ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Thursday, July 19, 2018

PERILAKU MUSLIM : TABAYYUN

Oleh : Prof. Dr. H. Maksum Radji, M. Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)

Seorang muslim merupakan cerminan tentang agama yang dianutnya, artinya bahwa agama Islam akan menjadi baik, memiliki citra yang baik dimata seluruh kaum muslimin, apalagi di mata orang-orang beragama non-muslim, bilamana akhlaq pemeluk agama Islam sangat baik.
Namun kadang dalam kehidupan internal ummat Islam terjadi perselisihan antar sesama dan bahkan berakibat kepada perpecahan. Saling tuduh, saling fitnah, bahkan saling memerangi. Hal tersebut seringkali disebabkan masing-masing pihak kurang dapat mengendalikan diri, dan kurang mampu menyaring informasi yang mereka dapat dari pihak lain,terutama di era informasi digital akhir zaman ini.

Allah SWT berfirman dalam al Quran surat al Hujurat ayat 6 :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
  "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.”

Perintah "tabayyun" atau mendalami masalah, merupakan peringatan, jangan sampai umat Islam melakukan tindakan yang menimbulkan dosa dan penyesalan akibat keputusannya yang tidak adil atau merugikan pihak lain.
Di dalam al Qur’an, perintah tabayyun juga terdapat pada QS. al Hujurat :6.
Dalam ayat tersebut tersirat suatu perintah Allah, bahwa setiap mukmin, yang sedang berjihad fi sabilillah hendaknya bersikap hati-hati dan teliti terhadap orang lain. Jangan tergesa-gesa menuduh orang lain, apalagi tuduhan itu diikuti dengan tindakan yang bersifat merusak atau kekerasan.

Pengertian tabayyun.

Tabayyun adalah melakukan kegiatan yang berupaya mendalami dan memecahkan suatu persoalan dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan.

Ciri metode ilmiah yang lazim dilakukan adalah:

  1. Rasional; berpijak pada cara berpikir rasional.
  2. Obyektif; apapun yang ditelaah atau kaji harus sesuai dengan objeknya.
  3. Empiris; obyek yang dikaji merupakan realitas atau kenyataan yang dialami manusia.
  4. Kebenaran atau simpulannya bisa diuji. Bahwa kebenaran teori-teori atau hukum yang      diperoleh melalui proses analisa, harus sanggup diuji oleh siapa saja.
  5. Sistematis, semua unsur dalam proses kajian harus menjadi kebulatan yang konsisten.
  6. Bebas; dalam penganalisaan fakta-fakta, seseorang harus dalam keadaan bebas dari segala tekanan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pihak tertentu.
  7. Berasas manfaaf; kesimpulannya harus bersifat umum dan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dalam dakwah.
  8. Relatif; apa yang ditemukan atau yang disimpulkan tidak dimutlakkan kebenarannya, dalam arti memungkinkan untuk diuji oleh temuan berikutnya atau temuan orang lain.

Melakukan tabayyun dalam arti penelitian tersebut sudah lama melekat dalam tradisi keilmuan Islam. Sejarah kebudayaan Islam, yang diwarnai oleh temuan para sarjana-sarjana muslim macam Al Faraby, Al Khawarizmi, Ibn Khaldun, Imam Gazali, dan banyak lagi para ilmuwan abad pertengahan, telah mengembangkan model-model riset seperti itu.
Ibnu Khaldun membagi model-model riset menurut Islam, seperti berikut:

  1. Riset Bayani; yakni penelitian yang ditujukan untuk mengenali gejala alam dengan segala gerak-gerik dan prosesnya. Misalnya, mengenai kenapa kupu-kupu berwarna-warni; kenapa ikan terdiri bergaman jenis dan bagaimana cara hidup dan pola makananya.

  1. Riset Istiqra’i: Yaitu penelitian yang ditujukan untuk mencari kejelasan pola-pola kebudayaan dan kehidupan sosial manusia. Ini yang kemudian berkembang menjadi riset ilmu sosial.

  1. Riset Jadali: yakni riset yang dimaksudkan untuk mencari hakekat atau kebenaran yang didasarkan oleh cara berpikir rasional. Di sana biasa digunakan ilmu mantiq dan filsafat.

  1. Riset Burhani: yakni riset eksperimental. Misalnya, atas temuan dan pengembangan obat dan terapi tertentu, memerlukan tes di laboratorium meliputi uji biomedik dan uji klinik. Contoh lain adalah melakukan uji coba terhadap  metode baru dalam pembelajaran terhadap siswa-siswa sekolah.

  1. Riset Irfani: riset yang secara spesifik menjelajah hakekat ajaran Islam. Pada gilirannya menghasilkan ilmu tasawuf.


Tabayyun dalam Nash-nash Syar`i

  1. Tabayyun dalam Alquran.

Kata tabayyun dan derivasinya disebutkan sebanyak kurang lebih 17 kali yang berkisar pada makna menjadi jelas dan carilah kejelasan. Hanya saja, bentuk kata yang disebutkan adalah berupa kata kerja (fi`il) bukan kata benda atau sifat.
Contoh penyebutan kata tabayyun dalam Alquran adalah firman Allah,
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata (tabayyana) bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109). 

Dan firman-Nya,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
 “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan (latubayyinunnahu) isi kitab itu kepada manusia.” (Âli Imrân: 187).

  1. Tabayun dalam Sunnah.
Tabayyun dalam Sunnah memiliki makna yang sama seperti dalam Alquran. Misalnya sabda Rasulullah SAW.,
Jika seorang budak perempuan berzina dan terbukti (menjadi jelas) perbuatannya itu, maka cambuklah dia.” (HR. Bukhari).

Pengtingnya sifat Tabayyun.

Tabayyun merupakan salah satu sikap yang sangat penting untuk selalu dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak pertikaian dan perselisihan baik dalam skala terkecil, seperti antar dua orang individu, hingga skala terbesar, seperti peperangan global, disebabkan oleh tuduhan-tuduhan tidak benar atau pemahaman keliru dalam membaca sikap pihak lain.

Di dalam Alquran, perintah melakukan tabayyun secara eksplisit dinyatakan oleh Allah di dua tempat dalam Alquran, yaitu dalam surah an-Nisâ’ ayat 94 dan surah al-Hujurât ayat 6.

  1. Perintah tabayyun dalam surah an-Nisâ ayat 94. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Ayat ini merupakan perintah kepada kaum muslimin yang melakukan jihad di jalan Allah agar tidak tergesa-gesa dalam menyerang lawannya hingga benar-benar telah jelas dan terbukti bahwa mereka adalah orang kafir dan layak untuk diperangi. Bahkan, Allah melarang membunuh seseorang yang mengaku beriman hanya karena kaum muslimin meragukan pengakuannya tersebut. 

  1. Perintah tabayun dalam surah al-Hujurât ayat 6. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 
Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar seseorang tidak bersegera membenarkan berita yang dibawa oleh seorang fasik hingga ia benar-benar meneliti dan mengecek kebenarannya. 

Bagi seorang aktifis dakwah sifat tabayyun mutlak diperlukan agar semua tindakannya tidak terjebak pada penilaian dan pemahaman yang keliru.  Hal itu tidak lain karena seluruh ucapan dan tindakannya akan menjadi contoh pada masyarakat, sehingga jika penilaiannya yang keliru itu tersebar maka ia akan menanggung beban dosa akibat perbuatannya tersebut. 


Keutamaan dan Hikmah Tabayyun.

Tabayyun memiliki beberapa keutamaan diantaranya adalah:

  1. Petanda kematangan akal dan cara berfikir seseorang.
  2. Menjaga kehormatan dan ketentraman masyarakat dari keputusan yang tergesa-gesa dan tanpa didasarkan pada studi dan penelitian.

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri.
  2. Menjauhkan keraguan dan mampu menganalisis dengan bijak informasi yang benar dan bermanfaat. 

Adapun  hikmah tabayyun adalah:

  1. memperluas wawasan. Karena salah satu aspek dalam tabayyun adalah melakukan telaah dengan membandingkan suatu data dengan data yang lain, dan mengkaitkan dengan sekian banyak referensi. Sebelum akhirnya menarik kesimpulan.

  1. Mengusung pendalaman pengetahuan. Mengetahui secara mendalam atas sesuatu masalah akan menumbuhkan kearifan tersendiri dalam bertindak.

  1. Pengujian atas kebenaran informasi. Terlebih lagi, informasi yang hanya berdasar isu, sudah seharusnya dikonfirmasi, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman; Adakalanya juga suatu informasi sudah diyakini kebenarannya, namun tidak tersedia data yang lengkap dan akurat untuk membuktikan kebenaran itu. Maka melalui tabayyun, akan memperkuat keyakinan akan kebenaran informasi tersebut.

Tabayyun yang berhasil adalah apabila mampu mengungkapkan fakta yang bisa dijamin akurasinya, dan analisis yang jernih. 
Kejernihan berpikir dalam menghadapi suatu fakta akan membangun kearifan dalam bertindak. Termasuk kearifan dalam berdakwah. Kebenaran-kebenaran informasi yang dihasilkan melalui proses yang obyektif, diharapkan juga akan membangun sikap toleran terhadap orang lain, yang sama-sama menjunjung tinggi obyektivitas.

Dalam kaitan dengan aktivitas dakwah juga, tabayyun membantu ketepatan dalam memilih sasaran dakwah. Pengetahuan yang benar yang diperoleh dari hasil penelitian, terutama menyangkut masyarakat yang akan dijadikan sasaran dakwah, akan sangat membantu ketepatan dalam memilih metode berdakwah.

Tabayyun dalam Menerima Informasi.

Perlu dimaklumi bahwa berita yang kita dengar dan kita baca mungkin tidak semuanya benar. Terlebih lagi kita hidup pada zaman yang banyak terjadi fitnah, hasud, ambisi kedudukan, bohong atas nama ulama, baik itu dilakukan melalui internet, koran, majalah maupun media masa lainnya. Berita berita tersebut perlu disikapi dengan baik, terutama yang kemungkinannya dapat merusak aqidah ajaran Islam dan pemeluknya.

Sikap yang benar yang harus dilakukan agar kita tidak terpancing oleh berita fitnah ialah sebagaimana ajaran Islam membimbing kita, di antaranya:

  1. Tidak semua berita harus kita dengar dan kita baca, khususnya berita yang membahas aib dan membahayakan pikiran.

  1. Tidak terburu-buru dalam menanggapi berita, akan tetapi diperlukan tabayyun dan pelan-pelan dalam menelusurinya.
Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Pelan-pelan itu dari Alloh, sedangkan terburu-buru itu dari setan.” (Musnad Abu Ya’la: 7/247, dishohihkan oleh al-Albani: 4/404).

Seorang mu'min hendaknya kita pelan-pelan dalam menanggapi suatu perkataan, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa, dan hendaknya tabayyun. Sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa Jalla dalam QS. al-Hujurot [49]: 6 dan QS. an-Nisa [4]: 94.”

  1. Waspada terhadap pertanyaan yang memancing, karena tidak semua penanya bermaksud baik kepada yang ditanya, terutama ketika menghukumi seseorang. Oleh karena itu perlu berhati-hari dalam menjawab pertanyaan. Bahkan menjawab ‘saya tidak tahu’ adalah separuh dari pada ilmu.

  1. Hendaknya waspada menanggapi berita pelecehan terhadap ulama Sunnah terutama pada zaman sekarang, di mana hawa nafsu dan fanatik golongan menutupi kebenaran.

  1. Hendaknya waspada mendengar berita yang disebarkan oleh pihak yang berprasangka buruk. Alloh ‘Azza wa Jalla menyuruh kita agar berbaik sangka dan menjauhi buruk sangka. (Baca QS. al-Hujurot [49]: 12).
Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. al-Bukhori: 5144).

  1. Jauhilah berita yang bersumber dari peng-ghibah dan pemfitnah.
Ada orang yang datang kepada Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, dia menjelaskan kejelekan orang lain, lalu Umar rahimahullah berkata: “Jika kamu mau, kami akan periksa dahulu berita darimu ini, jika kamu pendusta maka kamu di dalam QS. al-Hujurot: 6, dan jika kamu benar maka kamu termasuk firman Allah ‘Azza wa Jalla:
Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. al-Qolam [68]: 11)
Jika kamu mau, aku maafkan kesalahanmu.” Lalu orang itu berkata: “Saya memilih dimaafkan wahai Amirul Mukminin dan saya tidak akan mengulangi perkataan ini lagi.”

  1. Waspadalah dari berita orang yang mengumbar lisannya tanpa ilmu dan tidak takut dosa. Orang Islam hendaknya tidak membicarakan sesuatu yang dia tidak tahu perkaranya, karena Allah ‘Azza wa Jalla mengancam orang yang berbuat dan berbicara tanpa ilmu.
(QS. al-Isro’[17]: 36 dan QS. al-A’rof [7]: 33).

Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu kita harus  lebih meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya.
Allah swt berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
 “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS: Qaaf: 18).

Oleh sebab itu, sikap yang terbaik dari seorang mukmin dalam menerima informasi adalah tetap berbaik sangka terhadap sesama mukmin, dan senantiasa berwaspada terhadap orang-orang yang fasik, apalagi terhadap musuh Allah yang jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh umat Islam.
وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ
Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS: An-Nur: 16).

Subhaanallaah!
Betapa indahnya jika kita dapat mengambil fadilah dari Tabayyun.
Semoga kita terhindar dari penyesalan dan kerugian.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Semoga bermanfaat

Share:

Monday, July 16, 2018

PERILAKU MUSLIM : TAWADHU'

oleh : Prof. Dr. H. Maksum Radji, M. Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun tidak banyak orang yang benar-benar memilikinya.
Menurut Ibnu Hajar, “Tawadhu’ adalah menampakkan hati lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya.
Tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.”
(Fathul Bari, 11: 341).

Pengertian Tawadhu

Al Hasan Al Basyri berkata, “Tawadhu’ adalah jika engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim, maka engkau merasa bahwa ia lebih mulia dari mu.

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.”
(Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304).

Basyr bin Al Harits berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.”
Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.

Abdullah bin Al Mubarrok berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu
dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.”
(Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298).

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya.
Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”

Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), dan kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”

Urwah bin Al Warid berkata, “Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat
tawadhu’.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”

Ziyad An Numari berkata, “Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”

Keutamaan Tawadhu’

Pertama:
Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim no 2588).

Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.  Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan
dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia.
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142).

Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi.

Kedua:
Adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah bersabda,
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”
(HR. Muslim no. 2865).

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al
Ahzab: 21).

Anas berkata: “Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.”
(HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459).

Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.

Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah
yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?”
Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.”
(HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam
kitab shahihnya no. 5676).

Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.

“Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta
(Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau).”
(HR. Muslim no 771).

Wallahu A'lam bisshawab.

Semoga bermanfaat.

Depok, Akhir Juni  2018.
Share:

Wednesday, July 4, 2018

REVITALISASI MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN UMAT


Oleh : Prof Dr. H. Maksum Radji, M.Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)


Masjid memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah Islam dan penyebaran syiar agama Islam. Masjid merupakan tempat didirikan sholat berjama’ah dan berbagai kegiatan kaum muslimin. Manusia yang mampu membawa kemaslahatan terhadap umat Islam, adalah mereka yg mencintai masjid.

Keutamaan Masjid
Masjid merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini. Di sanalah tempat peribadatan seorang hamba kepada Allah, memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata. Dari sanalah titik pangkal penyebaran tauhid. Allah telah memuliakan masjid-masjid-Nya dengan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin: 18)
Tidak ada tempat yang lebih baik dari pada masjid Allah di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai oleh Allah dalam suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)
Masjid adalah pasar akhirat, tempat bertransaksinya seorang hamba dengan Allah. Di mana Allah telah menawarkan balasan surga dan berbagai kenikmatan di dalamnya bagi mereka yang sukses dalam transaksinya dengan Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”.
Orang yang membangun masjid, dengan ikhlas karena mengharap ganjaran dari Allah ta’ala akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membangun masjid, ikhlas karena mengharap wajah Allah ta’ala, maka Allah ta’ala akan membangunkan rumah yang semisal di dalam surga.”  (Muttafaqun’alaihi).
Masjid dan Dakwah Islam
Dahulu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berjihad, berperang melawan orang-orang kafir, sebelum beliau menyerang suatu negeri, beliau mencari apakah ada kumandang suara adzan dari negeri tersebut atau tidak. Apabila beliau mendegar adzan maka beliau tidak jadi menyerang, namun bila tidak mendengar maka beliau akan menyerang negeri tersebut. (Muttafaqun ’alaihi)
Hal ini menunjukkan bahwa syiar-syiar agama yang nampak dari masjid-masjid kaum muslimin merupakan pembeda manakah negeri kaum muslimin dan manakah negeri orang-orang kafir. Adanya masjid dan makmurnya masjid tersebut dengan berbagai syiar agama Islam, semisal adzan, sholat jama’ah dan syiar lainnya, merupakan ciri bahwa negeri tersebut begeri kaum muslimin.

Memakmurkan Masjid
Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan masjid Allah, yaitu dengan cara mengisinya dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir maupun batin. Secara batin, yaitu memakmurkan masjid dengan sholat jama’ah, tilawah Al quran, dzikir yang syar’i, belajar dan mengajarkan ilmu agama, kajian-kajian ilmu dan berbagai ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga terhindar dari kotoran dan gangguan lainnya. Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk dibersihkan dan diberi wangi-wangian.
(Shohih Ibnu Hibban).

Peran Masjid di Zaman Rasulullah SAW
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, masjid memainkan peranan penting dalam menjalankan fungsinya sebagai Pusat peradaban Islam dan pembinaan umat.
Ketika Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang pertama dilakukan Nabi adalah membangun masjid Quba. Tidak lama setelah itu Nabi Muhammad membangun masjid Nabawi.
Pada zaman Nabi Muhammad, Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadat magdhah, seperti shalat dan zikir, tetapi masjid juga sebagai tempat pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, dan sebagai pusat syiar agama. Dari pembinaan yang dilakukan Rasulullah di masjid itu lahirlah tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam ke seantero dunia, seperti Abu Bakar shiddiq, Umar bin al-Khatab, Usman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Masjid di zaman Nabi merupakan pusat pembinaan ruhiyah (tarbiyah ruhiyah) umat Islam. Di masjid ini ditegakan shalat lima waktu secara berjama’ah. Masjid berperan untuk membina dan meningkatkan kekuatan ruhiyah (keimanan) umat Islam. 
Allah berfirman dalam surat An-Nur; 36-37:
فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ  اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ ۙ  يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ
"(Cahaya itu) di rumah-rumah (Masjid), yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,"
(QS. An-Nur 24: Ayat 36).
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ  ۙ  يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ 
"orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),"
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)
Masjid sebenarnya merupakan “kolam-kolam spiritual” yang akan menghilangkan dahaga spiritual setiap muslim. Tujuan didirikannya suatu masjid tercermin dalam kalimat-kalimat azan yang dikumandangkan oleh muazzin.  Tujuan mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah, (QS.Thaha; 14). Mengingat Allah merupakan cara yang tepat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan pikiran.
Allah SWT berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ  ۗ  اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28).

Oleh karena itu masjid merupakan tempat yang ideal untuk menenangkan hati dan pikiran.
Masjid  juga berperan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Di masjid, Nabi mendidik para sahabatnya dan mengajarkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Di Masjid dilatih para da’i untuk kemudian dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan Islam kepada penduduknya.   Masjid juga menjadi pusat pengembangan kebudayaan dalam semua aspek kehidupan.  Tidaklah mengherankan kalau pada masa selanjutnya masjid menjadi pusat berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Misalnya, universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang terkenal itu, pada mulanya merupakan kegiatan belajar di masjid Al-Azhar yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah.
Masjid Nabawi di Madinah juga berperan sebagai pusat kegiatan sosial,  tempat memberi santuan kepada fakir miskin, penyelesaian masalah perselisihan yang terjadi pada  masyarakat.
Masjid juga menjadi pusat pengobatan. Di masjid pula Nabi memberi pengarahan dan instruksi kepada para tentara yang akan dikirim ke suatu tempat untuk berperang. Masjid juga digunakan sebagai tempat bertemunya pemimpin dengan rakyatnya untuk bermusyawarah membicarakan berbagai kepentingan bersama. Di masjid juga Nabi menerima delegasi dari luar negeri dan mengirim utusannya ke luar negeri. Di masjid para sahabat berlatih berperang dengan disaksikan oleh Nabi Muhammad.
Sebagai pusat kegiatan-legiatan ekonomi umat, di masjid dibangun  Baitul Mal, dihimpun harta dari orang-orang kaya kemudian didistribusikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan uluran dana lainnya.
Namun Nabi melarang setiap muslim melakukan praktek jual beli di dalam masjid, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh imam An-Nasa-iy dan at-Turmudzi dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: ”Bila kamu melihat orang-orang yang melakukan praktek jual beli di dalam masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan dalam jual-belimu itu”.
Aktivitas jual beli yang dilakukan di luar masjid dan tidak mengganggu ibadah shalat dibolehkan oleh para ulama berdasarkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah; 10: ”Bila shalat (jum’at) telah selesai didirikan, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi ini , carilah karunia (rezeki) Allah dan perbanyaklah mengingat Allah”.
Itulah peran dan fungsi masjid yang telah Rasulullah contohkan. Ternyata fungsi dan peran masjid tidak hanya sebatas tempat melakukan kegiatan ibadah maghdah saja, tetapi segala kegiatan yang menyangkut persoalan ummat Islam dapat dilakukan dimasjid.

Mengembalikan Fungsi Masjid
Melihat fenomena peran Masjid saat ini, terutama di Indonesia, yang tidak sesuai dengan peran dan fungsi Masjid pada zaman Rasulullah, maka perlu adanya tindakan konkrit untuk segera mengembalikan fungsi masjid.
Untuk itu, diperlukan langkah-langkah inovatif sehingga masjid dapat menjadi pusat peradaban Islam. 
1. Menggerakkan Majlis Taklim Yang Ada Didalamnya.
Untuk menghindari kejenuhan jemaah, tidak ada salahnya jika tema-temanya dekat dengan kehidupan sehari-harijemaah dan bagaimana Islam memandang hal tersebut . Misalnya: Tips sehat ala Rasulullah, Pacaran dalam kacamata Islam dan lain-lain.
2. Mengadakan Berbagai Jenis Pelatihan dan Seminar.
Berbagai pelatihan dan seminar perlu dilaksanakan untuk mengupgrade kemampuan pengurus masjid maupun jemaah. Banyak hal yang bisa dilaksanakan seperti seminar keluarga Islami, seminar parenting, seminar zakat, pelatihan manajemen masjid, pelatihan kepemimpinan, pelatihan mengurus jenazah, pelatihan jurnalistik, kursus bahasa dan lain sebagainya. Dengan diadakannya acara-acara diatas maka tidak ada lagi istilah masjid kosong tanpa kegiatan.
3. Mengikut sertakan Remaja.
Remaja adalah agent of change. Maju atau mundurnya ummat Islam di kemudian hari ditentukan oleh seperti apa remajanya hari ini. Tidak diragukan lagi remaja memiliki kelebihan yaitu fisik yang bugar, semangat tinggi, dan kecemerlangan pikiran. Potensi tersebut harus digali untuk hal-hal yang positif. Mereka harus didekatkan dengan masjid sejak dini. Sebab, ketika mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar maka sulit untuk mencegahnya.
Sasarannya nanti adalah remaja dapat berkontribusi dalam mengoptimalkan peran masjid. Potensi remaja dengan semangat dan tenaga baru ini harus diupayakan untuk turut serta dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang diadakan di masjid.
4. Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Ilmu.
Keberadaan perpustakaan masjid adalah suatu keniscayaan. Buku-buku yang dipajang disana haruslah buku-buku yang sangat dibutuhkan oleh jemaah. Tentu tidak hanya buku keagamaan belaka. Buku-buku lainnya juga harus tersedia agar pengetahuan jemaah masjid semakin bertambah. Jika setiap masjid yang ada memiliki perpustakaan maka tentu akan memudahkan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan. Kelebihannya adalah perpustakaan di masjid tidak membutuhkan birokrasi yang berbelit-belit. Ini ditujukan agar dapat kembalinya masa kejayaan Islam seperti dahulu dengan giatnya para pendahulu dalam membaca.
5. Bersinergi Dengan Pemerintah dan Masyarakat.
Tugas untuk mengoptimalkanperan masjid bukan hanya tugas pengurus masjid. Warga setempat harus turut membantu terlaksananya program yang telah dibuat pengurus. Disamping itu hal ini tentu tidak akan berjalan dengan baik bila pemerintah setempat atau birokrat yang ada tidak mendukung sepenuhnya.
Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam membantu mengoptimalkan peran masjid. Salah satunya adalah memberikan bantuan dana demi kelancaran pembangunan masjid dan terlaksananya program-program yang telah direncanakan. Jika pemerintah sudah turut andil tentu tugas berat yang dibebankan kepada pengurus masjid akan semakin berkurang. Dengan adanya perhatian pemerintah maka masjid-masjid yang ada tidak akan lagi ada yang sepi dari kegiatan dan jemaahnya. 
6. Mengoptimalkan Jalannya Pelaksanaan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
Selain ceramah serta pengajian, TPA juga memiliki peran penting dalam berjalannya peradaban Islam melalui pendidikan karakter. Sasaran dalam TPA adalah anak-anak usia dini yang merupakan asset masa depan. Selain diajarkan untuk membaca al-qur’an, para santri diberikan penanaman karakter, tentunya dalam Islam. Seorang anak harus sejak dini ditanamkan fondasi ke-Islaman yang kuat agar kedepannya dalam ber-Islam, ia bisa konsisten. Seperti halnya yang diajarkan Rasulullah bahwa pendidikan dimulai dengan Aqidah sebagai fondasi, ibadah, akhlak, serta dilanjutkan dengan mu’ammalah.

Syarat yang Harus Dipenuhi supaya Fungsi Masjid Bisa Kembali seperti yang Seharusnya
Setiap pengurus masjid harus mengetahui visi masjid sebenarnya, yakni visi kemakmuran. Pengurus masjid juga harus mampu menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan kegiatan masjid. Jamaah masjid perlu diperkuat agar peran pemberdayaan masyarakat bisa terpenuhi. Apabila ini terjadi, maka masjid bisa berkembang dalam segala hal.
Agar Masjid dapat  berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, baik dewasa, anak-anak, tua, muda, pria, wanita, yang terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya dan miskin.
Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan dan peralatan yang memadai untuk:
a.    Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan
b.    Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat, maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.
c.     Ruang pertemuan dan perpustakaan, serta keterhubungan dengan jaringan internet.
d.     Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan mayat.
e.    Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.
Komplek bangunan masjid harus dilengkapi berbagai sarana dan prasarana seperti asrama, ruang-ruang kelas untuk proses belajar mengajar, perpustakaan, ruang tamu khusus, layanan kesehatan, konsultasi, dan lain-lain. Selain mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah, penambahan sarana dan fasilitas masjid juga bertujuan agar jamaah merasa nyaman selama di masjid. Semua hal di atas meskipun diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun tetap mampu menunjang fungsi masjid yang ideal.
Sebuah Penelitian tentang Fungsi Masjid
Aziz Muslim, dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, meraih gelar doktor setelah meneliti fungsi lembaga masjid.
Ia melihat lembaga masjid dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan masjid apabila dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik meliputi hubungan kemitraan antara masjid, jamaah, dan masyarakat di lingkungan sekitar masjid baik. Sedang kemitraan yang dibangun mengarah pada hubungan yang mutualisme.
Kuatnya kemitraan yang dibangun oleh masjid membuat masjid kian mandiri dalam memberdayakan ekonomi masyarakat.
Riset ini dilakukan di Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah di Yogyakarta.
Hasil riset ini dituangkan dalam disertasi berjudul “Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin Perkotaan Berbasis Tanggungjawab Sosial Masjid.” Proses pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang dilakukan oleh Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah dilakukan melalui empat aspek. Yaitu, pemberdayaan spiritual jamaah, penyadaran kewirausahaan, capacity building, dan pemberian daya.

Statistik Masjid di Indonesia
Saat ini, menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Muhammad Jusuf Kalla,  Indonesia merupakan negara  yang paling banyak masjidnya.
Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia berjumlah sekitar 220 juta, Indonesia memiliki sekitar 800 ribu, sehingga rata-rata setiap 250 orang muslim di Indonesia mempunyai satu masjid.
Selain itu, JK juga mengungkapkan, bahwa hanya ada dua negara di dunia yang mempunyai kesamaan dalam hal pembangunan masjid, yaitu Indonesia dan Pakistan. Karena, masjid di dua negara ini banyak yang dibangun oleh umat Muslim sendiri.
Sayangnya, mayoritas masjid di Indonesia masih berfungsi sebagai tempat ibadah saja, atau masih sedikit jumlah masjid yang difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Dengan potensi yang sangat besar tersebut,  menjadi tugas umat Islam saat ini adalah mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Nabi Muhammad saw yaitu menjadikan masjid sebagai pusat perubahan.
Untuk mengembalikan dan menunaikan risalah masjid seperti dahulu-kala memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Modal utamanya adalah niat yang ikhlas karena Allah, kesungguhan dalam bekerja, kemauan dalam berusaha, organisasi masjid yang kuat serta mau menghadapi tantangan dan ganjalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Secara umum, Allah telah memberikan beberapa kriteria yang amat mendasar yang harus dimiliki para pemakmur masjid demi tercapainya risalah masjid.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,  menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(At-Taubah: 18).
Karena itu, menggali dan mengkaji kembali perjalanan sejarah masjid-masjid pada masa Rasulullah dan generasi pertama umat Islam adalah jalan terbaik untuk merevitalisasi (mengembalikan) fungsi masjid.

Keutamaan Orang-orang yang Perhatian terhadap Masjid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa kelak di hari kiamat, Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, tatkala tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Salah satunya adalah seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid…”
(Muttafaqun ‘alaihi).
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid, disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah ta’ala”. 
Berbahagialah kaum Muslimin yang senantiasa mengkaitkan dirinya dengan Masjid dan menginfakkan hartanya sebagai investasi akhirat untuk pembangunan masjid. Hartanya menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir tidak pernah putus meski orang yang berinfak telah wafat. Apalagi masjid tersebut dari waktu ke waktu tidak pernah kosong dari aktivitas ibadah setiap saat. Sungguh tidak terhitung berapa limpahan pahala yang terus mengalir.
Dalam  hadits shahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira tentang keutamaan shadakah jariyah sebagai infaq yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia:
"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"
(HR Muslim).
Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
”Barang siapa yang ikut membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah istana di surga”
(HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua, sehingga peradaban Islam yg Agung segera bangkit kembali melalui pemberdayaan Masjid.
Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
Semoga bermanfaat.
(Dari berbagai sumber).

Depok, 29 Juni 2018
(Maksum Radji)

Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah