ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Tuesday, August 27, 2019

BERSEDEKAH


Oleh : Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد


Jamaah Rahimakumullah

Sedekah adalah pemberian seorang Muslim kepada orang lain dengan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. 

Allah SWT berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ  يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ  قَرِيْبٍ ۙ  فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 114,

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar." (QS. An-Nisa Ayat 114).

Allah Ta’ala berfirman bahwa kesempurnaan bersedekah sengan sesuatu yang kita sayangi dalam Surat Ali-Imran Ayat 92,

"Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa juga yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Ali-Imran Ayat 92).

Sedangkan pahala bagi orang yang bersedekah tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui." (QS. Al-Baqarah ayat 261).

Allah Ta’ala menjanjikan kemudahan bagi orang yang gemar beresedekah dalam keadaan sulit. Allah berfrman dalam Surat At-Thalaq Ayat 7,
"Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (QS. At-Thalaq Ayat 7).

Allah Ta’ala juga berfirman dalam Al Qur’an Surat Saba’ 39,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

 Katakanlah: “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba’: 39).

Adapun hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,  tentang tuntunan bersedekah ini banyak sekali, beberapa diantaranya adalah:
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah Tabaraka wa Ta’ala: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلَامَـى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِـيْ دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، 
وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَـمْشِيْهَا إِلَـى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَتُـمِيْطُ اْلأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ. (رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

 Setiap persendian manusia wajib bersedekah pada setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya: engkau berlaku adil kepada dua orang (yang bertikai/berselisih) adalah sedekah, engkau membantu seseorang menaikannya ke atasnya hewan tunggangannya atau engkau menaikkan barang bawaannya ke atas hewan tunggangannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang engkau jalankan menuju (ke masjid) untuk shalat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.”
(HR. al-Bukhâri dan Muslim).

Maasyiral Mukminin rahimakumullah

Jenis sedekah yang paling utama

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah sedekah yang diniatkan untuk kebaikan. Nantinya kebaikan itu masih terus dirasakan hingga orang yang bersedekah tersebut meninggal dunia. Misalnya sedekah dalam pembangunan masjid, saluran air, dan sebagainya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631).

2. Sedekah yang sembunyi-sembunyi


Kita dianjurkan untuk tidak pamer (riya) dengan semua bentuk ibadah yang kita lakukan, terutama sedekah.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 262:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ لاَ يَتْبِعُونَ مَآأَنفَقُوا مَنًّا وَلآَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. 2:262).
Selain itu, Allah Ta’ala juga melarang orang untuk memamerkan amalan sedekahnya. 

Allah berfirman, dalam Surat Al-Baqarah Ayat 264,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابُ فَأَصَابَهُ وَابِلُ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ 
الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah Ayat 264).

3. Sedekah ketika kondisi masih sehat
Bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ .

Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Sedekah kepada kerabat

Disebutkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha’. Ketika turun ayat:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa Bairuha’ diserahkan kepada Beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar ia membagikan bairuha’ kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membagikannya untuk kerabat dan keponakannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ  :  صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ

Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim).

Maasyiral Mukminin rahimakumullah

Keutamaan sedekah
Beberapa keutamaan bagi seseorang bersedekah lillah (karena Allah subhanahu wa ta’ala), antara lain adalah:
1   Sedekah itu akan memadamkan murka Allah subhanahu wa ta’ala
Allah murka karena dosa dan maksiat-maksiat yang kita lakukan. Sehingga membuat Allah murka kepada kita. Maka murka Allah subhanahu wa ta’ala ini salah satunya dapat kita padamkan dengan bersedekah.  Allah akan menahan murkaNya atas manusia apabila mereka rajin bersedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadits yang dinyatakan shahih oleh Al-Albani,

إن صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sesungguhnya sedekah yang dikeluarkan secara rahasia dapat memadamkan kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala” (HR. Tabrani).

2. Sedekah Dapat Menghapus Dosa.

Sedekah termasuk salah satu amalan yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan dosa. Tentunya yang terhapus  adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Dosa besar tidak ada jalan lain untuk menghapusnya selain bertaubat. Adapun amal-amal shalih yang dia lakukan itu mempercepat terhapusnya dosa-dosa itu setelah taubat. Dosa-dosa kecil ini mungkin bisa terhapus dengan kita melakukan kebaikan-kebaikan, diantaranya adalah sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

Sedekah akan menghapus dosa sebagaimana air dapat mematikan api” (HR. Ibnu Majah).

3. Sedekah tidak mengurangi harta

Harta orang yang rajin bersedekah dengan ikhlas akan menjadi berkah. Allah akan menggantinya dengan bentuk rezeki yang lain. Bisa berupa kesehatan, keselamatan yang juga merupakan rezeki yang terkadang kita tidak memandangnya sebagai sebuah rezeki dari Allah. Allah subhanahu wa ta’ala mengajak kita untuk memberikan pinjaman kepada Allah.
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّـهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّـهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 245)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.


Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18).

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui“
(QS. Al-Baqoroh: 261)

5. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 golongan manusia yang mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari).

6. Orang yang bersedekah akan dikumpulkan di dalam surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,
“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hadits hasan menurut Al Albani).  

7. Boleh iri kepada orang yang dermawan

Iri atau hasad adalah akhlak yang tercela, namun iri kepada orang yang suka bersedekah, ingin menyaingi kedermawanannya, adalah akhlak yang terpuji.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudia ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Maasyiral Mukminin rahimakumullah

Demikianlah kajian tentang bersedekah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua, sehingga kita bisa melaksanakannya dengan benar dan istiqomah.
Amin yaa Rabbal Aalamiin.

Wabillahit taufiq wal hidayah. 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

**(Disarikan dari berbagai sumber)

Share:

Tuesday, April 30, 2019

Perilaku Muslim - Bekal Utama Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Oleh : Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed, Apt.
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)

Assalamualaykum wa rahmatullahi wa barokaatuh.

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّدِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلُهُ بِالْهُدَى وَذِيْنِ الْحَقِّ،لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّ يْنِ كُلِّهِ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ 
وَالصَّلَاةُوَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِالْخَلْقِ مُحَمَّدٍوَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّ يْنِ.  أمابعد

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Dia memenangkannya atas agama-agama, sekalipun orang-orang kafir membencinya.
Shalawat dan salam, semoga tetap tercurah kepada sebaik-baik makhluk, yaitu Muhammad SAW dan kepada keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Maasyiral mukminin rahimakumullah

Tanpa terasa bulan suci, bulan maghfirah, bulan penuh rahmat, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan yang didalamnya terdapat lailatul qadr yang dinanti-nantikan sudah di hadapan mata. Hanya hitungan hari menuju bulan mulia itu. Karena kemuliaan dan spesialnya bulan tersebut maka sudah seharusnya kita sebagai ummat Islam mempersiapkan diri.
Persiapan disini adalah mempersiapkan bekal untuk mengoptimalkan ibadah kita pada bulan yang di dalamnya terdapat malam lebih baik dari 1000 bulan. 

Ada beberapa bekal utama yang penting untuk dipersiapkan dalam memasuki bulan Ramadhan, antara lain adalah:

Pertama: Persiapan Fikriyah

Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal Ilmu yang benar tentang Ramadhan.  
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata: 
”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Cara untuk mempersiapkan fikriyah ini antara lain dengan membaca berbagai bahan rujukan dan atau menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntutan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan ibadah, atau mempelajari fiqih puasa juga perlu  dilakukan.

Bekal ilmu merupakan bekal utama agar ibadah kita bermanfaat, berfaedah, dan sesuai dengan tuntunan Rasul.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” 
(Majmu’ Al Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2: 282).

Syarat diterimanya amal ibadah, bukan hanya ikhlas, akan tetapi Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad dalam segala hal, dengan firman-Nya :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.
[QS. Al-Ahzaab: 21]

Dan Rasulullah juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu tertolak”.
(HR. Muslim).

Kedua: Persiapan Ruhiyah

Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut puasa. Nabi menganjurkan agar memperbanyak puasa sunnah sebelum memasuki bulan Ramadhan, mengganti puasa yg  terpaksa ditinggalkan pada puasa Ramadhan tahun sebelumnya karena udzur, memperbanyak tilawah, qiamulail, shalat fardhu berjamaah di masjid.  Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Sya’ban kadar keimanan kita sudah meningkat, sebelum menjalani ibadah shaum di bulan Ramadhan.

Maasyiral mukminin rahimakumullah

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, disyariatkan bagi seorang muslim untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia dengan melakukan taubatan nashuha (taubat yang sesungguhnya), mempersiapkan diri dalam puasa dan menghidupkan bulan tersebut dengan niat yang tulus dan tekad yang ikhlas, dan dianjurkan untuk memperbanyak istighfar. 

Semoga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita akan mudah melaksanakan rangkaian ibadah pada bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

(Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan).
(HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).

Ketiga: Persiapan Maliyah

Persiapan harta ini bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran semata, sebagaimana tradisi kita selama ini.
Mempersiapkan harta adalah untuk mempersiapkan harta yg halal untuk melipatgandakan infaq dan sedekah, karena pada Ramadhan merupakan bulan memperbanyak sedekah jariyah.

Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam Kitab Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.”
(HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, yang dimaksud dengan bagaikan angin yang bertiup adalah bahwa Nabi rajin dan semangat serta banyak bersedekah pada di bulan Ramadhan. Pahala bersedekah pada bulan Ramadhan juga berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Nabi juga bersabda:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.”
(HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973).

Semoga infaq dan shodaqoh yg kita salurkan di jalan Allah, di bulan Ramadhan menjadi amal jariyah yang pahalanya dilipatgandakan dan terus mengalir hingga yaumil qiyamah. 

Keempat: Persiapan Jasadiyah, dan memohon kemudahan dari Allah.

Selain ketiga hal di atas, kita juga harus memperbanyak memohon pertolongan Allah agar mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan.
Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan bertawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Senantiasa memohon kepada Allah agar fisik kita mampu dan mudah menjalankan berbagai ibadah, baik shalat malam, ibadah puasa, bershodaqoh, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Maasyiral mukminin rahimakumullah

Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

(Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah). 
(Hadits: Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255).  

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

(Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). 
(HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).

Maasyiral mukminin rahimakumullah

Semoga persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan dapat mengantarkan kita untuk melaksanakan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya yang terbaik di bulan Ramadhan tahun ini, lebih baik dari bulan Ramadhan yang pernah kita lalui. 

Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a agar Allah Ta'ala memberikan  kemudahan untuk kita dalam melaksanakan ibadah puasa, guna mencapai derajat Taqwa.

Semoga bermanfaat.

Baarokallahu lii wa lakum.

Wabillahit taufiq wal hidayah. 

Wassamualaykum warahmatullahi wabarokaatuh.

*(disarikan dari berbagai sumber).

Share:

Wednesday, April 24, 2019

Perilaku Muslim - Amal Yang Diterima

oleh : Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed, Apt
(Pembina Yayasan Babussalam Socah)


Assalamu ‘alaikum Warahmatullaahi wa barakatuh.

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk, aku bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Pertama, marilah kita memanjatkan Puja dan Puji Syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah menyampaikan Agama yang sempurna kepada umat manusia. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang selalu berpegang teguh dengan sunnah beliau hingga ajal menjemput kita.

Maasyiral Mukminin rahimakumullah.
Suatu hari Atha As-Salami ra. seorang tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ia tenun kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dangan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dangan harga yang sesuai.”
Mendengar tawaran tersebut, Atha’ menjawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Alloh karena aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun tiada cacatnya sama sekali, mungkin di mata Allah SWT sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Jamaah rahimakumullah.

Tidak semua penghuni neraka adalah orang-orang yang selama di dunia kegemarannya hanya bermaksiat, pencandu narkoba, korupsi, berzina, dan lain sebagainya. Ternyata, di antara penghuni neraka itu ada manusia yang rajin beramal, bahkan sampai keletihan dalam beramal saking berat dan banyaknya amalannya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Ghasyiyah 88: Ayat 1-4):

هَلْ اَتٰٮكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ 
"Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?"

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ خَاشِعَة
"Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,”

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
"(karena) amalan amalan yang melelahkan,"

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَة
"mereka memasuki api yang sangat panas, menyala nyala (neraka)"

Itulah gambaran tentang salah satu ahli neraka. Mereka yang rajin beramal lagi kepayahan, namun memasuki api yang sangat panas (neraka). (QS. al-Ghasyiyah: 3–4).

Rangkaian ayat-ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka dan para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tatacara) yg tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.

Maasyiral Mukminin rahimakumullah.

Sayyidina Umar bin Khathab selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.
Umar lalu memanggilnya, “Hai, Rahib! Hai, Rahib!” Rahib itu pun menoleh. 
Ketika itu, Umar terus memandangi sang rahib. Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.

Beliau pun ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat Anda menangis? Mengapa Anda menangis ketika melihatnya.”

Jawab Umar, “Aku teringat firman Allah dalam al-Quran, (yang artinya): 
‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun memasuki neraka  yang sangat panas.’
Itulah yang membuatku menangis.” 


Maasyiral Mukminin rahimakumullah

Lalu apa Syarat Ibadah yang Diterima oleh Allah SWT?

Adapun syarat ibadah yang diterima oleh Allah SWT. berdasarkan nash Al-Quran dan Hadits, syarat ibadah/amal yang diterima Allah SWT yaitu 
1.      Iman, 
2.      Ikhlas  
3.      Ibadah yang dilakukan sesuai dengan ilmunya, dan 
4.      Sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw.

1. Iman.
Sudah selayaknya kita bersyukur, Allah jadikan kita menjadi orang mukmin, karena iman adalah salah satu syarat bagi kita agar ibadah kita diterima oleh Allah.

2. Ikhlas.
Ibadah harus dilakukan secara ikhlas. Ibadah dilakukan dengan kesadaran sendiri dan ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji ataupun karena dipaksa.

Allah berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan shalat serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar" (QS. Al-Bayyinah:5).

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm: 162).

Nabi bersabda:
"Allah tidak menerima amalan kecuali dikerjakan dengan ikhlas dan hanya mencari ridla-Nya."
(HR. Al-Nasâ`i).

Niat yang ikhlas semata, belumlah cukup untuk membuat amal kita diterima. Semangat, bukan modal utama agar amal kita diterima. Karena kita juga dituntut untuk benar dalam tata caranya.

3. Ibadah yang dilakukan harus disertai ilmunya.
Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (QS. Al-Israa':36).

Umar bin Khattab pernah mengatakan: "Siapa yang beribadah tanpa disertai ilmunya, maka ibadahnya tertolak dan tidak diterima." Jika ibadah dilakukan tanpa disertai pengetahuan tentang ilmunya, maka ibadah tersebut bisa salah dalam tata cara serta tidak dipenuhi syarat dan rukunnya.

Mu’adz bin Jabal mengatakan, “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang
setelah adanya ilmu.”

4. Sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw.
Tata cara ibadah harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabat.
Nabi bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”(HR. Al-Bukhari).

“Barangsiapa yang mengadakan sesuatu dalam perkara kami ini yang tidak ada tuntunan (Islam) di dalamnya maka ditolak.”(Muttafaq 'alayh).

“Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik bimbingan, adalah bimbingan Muhammad, sedang sejelek-jelek perkara adalah mengada-ada padanya, dan setiap bid`ah (penyimpangan dengan mengada-ada) adalah sesat.”(HR. Muslim, Ibn Majah, Ahmad & Darimi).

Maasyiral Mukminin rahimakumullah
Demikianlah syarat Ibadah yang diterima oleh Allah SWT. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua, sehingga kita bisa melaksanakannya dengan benar dan istiqomah.
Amin yaa Rabbal Aalamiin.

Wabillahit taufiq wal hidayah. 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

**(Disarikan dari berbagai sumber)

Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah