ISLAMIC EDUCATION

Wednesday, July 4, 2018

REVITALISASI MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN UMAT


Oleh : Prof Dr. H. Maksum Radji, M.Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)


Masjid memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah Islam dan penyebaran syiar agama Islam. Masjid merupakan tempat didirikan sholat berjama’ah dan berbagai kegiatan kaum muslimin. Manusia yang mampu membawa kemaslahatan terhadap umat Islam, adalah mereka yg mencintai masjid.

Keutamaan Masjid
Masjid merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini. Di sanalah tempat peribadatan seorang hamba kepada Allah, memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata. Dari sanalah titik pangkal penyebaran tauhid. Allah telah memuliakan masjid-masjid-Nya dengan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin: 18)
Tidak ada tempat yang lebih baik dari pada masjid Allah di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai oleh Allah dalam suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)
Masjid adalah pasar akhirat, tempat bertransaksinya seorang hamba dengan Allah. Di mana Allah telah menawarkan balasan surga dan berbagai kenikmatan di dalamnya bagi mereka yang sukses dalam transaksinya dengan Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”.
Orang yang membangun masjid, dengan ikhlas karena mengharap ganjaran dari Allah ta’ala akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membangun masjid, ikhlas karena mengharap wajah Allah ta’ala, maka Allah ta’ala akan membangunkan rumah yang semisal di dalam surga.”  (Muttafaqun’alaihi).
Masjid dan Dakwah Islam
Dahulu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berjihad, berperang melawan orang-orang kafir, sebelum beliau menyerang suatu negeri, beliau mencari apakah ada kumandang suara adzan dari negeri tersebut atau tidak. Apabila beliau mendegar adzan maka beliau tidak jadi menyerang, namun bila tidak mendengar maka beliau akan menyerang negeri tersebut. (Muttafaqun ’alaihi)
Hal ini menunjukkan bahwa syiar-syiar agama yang nampak dari masjid-masjid kaum muslimin merupakan pembeda manakah negeri kaum muslimin dan manakah negeri orang-orang kafir. Adanya masjid dan makmurnya masjid tersebut dengan berbagai syiar agama Islam, semisal adzan, sholat jama’ah dan syiar lainnya, merupakan ciri bahwa negeri tersebut begeri kaum muslimin.

Memakmurkan Masjid
Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan masjid Allah, yaitu dengan cara mengisinya dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir maupun batin. Secara batin, yaitu memakmurkan masjid dengan sholat jama’ah, tilawah Al quran, dzikir yang syar’i, belajar dan mengajarkan ilmu agama, kajian-kajian ilmu dan berbagai ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga terhindar dari kotoran dan gangguan lainnya. Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk dibersihkan dan diberi wangi-wangian.
(Shohih Ibnu Hibban).

Peran Masjid di Zaman Rasulullah SAW
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, masjid memainkan peranan penting dalam menjalankan fungsinya sebagai Pusat peradaban Islam dan pembinaan umat.
Ketika Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, yang pertama dilakukan Nabi adalah membangun masjid Quba. Tidak lama setelah itu Nabi Muhammad membangun masjid Nabawi.
Pada zaman Nabi Muhammad, Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadat magdhah, seperti shalat dan zikir, tetapi masjid juga sebagai tempat pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, dan sebagai pusat syiar agama. Dari pembinaan yang dilakukan Rasulullah di masjid itu lahirlah tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam ke seantero dunia, seperti Abu Bakar shiddiq, Umar bin al-Khatab, Usman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Masjid di zaman Nabi merupakan pusat pembinaan ruhiyah (tarbiyah ruhiyah) umat Islam. Di masjid ini ditegakan shalat lima waktu secara berjama’ah. Masjid berperan untuk membina dan meningkatkan kekuatan ruhiyah (keimanan) umat Islam. 
Allah berfirman dalam surat An-Nur; 36-37:
فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ  اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ ۙ  يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ
"(Cahaya itu) di rumah-rumah (Masjid), yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,"
(QS. An-Nur 24: Ayat 36).
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ  ۙ  يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ 
"orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),"
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)
Masjid sebenarnya merupakan “kolam-kolam spiritual” yang akan menghilangkan dahaga spiritual setiap muslim. Tujuan didirikannya suatu masjid tercermin dalam kalimat-kalimat azan yang dikumandangkan oleh muazzin.  Tujuan mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah, (QS.Thaha; 14). Mengingat Allah merupakan cara yang tepat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan pikiran.
Allah SWT berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ  ۗ  اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28).

Oleh karena itu masjid merupakan tempat yang ideal untuk menenangkan hati dan pikiran.
Masjid  juga berperan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Di masjid, Nabi mendidik para sahabatnya dan mengajarkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Di Masjid dilatih para da’i untuk kemudian dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan Islam kepada penduduknya.   Masjid juga menjadi pusat pengembangan kebudayaan dalam semua aspek kehidupan.  Tidaklah mengherankan kalau pada masa selanjutnya masjid menjadi pusat berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Misalnya, universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang terkenal itu, pada mulanya merupakan kegiatan belajar di masjid Al-Azhar yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah.
Masjid Nabawi di Madinah juga berperan sebagai pusat kegiatan sosial,  tempat memberi santuan kepada fakir miskin, penyelesaian masalah perselisihan yang terjadi pada  masyarakat.
Masjid juga menjadi pusat pengobatan. Di masjid pula Nabi memberi pengarahan dan instruksi kepada para tentara yang akan dikirim ke suatu tempat untuk berperang. Masjid juga digunakan sebagai tempat bertemunya pemimpin dengan rakyatnya untuk bermusyawarah membicarakan berbagai kepentingan bersama. Di masjid juga Nabi menerima delegasi dari luar negeri dan mengirim utusannya ke luar negeri. Di masjid para sahabat berlatih berperang dengan disaksikan oleh Nabi Muhammad.
Sebagai pusat kegiatan-legiatan ekonomi umat, di masjid dibangun  Baitul Mal, dihimpun harta dari orang-orang kaya kemudian didistribusikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan uluran dana lainnya.
Namun Nabi melarang setiap muslim melakukan praktek jual beli di dalam masjid, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh imam An-Nasa-iy dan at-Turmudzi dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: ”Bila kamu melihat orang-orang yang melakukan praktek jual beli di dalam masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan dalam jual-belimu itu”.
Aktivitas jual beli yang dilakukan di luar masjid dan tidak mengganggu ibadah shalat dibolehkan oleh para ulama berdasarkan firman Allah dalam surat al-Jumu’ah; 10: ”Bila shalat (jum’at) telah selesai didirikan, maka bertebaranlah kamu di permukaan bumi ini , carilah karunia (rezeki) Allah dan perbanyaklah mengingat Allah”.
Itulah peran dan fungsi masjid yang telah Rasulullah contohkan. Ternyata fungsi dan peran masjid tidak hanya sebatas tempat melakukan kegiatan ibadah maghdah saja, tetapi segala kegiatan yang menyangkut persoalan ummat Islam dapat dilakukan dimasjid.

Mengembalikan Fungsi Masjid
Melihat fenomena peran Masjid saat ini, terutama di Indonesia, yang tidak sesuai dengan peran dan fungsi Masjid pada zaman Rasulullah, maka perlu adanya tindakan konkrit untuk segera mengembalikan fungsi masjid.
Untuk itu, diperlukan langkah-langkah inovatif sehingga masjid dapat menjadi pusat peradaban Islam. 
1. Menggerakkan Majlis Taklim Yang Ada Didalamnya.
Untuk menghindari kejenuhan jemaah, tidak ada salahnya jika tema-temanya dekat dengan kehidupan sehari-harijemaah dan bagaimana Islam memandang hal tersebut . Misalnya: Tips sehat ala Rasulullah, Pacaran dalam kacamata Islam dan lain-lain.
2. Mengadakan Berbagai Jenis Pelatihan dan Seminar.
Berbagai pelatihan dan seminar perlu dilaksanakan untuk mengupgrade kemampuan pengurus masjid maupun jemaah. Banyak hal yang bisa dilaksanakan seperti seminar keluarga Islami, seminar parenting, seminar zakat, pelatihan manajemen masjid, pelatihan kepemimpinan, pelatihan mengurus jenazah, pelatihan jurnalistik, kursus bahasa dan lain sebagainya. Dengan diadakannya acara-acara diatas maka tidak ada lagi istilah masjid kosong tanpa kegiatan.
3. Mengikut sertakan Remaja.
Remaja adalah agent of change. Maju atau mundurnya ummat Islam di kemudian hari ditentukan oleh seperti apa remajanya hari ini. Tidak diragukan lagi remaja memiliki kelebihan yaitu fisik yang bugar, semangat tinggi, dan kecemerlangan pikiran. Potensi tersebut harus digali untuk hal-hal yang positif. Mereka harus didekatkan dengan masjid sejak dini. Sebab, ketika mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar maka sulit untuk mencegahnya.
Sasarannya nanti adalah remaja dapat berkontribusi dalam mengoptimalkan peran masjid. Potensi remaja dengan semangat dan tenaga baru ini harus diupayakan untuk turut serta dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang diadakan di masjid.
4. Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Ilmu.
Keberadaan perpustakaan masjid adalah suatu keniscayaan. Buku-buku yang dipajang disana haruslah buku-buku yang sangat dibutuhkan oleh jemaah. Tentu tidak hanya buku keagamaan belaka. Buku-buku lainnya juga harus tersedia agar pengetahuan jemaah masjid semakin bertambah. Jika setiap masjid yang ada memiliki perpustakaan maka tentu akan memudahkan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan. Kelebihannya adalah perpustakaan di masjid tidak membutuhkan birokrasi yang berbelit-belit. Ini ditujukan agar dapat kembalinya masa kejayaan Islam seperti dahulu dengan giatnya para pendahulu dalam membaca.
5. Bersinergi Dengan Pemerintah dan Masyarakat.
Tugas untuk mengoptimalkanperan masjid bukan hanya tugas pengurus masjid. Warga setempat harus turut membantu terlaksananya program yang telah dibuat pengurus. Disamping itu hal ini tentu tidak akan berjalan dengan baik bila pemerintah setempat atau birokrat yang ada tidak mendukung sepenuhnya.
Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam membantu mengoptimalkan peran masjid. Salah satunya adalah memberikan bantuan dana demi kelancaran pembangunan masjid dan terlaksananya program-program yang telah direncanakan. Jika pemerintah sudah turut andil tentu tugas berat yang dibebankan kepada pengurus masjid akan semakin berkurang. Dengan adanya perhatian pemerintah maka masjid-masjid yang ada tidak akan lagi ada yang sepi dari kegiatan dan jemaahnya. 
6. Mengoptimalkan Jalannya Pelaksanaan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
Selain ceramah serta pengajian, TPA juga memiliki peran penting dalam berjalannya peradaban Islam melalui pendidikan karakter. Sasaran dalam TPA adalah anak-anak usia dini yang merupakan asset masa depan. Selain diajarkan untuk membaca al-qur’an, para santri diberikan penanaman karakter, tentunya dalam Islam. Seorang anak harus sejak dini ditanamkan fondasi ke-Islaman yang kuat agar kedepannya dalam ber-Islam, ia bisa konsisten. Seperti halnya yang diajarkan Rasulullah bahwa pendidikan dimulai dengan Aqidah sebagai fondasi, ibadah, akhlak, serta dilanjutkan dengan mu’ammalah.

Syarat yang Harus Dipenuhi supaya Fungsi Masjid Bisa Kembali seperti yang Seharusnya
Setiap pengurus masjid harus mengetahui visi masjid sebenarnya, yakni visi kemakmuran. Pengurus masjid juga harus mampu menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan kegiatan masjid. Jamaah masjid perlu diperkuat agar peran pemberdayaan masyarakat bisa terpenuhi. Apabila ini terjadi, maka masjid bisa berkembang dalam segala hal.
Agar Masjid dapat  berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, baik dewasa, anak-anak, tua, muda, pria, wanita, yang terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya dan miskin.
Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan dan peralatan yang memadai untuk:
a.    Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan
b.    Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat, maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.
c.     Ruang pertemuan dan perpustakaan, serta keterhubungan dengan jaringan internet.
d.     Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan mayat.
e.    Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.
Komplek bangunan masjid harus dilengkapi berbagai sarana dan prasarana seperti asrama, ruang-ruang kelas untuk proses belajar mengajar, perpustakaan, ruang tamu khusus, layanan kesehatan, konsultasi, dan lain-lain. Selain mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah, penambahan sarana dan fasilitas masjid juga bertujuan agar jamaah merasa nyaman selama di masjid. Semua hal di atas meskipun diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun tetap mampu menunjang fungsi masjid yang ideal.
Sebuah Penelitian tentang Fungsi Masjid
Aziz Muslim, dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, meraih gelar doktor setelah meneliti fungsi lembaga masjid.
Ia melihat lembaga masjid dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan masjid apabila dikelola dengan baik. Pengelolaan yang baik meliputi hubungan kemitraan antara masjid, jamaah, dan masyarakat di lingkungan sekitar masjid baik. Sedang kemitraan yang dibangun mengarah pada hubungan yang mutualisme.
Kuatnya kemitraan yang dibangun oleh masjid membuat masjid kian mandiri dalam memberdayakan ekonomi masyarakat.
Riset ini dilakukan di Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah di Yogyakarta.
Hasil riset ini dituangkan dalam disertasi berjudul “Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin Perkotaan Berbasis Tanggungjawab Sosial Masjid.” Proses pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang dilakukan oleh Masjid Jogokaryan, Nurul Jannah, dan Wahidiyah dilakukan melalui empat aspek. Yaitu, pemberdayaan spiritual jamaah, penyadaran kewirausahaan, capacity building, dan pemberian daya.

Statistik Masjid di Indonesia
Saat ini, menurut Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Muhammad Jusuf Kalla,  Indonesia merupakan negara  yang paling banyak masjidnya.
Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia berjumlah sekitar 220 juta, Indonesia memiliki sekitar 800 ribu, sehingga rata-rata setiap 250 orang muslim di Indonesia mempunyai satu masjid.
Selain itu, JK juga mengungkapkan, bahwa hanya ada dua negara di dunia yang mempunyai kesamaan dalam hal pembangunan masjid, yaitu Indonesia dan Pakistan. Karena, masjid di dua negara ini banyak yang dibangun oleh umat Muslim sendiri.
Sayangnya, mayoritas masjid di Indonesia masih berfungsi sebagai tempat ibadah saja, atau masih sedikit jumlah masjid yang difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Dengan potensi yang sangat besar tersebut,  menjadi tugas umat Islam saat ini adalah mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Nabi Muhammad saw yaitu menjadikan masjid sebagai pusat perubahan.
Untuk mengembalikan dan menunaikan risalah masjid seperti dahulu-kala memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Modal utamanya adalah niat yang ikhlas karena Allah, kesungguhan dalam bekerja, kemauan dalam berusaha, organisasi masjid yang kuat serta mau menghadapi tantangan dan ganjalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Secara umum, Allah telah memberikan beberapa kriteria yang amat mendasar yang harus dimiliki para pemakmur masjid demi tercapainya risalah masjid.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,  menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(At-Taubah: 18).
Karena itu, menggali dan mengkaji kembali perjalanan sejarah masjid-masjid pada masa Rasulullah dan generasi pertama umat Islam adalah jalan terbaik untuk merevitalisasi (mengembalikan) fungsi masjid.

Keutamaan Orang-orang yang Perhatian terhadap Masjid
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa kelak di hari kiamat, Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, tatkala tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Salah satunya adalah seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid…”
(Muttafaqun ‘alaihi).
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid, disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah ta’ala”. 
Berbahagialah kaum Muslimin yang senantiasa mengkaitkan dirinya dengan Masjid dan menginfakkan hartanya sebagai investasi akhirat untuk pembangunan masjid. Hartanya menjadi shadaqah jariyah yang pahalanya terus mengalir tidak pernah putus meski orang yang berinfak telah wafat. Apalagi masjid tersebut dari waktu ke waktu tidak pernah kosong dari aktivitas ibadah setiap saat. Sungguh tidak terhitung berapa limpahan pahala yang terus mengalir.
Dalam  hadits shahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira tentang keutamaan shadakah jariyah sebagai infaq yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia:
"Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"
(HR Muslim).
Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
”Barang siapa yang ikut membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah istana di surga”
(HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua, sehingga peradaban Islam yg Agung segera bangkit kembali melalui pemberdayaan Masjid.
Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
Semoga bermanfaat.
(Dari berbagai sumber).

Depok, 29 Juni 2018
(Maksum Radji)

Share:

0 comments:

Post a Comment

Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah