras) atau sirr (lembut, samar) setelah usai salat fardhu?
Menurut Ustadz Drs. Rik Suhadi, S.Th.I, dari Pondok Babussalam Socah, berdzikir dengan suara jahr (keras) atau sirr (lembut, samar) setelah usai salat fardhu ini termasuk persoalan ijtihadiyah di kalangan para ulama.
Adapun tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai mengeraskan suara dzikir sesudah shalat, adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.”
(HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583).

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583).

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama berpendapat, “Dianjurkan mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat.”
Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Hazm. Beliau berkata,

ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن

Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik.” (Al Muhalla, 4: 260).

Demikian juga pendapat Ath Thobari, beliau berkata,

فيه الإبانه عن صحة ما كان يفعله الأمراء من التكبير عقب الصلاة

Hadits ini sebagai isyarat benarnya perbuatan para imam yang bertakbir setelah shalat.” (Fathul Bari, 2: 325)

Sedangkan Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa, yang disunnahkan dalam setiap do’a adalah dengan melirihkan suara kecuali jika ada sebab yang memerintahkan untuk mengeraskan suaranya.

Adapun para ulama yang tidak membolehkan atau memakruhkan dzikir dengan suara jahr, antara lain adalah:
1.      Imam an-Nawawi memadukan antara hadits-hadits yang menganjurkan (mustahab) mengeraskan suara dalam berdzikir dan hadits-hadits yang menganjurkan memelankan suara dalam berdzikir; bahwa memelankan suara dalam berdzikir itu lebih utama sekiranya dapat menutupi riya dan mengganggu orang yang shalat atau orang yang sedang tidur. Sedangkan mengeraskan suara dalam berdzikir itu lebih utama pada selain dua kondisi tersebut karena: pebuatan yang dilakukan lebih banyak, faidah dari berdzikir dengan suara keras itu bisa memberikan pengaruh yang mendalam kepada pendengarnya, bisa mengingatkan hati orang yang berdzikir, memusatkan perhatiannya untuk melakukan perenungan terhadap dzikir tersebut, mengarahkan pendenganrannya kepada dzikir terebut, menghilankan kantuk dan menambah semangatnya”. (Abu al-Fida` Ismail Haqqi, Ruh al-Bayan, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 3, h. 306).
2.      Imam Malik menyatakan bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah bid’ah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitabnya Fathul Baari.
3.      Syaikh Ibnu Saini bin Musa Rahimahullah dan Syaikh Abdul Hakim Bin Amir Abdat bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah bid'ah atau minimalnya makruh, berdasarkan Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.”
4.      Imam Syafi'i dalam Kitabnya Al-Umm: “Aku menganggap bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan (mengeraskan) suaranya sedikit tatkala dzikir setelah shalat adalah untuk mengajari para sahabat. Karena kebanyakan riwayat yang aku tulis dan riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau tidak berdzikir dengan tahlil dan takbir setelah salam. Dan terkadang beliau juga berdzikir dengan tata cara yang pernah disebutkan”.
5.      Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sa`il halaman 79, menyebutkan beberapa dampak yang kurang baik dari mengeraskan dzikir, diantaranya: Orang yang berdzikir akan terganggu oleh dzikir orang lain jika semuanya mengangkat suara, khususnya kalau susunan dzikirnya berbeda-beda. Kemudian akan mengganggu orang-orang yang masbuq, yakni yang terlambat dalam shalat, kemudian juga mengganggu orang yang melakukan shalat sunnah (orang yang shalat sunnah setelah shalat wajib tanpa dzikir karena ada keperluan yang mendesak atau yang lainnya).

Dengan demikian, masalah berdzikir dengan suara jahr (keras ) atau sirr (lembut, samar) setelah usai salat fardhu adalah termasuk persoalan ijtihadiyah di kalangan ulama, yang masing-masing berpegang kepada dalil yang shahih, oleh karenanya kita hendaknya mengedepankan sikap saling menghormati terhadap masing masing pendapat, tanpa menjadikannya sebagai alat pemecah belah, sehingga umat Islam tidak mudah di hadap-hadapkan dan dibenturkan antar sesama iman,  hanya karena persolalan ijtihadiyah.
Disamping itu sebagai generasi yang cerdas hendaknya kita mampu meluaskan wawasan kita terutama atas dalil dalil yang yang lebih rajih (kuat) dengan cara mengkaji dan mempelajari seteliti mungkin dengan tanpa mengabaikan pendapat2 ulama yg benar-benar ahli dalam bidangnya agar kita benar benar punya pegangan kuat dalam ber-ittiba’ (mengikuti) cara beribadahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga bermanfaat.

Babussalam Socah, 3 Desember 2018.

Disarikan dari berbagai sumber:




Share:

Saturday, November 24, 2018

Bersholawat Pada Nabi

Oleh : Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed, Apt.
(Ketua Pembina Yayasan Babussalam Socah)




Peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seringkali kita mendengar ajakan untuk bershalawat pada Nabi. Padahal Shalawat nabi seyogyanya tidak hanya dilantunkan dalam rangka Maulid Nabi saja, karena kita diperintahkan untuk bershalawat pada Nabi setiap saat. Ucapan shalawat dan salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa kita haturkan kapan saja.
Beberapa dalil  menunjukkan bahwa kita diperintahkan bershalawat setiap kesempatan,  pada waktu tertentu, dan tempat tertentu.
Secara umum shalawat untuk Nabi, terbagi menjadi:


Pertama, shalawat mutlak
Shalawat ini dikerjakan di setiap kesempatan, tanpa batas waktu dan tempat tertentu.
Kita dianjurkan untuk banyak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya”
(Qs. Al- Ahzab: 56).
Semakin banyak shalawat yang kita lantunkan, semakin besar peluang untuk mendapat keistimewaan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda,
أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً
“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan Al-Albani).


Kedua, shalawat muqayyad
Shalawat muqayyad, adalah shalawat yang dikerjakan pada kesempatan khusus, baik dikerjakan pada waktu tertentu atau ketika melakukan amal tertentu. Ada beberapa keadaan, dimana kita dianjurkan untuk membaca shalawat:

1). Ketika tasyahud awal atau akhir.

Shalawat pada saat tasyahud awal hukumnya dianjurkan, sedangkan ketika tasyahud akhir hukumnya wajib.
Dari Ka’ab bin Ujrah, bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara shalawat ketika shalat.
Beliau menjawab, _‘Ucapkanlah:_
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.”
(Muttafaqun ‘alaihi).

2). Shalawat setelah kumandang azan dan iqamah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.”
(HR. Muslim no. 384).
Mengenai amalan sesudah mendengarkan azan disebutkan pula dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.”
(HR.Bukhari no. 614 )
Ada juga amalan sesudah mendengarkan azan jika diamalkan akan mendapatkan ampunan dari dosa. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.”
(HR. Muslim no. 386)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ

“Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).”
(HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2: 172). 

Intinya, ada lima hal yang dilakukan oleh yang mendengarkan azan sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim: 
a)    mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin, 
b)    bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
c)    minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah, 
d)    membaca radhitu billahi robba … sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, 
e)    memanjatkan doa sesuai yang diinginkan.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda*
إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوامِثْلَ مَا يَقُولُ ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemudian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.”
(HR. Muslim)

3). Ketika hari jumat.
Sejak malam hari jumat, sampai selesai siang hari jumat, kita dianjurkan memperbanyak membaca shalawat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ …. فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
“Sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari jumat. Pada hari ini, Adam diciptakan… karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian ditunjukkan kepadaku.”
(HR. Nasa’I, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan Al-Albani).

4). Setiap pagi dan sore.
Setiap pagi dan sore, kita dianjurkan membaca shalawat minimal 10 kali.
Dari Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من صلى على حين يصبح عشرًا و حين يمسي عشرًا ، أدركته شفاعتي يوم القيامة
“Barangsiapa yang memberikan shalawat kepadaku ketika subuh 10 kali dan ketika sore 10 kali maka dia akan mendapat syafaatku pada hari qiyamat.”
(HR. At Thabrani dan dishahihkan Al Albani).

5). Ketika menghadiri dan akan meninggalkan Majelis.
Ketika kita berkumpul bersama banyak jamaah untuk membahas sebuah kajian, jangan lupa disertai dengan shalawat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ
“Jika ada sekelompok kaum yang duduk bersama dan tidak mengingat Allah serta tidak memberi shalawat kepada nabi mereka maka itu akan menjadi bahan penyesalan baginya. Jika Allah berkehendak, Allah akan menghukum mereka, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.”
(HR. Ahmad dan Turmudzi).
Pada saat meninggalkan majelis, bacalah shalawat.
Dari Utsman bin Umar, beliau mengatakan,
سمعت سفيان بن سعيد ما لا احصي إذا اراد القيام يقول صلى الله وملائكته على محمد وعلى انبياء الله وملائكته
Aku mendengar Sufyan bin Said berkali-kali sampai tidak bisa kuhitung, setiap beliau hendak meninggalkan majelis, beliau membaca: “Semoga shalawat Allah dan para malaikatnya tercurah untuk Muhammad dan kepada para nabi Allah dan malaikatnya.”


6). Bershalawat ketika berdoa.
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ada tiga tingkatan dalam bershalawat saat doa:
a)    Bershalawat sebelum memanjatkan doa setelah memuji Allah.
b)    Bershalawat di awal, pertengahan dan akhir doa.
c)    Bershalawat di awal dan di akhir, lalu menjadikan hajat yang diminta di pertengahan doa.
Mengenai perintah bershalawat saat akan memanjatkan doa disebutkan dalam hadits Fudholah bin ‘Ubaid, ia berkata,
سَمِعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلَ هَذَا ». ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan pada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mintalah doa yang diinginkan.”
(HR. Tirmidzi no. 3477 dan Abu Daud no. 1481).
Ibnul Qayyim menyatakan pula bahwa membaca shalawat pada saat berdoa, kedudukannya seperti membaca Al Fatihah dalam shalat. Jadi pembuka doa adalah shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk shalat, pembukanya adalah dengan bersuci.
Dari Zirr, dari ‘Abdullah, ia berkata,
كُنْتُ أُصَلِّى وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْتُ بَدَأْتُ بِالثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ دَعَوْتُ لِنَفْسِى فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- سَلْ تُعْطَهْ سَلْ تُعْطَهْ
“Aku pernah shalat dan kala itu Abu Bakr dan ‘Umar bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku duduk, aku memulai doaku dengan memuji Allah, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku berdoa untuk diriku sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah, engkau akan diberi.”
(HR. Tirmidzi no. 593). 
‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-
“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat pada Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam”
(HR. Tirmidzi no. 486. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini hasan).
Lakukanlah adab berdoa: 
a)    memuji Allah terlebih dahulu,
b)    bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
c)    memanjatkan doa yang diinginkan,
d)    menutup dengan shalawat dan sanjungan pada Allah.
Semoga setiap doa kita dikabulkan oleh Allah.


7). Bershalawat ketika masuk dan keluar masjid.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِىِّ وَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ اعْصِمْنِى مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka ucapkanlah salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ucapkanlah ‘Allahummaftah lii abwaaba rohmatik’ (artinya: Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu). Kemudian saat keluar, ucapkanlah salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ucapkanlah ‘Allahumma’shimnii minasy syaithonir rojiim’ (artinya: Ya Allah, lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk).”
(HR. Ibnu Majah no. 773. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dari Fatimah, puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid, beliau mengucapkan,
بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Bismillah wassalaamu ‘ala rosulillah. Allahummaghfir lii dzunuubi waftahlii abwaaba rohmatik (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu).” Lalu ketika keluar masjid, beliau mengucapkan,
بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ
“Bismillah wassalaamu ‘ala rosulillah. Allahummaghfir lii dzunuubi waftahlii abwabaa fadhlik (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).”
(HR. Ibnu Majah no. 771 dan Tirmidzi no. 314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


8). Bershalawat ketika khutbah yaitu saat khutbah Jumat, khutbah ied, khutbah istisqa’ (minta hujan) dan khutbah lainnya.
Bershalawat dalam khutbah berdasarkan firman Allah Ta’ala,
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1)  وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3)  وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4)
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”
(QS. Asy Syarh: 1-4).
Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa Allah meninggikan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika nama-Nya disebut, maka disandingkan pula dengan nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun dalil bahwa shalawat itu dibacakan ketika khutbah, hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Abdullah bin Ahmad, dari ‘Aun bin Abi Juhaifah bahwa ayahnya yang pernah menjadi petugas keamanan dari sahabat ‘Ali bin Abi Tholib menyatakan bahwa dahulu ia di bawah mimbar, ia menyaksikan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu saat itu sedang naik mimbar. Di awalnya, Ali menyanjung Allah, bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Ali mengatakan bahwa generasi terbaik dari umat ini setelah nabinya yaitu Abu Bakr, lalu Umar. Allah menganugerahkan pada mereka kebaikan sesuai yang Dia kehendaki. (Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad 1: 106 dan Al Khotib Al Baghdadiy dalam Tarikh Baghdad 10: 114).


9). Bershalawat di Bukit Shafa dan Marwah (Saat Sa’i untuk Haji dan Umrah).
Diceritakan bahwa Ibnu ‘Umar berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir di Shafa tiga kali. Lalu beliau mengucapkan ‘laa ilaha illallallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir’, lalu beliau bershalawat, kemudian beliau berdoa dengan memperlama berdiri dan doa tersebut. Yang dilakukan kala di Marwah juga semisal itu.
(HR. Ismai’il Al Qadhi dalam keutamaan shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 87. Zaid bin Ahmad An Nusyairiy mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dalam doa secara umum ada perintah untuk bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Wahb bin Al Ajda’, ia berkata bahwa ia pernah mendengar ‘Umar bin Al Khattab berkhutbah di Makkah, lantas ia berkata, “Jika seseorang di antara kalian berhaji, lakukanlah thawaf keliling Ka’bah. Setelah itu lakukanlah shalat dua raka’at di belakang Maqom Ibrahim. Kemudian ciumlah hajar Aswad. Lalu mulailah (sa’i) dari Shafa dengan berdiri di bukit tersebut sambil menghadap Ka’bah, saat itu bertakbir tujuh kali, antara setiap dua takbir itu ada sanjungan dan pujian pada Allah Ta’ala. Kemudian bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berdoa untuk diri sendiri. Yang dilakukan di bukit Marwah semisal itu pula”.
(HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 5: 94 dan Isma’il Al Qadhi dalam keutamaan shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 81. Zaid bin Ahmad An Nusyairiy mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
10). Bershalawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ
“Sungguh celaka, orang yang disebut namaku di sisinya lantas ia tidak bershalawat untukku”.
(HR. Tirmidzi no. 3545. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Dari ‘Ali bin Abi Tholib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ
“Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.”
(HR. Tirmidzi no. 3546. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Semoga kita termasuk orang yang setiap nama nabi kita disebut, kita bershalawat untuk beliau: Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam.


11). Bershalawat ketika bangun dari tidur malam.

An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kabir, ia berkata, telah menceritakan padaku ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali, telah menceritakan pada kami Khalaf yaitu Ibnu Tamim, telah menceritakan pada kami Abul Ahwash, telah menceritakan pada kami Syarik, dari Abu Ishaq, dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Allah itu menertawai dua orang. Orang pertama adalah orang yang bertemu musuh. Ia terus berada di atas kudanya kala teman-temannya terpukul mundur. Ia tetap terus kokoh. Jika ia terbunuh, ia mati syahid. Jika ia tetap hidup, itulah yang Allah menertawainya.
Orang kedua adalah orang yang bangun di tengah malam, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia menyempurnakan wudhu, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah serta mengagungkan-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia membuka Al-Qur’an. Itulah yang Allah menertawainya. Allah berfirman, “Lihatlah pada hamba-Ku yang berdiri shalat malam tanpa dilihat oleh seorang pun selain Aku.”

12). Setelah takbir kedua dari shalat jenazah.
Dalil yang menunjukkan adanya perintah membaca shalawat dalam shalat jenazah,
عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
Dari Ma’mar, dari Az Zuhriy, telah diceritakan dari Abu Umamah bin Sahl bahwa ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan padanya:
Yang ada dalam shalat jenazah, imam itu bertakbir, lalu membaca Al Fatihah setelah takbir pertama secara lirih yang didengar dirinya sendiri, kemudian bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beberapa takbir berikutnya menujukan doa yang murni untuk mayit, tidak ada bacaan (surat) pada takbir-takbir tersebut. Kemudian mengucapkan salam secara lirih untuk dirinya sendiri.
(HR. Al Baihaqi 4: 39).

Keutamaan Shalawat
Keutamaan yang akan didapat oleh orang-orang yang mengamalkan bershalawat pada Nabi adalah:
Pertama, dikabulkan doanya. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki."
(HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Dalam hadis yang lain, "Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya."
(HR Thabrani).
Kedua, dijanjikan pahala berlipat. Rasuullah SAW bersabda, "Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali."
(HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Ketiga, diangkat derajatnya.
Pada suatu pagi Rasulullah tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahnya. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, pagi ini Engkau tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahmu." Beliau bersabda, "Memang benar. Semalam aku ditemui oleh seorang utusan Tuhanku Yang Mahaagung. Dia berkata, 'Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula'."
(HR Ahmad).
Keempat, dikumpulkan di surga bersama Nabi.
Rasulullah SAW bersabda, "Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku."
(HR Tirmidzi).
Kelima, mendapatkan syafaat Nabi.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat."
(HR Muslim).
Semoga Allah meringankan lisan kita untuk selalu membaca shalawat kepada Nabi SAW dan meraih keutamaannya.
Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.
Baarokallahu fiikum.

(Disarikan dari berbagai berbagai sumber).
Babussalam Socah, 21 November 2018.

Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah