ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Sunday, September 6, 2020

Alhamdulillah, buku kedua yang ditulis oleh Ust. Rik Suhadi, S.Th.I sudah terbit


 Alhamdulillah, atas rahmat Allah SWT, buku kedua karya Ust. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah) telah terbit. Bagi anda yang ingin mendownload silahkan di link berikut! 

https://drive.google.com/file/d/10lgoLLJ8qiBqPdhCZznpuqmlY6JRKeRN/view?usp=sharing


SELAMAT MEMBACA 

Share:

Saturday, April 4, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 7)


oleh : Ust. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


JUBN ( PENGECUT )


Al-Jubn ( pengecut ) merupakan lawan kata dari Syaja’ah (   الشجاعة ) keberanian.
Menurut  Ibnu Maskawaih “jubn “ adalah : Takut kepada hal yang tidak pantas ditakuti “. ( Tahdzibul Akhlaq ).
Prof. Yunahar Ilyas memberikan penjelasan tentang Jubn ini adalah: “Takut menghadapi musuh, takut menyatakan kebenaran, takut gagal, takut mengahadapi resiko, dan ketakutan-ketakutan yang lainnya”.  Selanjtnya beliau mengatakan, penakut adalah sifat yang tercela, sifat oaring-orang yang tidak benar-benar takut kepada Allah. Pribahasa mengatakan :
من خاف الله خوّف الله منه كل شيئ ومن لم يخف الله خوّف الله من كل شيئ

"siapa yang takut kepada Allah, Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadanya. Sebaliknya, siapa yang tidak takut kepda Allah, maka Allah akan membuat ia takut kepda segala sesuatu” ( Kuliah Akhlaq ).

Jubn atau pengecut,  digambarkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala sebagai bentuk rasa takut, cemas  disaat akan berhadapan dengan musuh,  seperti yang terjadi pada kaumnya Nabi Musa as. Saat Nabi Musa mengajak mereka memasuki palestina . peristiwa ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 21- 22
يَاقَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu , dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. ( QS. Al-Maidah : 21 )

قَالُوا يَامُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ
Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya." ( QS. Al-Maidah 22 ).

Pengecut adalah sifat yang paling buruk

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

شَرُّ مَا فِي الرَّجُلِ شُحٌّ هَالِعٌ أَوْ جُبْنٌ خَالِعٌ
Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit, dan sifat pengecut yang sangat pengecut”  ( Abu Daud ).

Begitu jeleknya sifat jubn ini sampai-sampai Rasulullah berlindung dari penyakit  ini sebagaimana sabda beliau :

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَحَدَّثْتُ بِهِ مُصْعَبًا فَصَدَّقَهُ
"Sesungghnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlindung dengan membaca kalimat-kalimat tersebut pada akhir shalat (yaitu): "ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL JUBNI WA A'UUDZU BIKA AN URADDA ILAA ARDZALIL 'UMURI WA A'UDZU BIKA MIN FITNATID DUNYA WA A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIL QOBRI" ("Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada serendah-rendahnya usia (pikun) dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur") Lalu aku ceritakan hal ini kepada Mush'ab dan dia membenarkannya.” ( HR. Bukhari )

Pengecut tidak akan masuk surga

Sabda Rasulullah :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَخِيلٌ وَلَا خَبٌّ وَلَا خَائِنٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ الْمَمْلُوكُونَ إِذَا أَحْسَنُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَوَالِيهِمْ
"Tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai kasar, dan orang yang pertama kali mengetuk pintu syurga adalah para hamba sahaya yang bagus dalam menjalankan apa yang ada diantara mereka dan Allah Azza wa Jalla serta apa yang ada diantara mereka dan tuannya."( HR Ahmad)

Pengecut adalah naluriah

Umar pernah menyatakan bahwa jubn adalah naluri yang ditanamkan kedalam  diri orang yang dikehendaki oleh Allah :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَرَمُ الْمُؤْمِنِ تَقْوَاهُ وَدِينُهُ حَسَبُهُ وَمُرُوءَتُهُ خُلُقُهُ وَالْجُرْأَةُ وَالْجُبْنُ غَرَائِزُ يَضَعُهَا اللَّهُ حَيْثُ شَاءَ فَالْجَبَانُ يَفِرُّ عَنْ أَبِيهِ وَأُمِّهِ وَالْجَرِيءُ يُقَاتِلُ عَمَّا لَا يَئُوبُ بِهِ إِلَى رَحْلِهِ وَالْقَتْلُ حَتْفٌ مِنْ الْحُتُوفِ وَالشَّهِيدُ مَنْ احْتَسَبَ نَفْسَهُ عَلَى اللَّهِ
Umar bin Khattab berkata; "Kemuliaan seorang mukmin adalah ketakwaannya, agamanya adalah kehormatannya, wibawanya adalah akhlaknya, sedangkan keberanian dan jiwa pengecut adalah adalah naluri  yang Allah tanamkan kepada siapa yang Ia kehendaki. Orang yang takut akan lari dari membela bapak dan ibunya, sedang orang yang berani akan berperang membela sesuatu yang tidak akan dibawa ke dalam rumahnya. Gugur dalam peperangan adalah salah satu jenis kematian, sedangkan syahid adalah orang yang menyerahkan jiwanya kepada Allah." ( HR. Malik ).

Pengecut ciri orang munafik
Orang-orang munafik tidak mau ikut berjihad, karena lemah iman dan dalam hatinya  adaperasaan ketir, sehingga membuat banyak alasan dusta . mereka mendatangi Rasulullah dengan merangkai cerita bahwa mereka takut tergoda oleh rayuan wanita wanita Romawi , agar dizinkan untuk tidak ikut berperang, sehubungan dengan ini maka turunlah ayat , sebagaimana Firman Allah :
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah[645]. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. ( QS. At-Taubah : 49 ).
Semakin menjadi rasa takutnya mereka disaat bahaya benar-benar telah datang , namun disaat bahaya telah berlalu mereka berbalik membuat cercaan dengan lidah yang tajam, begitulah orang-orang munafik.
Sebagaimana yallah Firmankan dalam Al-Qur’an :
أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati  dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ( QS. Al-Ahzab : 19 ).

Pengecut sangat dicela oleh Allah
Allah Subhaanahu wata’ala sangatlah mencela orang-orang yang takut pergi kemedan perang karena tidak berani menghadapi musuh, sebagaimana Firman-Nya :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. ( QS. An-Nisa : 77 ).




Share:

Wednesday, April 1, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 6)


Oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


BAKHIL ( البخل )


Bakhil   secara bahasa berarti , menahan, mencegah, dan  merupakan lawan dari kemurahan hati, dermawan dan suka mengeluarkan  bantuan. Dalam bahasa arab kata  “bakhil “ sering juga  disebut dengan  شح  ( syuhhun ),  yang berarti sangat pelit atau kikir, tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan Ikhlas hati. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 128 :
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ
…..dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…

Bakhil menurut para Ulama

Al-Quthubi mengatakan, bakhil adalah manusia yang menahan hartanya , tidak memberikan haknya yang wajib, seperti zakat, infak, dan sedekah fiisabilillah. Adapun menahan harta pada perkara yang tidak wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat, bukanlah kebakhilan.

Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan, makan bakhil dalam ayat ini adalah mereka yang tidak mau membelanjakan hartanya di jalan Allah dan tidak mau menunaikan zakatnya .

Dalam tafsir Humud, memberikan contoh bakhil seperti,  tidak mau mengeluarkan zakat, tidak mau peduli atau tidak mau berkoraban disaat orang lain atau umat membutuhkan ( bantuan ).

Ibnu Abbas mengatakan, mereka adalah orang orang yahudi, mereka bakhil, yaitu tidak mau menjelaskan kepada manusia tentang apa saja yang ada dalam Taurat. Juga mereka menyembunyikan tentang kenabian Muhammad beserta sifat-sifatnya.

Dari uaraian para ulama tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa bakhil atau kikir adalah, tidak adanya kepedulian atau kemurahan hati  untuk melepaskan bagian dari haknya baik berupa harta, tenaga dan fikirannya untuk fiisabilillah, atau untuk kepentingan kemaslahatan umat. Seperti bakhil dengan harta, tidak mau mengeluarkan zakat,infaq dan sedekahnya. Bakhil dengan tenaganya tidak mau menolong orang yang sedang kesulitan yang membutuhkan bantuan tenaganya, padahal dia mampu menolongnya. Bakhil dengan ilmu dan pemikirannya, seperti tidak mau berbagi ilmu, padahal dia punya ilmunya, tidak mau menyampaikan ilmu agama padahal ia ahli agama , pelit untuk memberikan informasi-informasi penting untuk kemaslahatan umat dansebagainya.

Bakhil Penyebab Kehancuran

karena bakhil ini dapat menyebabkan kecelakaan, pertumpahan darah, dan menghalalkan yang haram, maka  bakhil ini diperintahkan untuk dijauhi.  Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam :
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
"Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." ( HR. Muslim ).

Dalam hadits yang lain rasulullah bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

"Jauhilah sifat pelit, karena sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sifat pelit. Mereka diperintahkan untuk bersifat bakhil maka merekapun bersifat bakhil dan mereka diperintahkan untuk memutuskan hubungan kekerabatan maka merekapun memutuskan hubungan kekerabatan, dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka merekapun berbuat dosa." ( HR. Abu Daud )

Bahkan para malaikat selalu mendo’akan kehancuran setiap pagi bagi orang yang bakhil, sebagaimana sabda rasulullah : 
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ". ( HR. Bukhari )

Mendatangkan Adzab di Akhirat

Tidak hanya dalam kehidupan dunia saja bakhil ini bisa mendatangkan kehancuran tetapi sifat bakhil juga berimbas sampai pada kehidupan akhirat.  Orang yang bakhil kelak dihari kiamat akan mendapatkan siksaan yang pedih. Allah berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. Ali-Imran : 180

As-Sa’di mengatakan, ”  janganlah orang-orang  yang menahan keutaman keutamaan yang telah Allah karunialkan kepada mereka itu baik berupa harta kekayaan, kemulyaan, prestasi, kelas tinggi dan sebagainya itu adalah lebih baik bagi mereka, justru anggapan itu adalah sangatlah buruk bagi agama dan kehidupan dunia mereka.
Kelak pada hari kiamat  harta yang mereka bakhilkan itu,  yang tidak mau dizakatkan, diinfakkan dan tidak mau disedekahkan di jalan Allah itu akan Allah kalungkan dilehernya. Mereka akan diadzab dengan hartanya itu ,sebagaimana hadits :
مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ - يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ - ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ، ثُمَّ تَلاَ: (لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ) " الآيَةَ
"Barangsiapa yang Allah berikan harta namun tidak mengeluarkan zakatnya maka pada hari qiyamat hartanya itu akan berubah wujud menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari qiyamat lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya, yaitu dengan mulutnya seraya berkata,: 'Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu". Kemudian Beliau membaca firman Allah subhanahu wata'ala QS Alu 'Imran ayat 180 yang artinya "(Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, ……"). ( HR. Bukhari ).

Selalu dieprtemukan dengan kesulitan

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dirogoh dan dikeluarkannya.

Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi saw. dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw. bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata: "Hanya sekian tawaran tuan?" Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan dengan Nabi saw. itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai milikku?" Rasulullah menjawab: "Ya." Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma itu berkata: "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad saw. menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu: "Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab: "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memnuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi: "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata: "Aku inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi:
 "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jiengkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan. " Maka berangkatlah Rasulullah saw. kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda: "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu."Maka turunlah ayat ini (S.92:1-akhir surat), sebagai bentuk pujian bagi dermawan yang iman dan taqwa, sekaligus sebagai celaan bagi yang bakhil dan tidak iman kepada pahala terbaik di surga.  
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى () فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى () وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى () وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, ( tidak butuh pertolongan Allah ), serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”.

Jauh dari Allah
Orang yang kikir hatinya akan jauh dari Allah karena tidak bisa bertemu dan  menyatu dalam hati seseorang antara keimanan yang kuat dengan sifat kikir dalam dirinya. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wasallam :
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ،
Tidak akan berkumpul antara sifat pelit dan iman dalam diri seorang muslim." ( HR. Ahmad )

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي مِنْ بَيْتِي إِلَّا مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ أَفَأُعْطِي قَالَ نَعَمْ وَلَا تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ يَقُولُ لَا تُحْصِي فَيُحْصَى عَلَيْكِ
dari Abu Mulaikah dari Asma' binti Abu Bakar ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang diberikan oleh Zubair kepadaku, apakah aku harus bersedekah dengannya?" Nabi menjawab: "Ya, dan janganlah engkau bakhil, maka Allah akan bakhil kepadamu ( HR. Tirmidzi )

Kebakhilan menutup Pintu Pahala
sebagaimana Firman Allah :
هَاأَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. ( QS. Muhammad : 38 ).
Dalam tafsir Humud dijelaskan bahwa Allah menyeru orang-orang islam untuk membelnjakan hartanya dijalan Allah, memberikan hartanya untuk para mujahid yang berjuang melawan musuh musuhmereka, memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang berjuang menolong dan menegakkan agamaNya, tetapi ada diantara mereka orang yang beriman yang bakhil untuk infak di jalan ini dan tidak mau berjihad di jalan Allah ini. Maka Siapa yang bakhil maka dia telah mencedrai dirinya sendiri, krena telah menutup pintu masuknya pahala, menutup pintu masuknya ridho Allah, Pdahal Allah maha kaya dibanding hamba-hambanya, sedangkan hamba sangatlah fakir sangat membutuhkan karunia dari Allah .



Share:

Wednesday, March 25, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 5)



Oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


SUM’AH



Sebagaimana penyakit riya’ , sum’ah ini juga tergolong penyakit yang bisa menjadikan amal – amal yang dilakukan akan  lenyap tanpa bekas dan manfaat.  Dan sum’ah ini juga termasuk pada dosa syirik kecil. Secara definisi antara riya’ dan sum’ah ini maksud yang dikandung hampir sama.
Riya’ menuntut orang lain untuk bisa melihat amal-amal sahalih yang dilakukannya, sehingga apa yang dilkukannya diniatkan agar orang lain melihat  dan memuji nkebaikan-kebaikan yag dilakukannya. Sebagai misal, ada seseorang yang sholatnya diperbagus dan diperpanjang bila dilihat oleh orang lain,  agar orang lain menilai  khusyuk shalat yang dilakukannya . Namun disaat tidak ada orang lain yang sedang memperhatikannya , maka sholatnya asal-asalan.
Sedangkan sum’ah menuntut orang lain bisa mendengar amal-amal yang dia lakukannya , sehingga orang yang sum’ah ini berupaya memperdengarkan kebaikan atau kebagusan amalnya agar mendapatkan tempat dihati manusia. Seperti , membaca Al-Qur’an dengan niat dperdengarkan kebagusan suaranya untuk manusia, ceramah-ceramah yang disampaikan yang memukau pendengar dengan niat untuk selain Allah.
Kedua-duanya antara riya’ dan sum’ah secara lahiriyah amalan yang dilakukan adalah karena Allah,  namun dalam batinnya sesungguhnya  dia mengingikan datangnya pujiadan sanjungan  dari manusia.

Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani ada mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia.

Sehingga, menurut beliau, semua riya itu termasuk perbuatan tercela. Sedangkan sum’ah, bisa jadi termasuk amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Diera super canggih seperti sekarang ini dimana fasilitas fasilatas untuk berinteraksi social semakin mutakhir maka penyakit sum’ah dan riya’ ini semakin meluas jangakauannya. Penyakit penyakit ini membonceng apasaja yang bisa dikendarai dengan cepat,  terutama dia bisa terbang cepat melauli medsos, seperti,  Watsap, twiter, IG, Facebook, dansebagainya, orang bisa berbuat riya’ dan sum’ah dengan sangat leluasa melauli media media ini,   sehingga sangat berbahaya karena bisa memberikan daftar panjang dalam melakukan dosa dan kemaksiatan yang terus mengalir..( dosa Jariyah ).

Sum’ah melenyapkan Pahala

Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…”  ( QS. Albaqoroh : 264 ).

Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam haditsnya,

وَمَنْ قَامَ بِرَجُلٍ مَقَامَ سُمْعَةٍ، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُومُ بِهِ مَقَامَ سُمْعَةٍ وَرِيَاءٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.”  (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah, diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.

Amal Kebikan yang dilakukan Sia-sia
Setiap amal sholih yang dilakukan yang didalamnya terdapat sum’ah dan riya’ akan menjadi sia-sia, tiadak bermanfaat  kelak di mahkamah Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang berperang dijalan Allah dan hanya berharap wajah Allah dan pahala dari-Nya saja maka setiap gerak aktifitasnya menuai pahala. Sebaliknya orang yang berperang dengan tujuan agar dilihat  sebagai pemberani dan supaya kesohor terdengar ditelinga manusia   maka kelak dia kembali dengan tanpa membawa manfaat . Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Dari Mu'adz bin Jabal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Perang ada dua, adapun orang yang mengharapkan wajah Allah dan mentaati pemimpin serta menafkahkan hartanya yang berharga serta menjauhi kerusakan maka tidur dan terjaganya seluruhnya adalah pahala, adapun orang yang berperang agar dilihat dan didengar orang serta mendurhakai pemimpin dan membuat kerusakan di muka bumi maka sesungguhnya ia tidak kembali membawa manfaat."  ( HR. Nasai )

Mendatangkan Siksaan

Rukuk dan sujudnya oarang-orang yang riya’ ketika di dunia menjadikannya kelak pada harikiamat disaat akan sujud kepada Allah punggungnya bisa dirunduk-kan  . Sebagaimana Sabda Rasulullah :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ فَيَبْقَى كُلُّ مَنْ كَانَ يَسْجُدُ فِي الدُّنْيَا رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ لِيَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا
Dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb kita menampakkan betisnya, maka sujudlah setiap orang mukmin dan mukminah, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang ketika di dunia ia sujud karena riya` dan sum'ah. Mereka mencoba untuk sujud, namun punggung mereka kembali tegak."  ( HR. Bukhari ).

Penceramah masuk neraka

Seorang penceramah, khotib, juru penyampai, yang sangat fasih mengunakan kalimat -kalimat memukau di hadapan jam’ahnya kalau tidak hati-hati dan meluruskan niatnya , akan terjebak kepada penyakit sum’ah ini. Inilah penyakit yang sering nempel secara samar dihati para juru penyampai .
Rasulullah bersabda :

مَنْ قَامَ يَخْطُبُ لَا يَلْتَمِسُ بِهَا إِلَّا رِيَاءً وَسُمْعَةً أَوْقَفَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَوْقِفَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ

"Barangsiapa yang berbicara dengan tujuan untuk riya dan sum'ah (diperdengarkan kepada orang lain-pent) niscaya Allah Azzawajalla akan menempatkan dia di tempat orang-orang yang riya dan sum'ah (neraka, pent). ( HR. Ahmad ).

Rugi dalam Timbangan

Sum’ah dan riya’ bisa terdapat pada Kuda atau kendaraan yang dimiliki seseorang,  jika kepemilikannya diniatkan fiisabilillah, dan di infakkan di jalan Allah, semata-mata hanya mencari ridha Allah maka keberadaan-nya ada pada jaminan Allah dan terhitung sebagai pahala dalam timbangan Allah. Sebaliknya siapa yang menambatkan kuda atau kendaraannya karena riya’ dan sum’ah maka akan merugi dalam timbangan akhiratnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 "Barangsiapa menambatkan tali kekang kuda di jalan Allah, dan menginfakkannya semata-mata mencari ridla-Nya, maka kenyangnya, rasa laparnya, anginnya, rasa dahaganya, kencingnya, dan kotorannya berada dalam timbangan-Nya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa menambatkan kudanya karena riya' dan sum'ah (ingin didengar orang lain) maka hal itu akan menjadikan ia rugi dalam timbangan-Nya pada hari Kiamat."  ( HR. Ahmad ).

Dipermalukan oleh Allah

Membaca al-Qur’an, dzikir atau  bacaan bacaan yang digunakan untuk ibadah dengan tujuan  agar didengar orang lain sehingga mendatangkan sanjungan dan pujuian dari manusia , maka akan dipermalukan oleh Allah . Allah beri dia ganjaran dengan membuatnya tersohor dan membeberkan aibnya serta menampakkan apa yang ada dalam bathinnya.  sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wasallam :
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Barang siapa menampakkan amalannya agar didengar orang lain, niscaya Allah beberkan aibnya pada hari kiamat, dan siapa yang menampakkan amalannya agar dilihat ( lalu dipuji ) orang, niscaya Allah akan mempermalukannya pada hari kiamat” ( HR. Bukhari ).

Menurut Syeh Al-Utsaimin, tidak ada batasan apakah di dunia atau diakherat saja, karena itu bisa jadi Allah akan membeberkannya di dunia, sehingga orang banyak mengetahui aibnya. Bisa pula juga nanti di akhirat dan inilah yang lebih berat.

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُومُ فِي الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَرِيَاءٍ إِلَّا سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidak ada seorang hamba yang berdiri di dunia diatas pijakan sum’ah dan riya’ kecuali Allah akan mempermalukannya dengan memperlihatkan niat busuknya pada hari kiamat dihadapan makhluk-makhluk-Nya. ( HR. Thobroni ) Hadits hasan.

Memposisikan diri pada posisi orang lain
Barang siapa menempatkan diri pada posisi orang lain dengan rasa sum’ah dan riya’ , misalnya ada seseorang yang memiliki sifat-sifat yang terpuji, karena ketaqwaannya, kemulyaannya, kemasyhurannya, atau karena pengaruhnya yang luas, lantas dimanfaatkan sebagai wasilah untuk mendapatkan pujian dan pengaruh keduniaan dengan menyebut-nyebut atau meng-atas-namakan kedudukannya maka akan Allah tempatkan dia pada posisi  orang-orang  yang sum’ah dan riya’. Sebagaimana Sabda Rasulullah :
من قام برجل مسلم مقام سمعه  فإن  الله يقوم به مقام سمعة يوم القيامة
Barang siapa memposisikan diri pada posisi orang lain karena sum’ah dan riya’, maka pada hari kiamat Allah akan menempatkannya pada posisi orang-orang yang sum’ah dan riya’”. ( HR. Abu Daud ).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

"Barangsiapa mengambil sesuap makanan dari seorang Muslim (dengan zhalim), maka Allah 'azza wajalla akan memberinya makanan yang semisal dari neraka Jahanam. Dan barangsiapa mengambil pakaian seorang Muslim (dengan zhalim) meski hanya sepotong, maka Allah 'azza wajalla akan memakaikan pakaian yang semisal kepadanya dari pakaian neraka Jahanam. Dan barangsiapa memposisikan seorang Muslim pada posisi sum'ah (agar ia didengar orang lain), maka Allah 'azza wajalla akan menyiksanya kelak pada hari kiamat (dan mengumumkannya bahwa ia adalah seorang pendusta)."  (HR. Ahmad).










Share:

Sunday, March 22, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 4)



oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.i (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


Kibir ( sombong )

Berikutnya penyakit yang akan dipertanyakan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala pada hari kiamat adalah penyakit sombong atau kibir . penyakit sombong ini juga termasuk penyakit langka yang sangat membahayakan bagi penderitanya  . Bahkan penyakit ini yang menjangkiti iblis sehingga ia dilaknat oleh Allah dan di masukkan kedalam golongan orang-orang yang inkar atau kafir . Allah memerintahkan kepada para malaikat yang didalamnya ada iblis untuk sujud kapada Adam as . namun Iblis membangkang  sebagaimana Allah firmankan :
 أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ  ,
  Iblis enggan ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ( QS. Al-Baqoroh : 34 )

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kibir adalah menganggap dirinya lebih ( kuat dan sebagainya ); takabbur, sombong, angkuh.

Menurut istilah kibir adalah sikap angkuh, merasa dirinya lebih dari pada orang lain, memandang remeh  orang lain serta tidak mau taat/ tunduk kepada Allah SWT. Sebagaimana Sabda Rasulullah :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“ Kibir (kesombongan)  itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia." ( HR.Muslim ).

Sifat kibir atau sombong  hampir sama dengan sifat ujub. ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah hasil usahanya sendiri. Sedangkan sifat sombong (takbbur) adalah :   angkuh, suka membuang muka serta mengganggap dirinya lebih mampu  dan cendrung  meremehkan orang lain.

Tidak Mendengar Bau Surga

Orang yang sombong, ia tidak bisa masuk surga. Juga tidak bisa mencium bau surga. Bahkan, sekalipun kesombongannya sangat kecil, sebesar biji dzarrah. Padahal bau surga dalam jarak ratusan tahun sudah terdengar baunya, sebagaimana Rasulullah sabdakan :
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :
 Bau surga dapat dirasakan dalam perjalanan 500 tahun. Bau surga ini tidak bisa dicium oleh orang yang mencari keduniaan dengan menggunakan amal akhirat”. (Al- Jami’u Ash-Shagril. hal : 164. Irsyadul Ibad. hal: 63. Bab: Riya”).

Kibir walau sebesar biji sawipun jika bersarang dalam hati seseorang maka ia akan jauh dari surga, bahkan mendengar baunya saja -pun tidak. Sebagaimana Sabda Rasulullah :

مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَفِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ تَحِلُّ لَهُ الْجَنَّةُ أَنْ يَرِيحَ رِيحَهَا وَلاَ يَرَاهَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو رَيْحَانَةَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّ الْجَمَالَ وَأَشْتَهِيهِ حَتَّى إِنِّى لأَحِبُّهُ فِى عَلاَقَةِ سَوْطِى وَفِى شِرَاكِ نَعْلِى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْسَ ذَاكَ الْكِبَرُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ بِعَينَيْهِ

Tidaklah seorang laki-laki meninggal dunia, dan ketika ia meninggal di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari sifat sombong, akan halal baginya mencium bau surga atau melihatnya.” Lalu seorang laki-laki dari suku Quraisy yang bernama Abu Raihanah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, saya benar-benar menyukai keelokan dan menggemarinya hingga pada gantungan cemetiku dan juga pada tali sandalku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu tidaklah termasuk kesombongan, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla itu Indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi sombong itu adalah siapa yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia dengan kedua matanya.” (HR. Ahmad, shahih lighairihi)

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ
 Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.” ( HR. Muslim )

Allah masukkan orang orang yang bernyakit sombong kedalam jahannam sebagaimana Firman Allah :

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. An-Nahl : 29 ).

وَأَهْلِ النَّارِ كُلُّ جَوَّاظٍ عُتُلٍّ مُسْتَكْبِرٍ
“ dan penghuni neraka adalah setiap orang yang berhati keras dan menentang kebenaran lagi sombong." ( HR. Bukhari, Muslim ).

Mendatangkan Murka Allah

مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ، أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ
"Barang siapa merasa besar pada dirinya .atau conkak dalam jalannya, dia akan menemui Allah ‘Azza Wa jalla dalam keadaan murka kepadanya". ( Shahih adabul-mufrad )

أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda: "Makanlah dengan tangan kananmu! Dia menjawab; 'Aku tidak bisa.' Beliau bersabda: "Apakah kamu tidak bisa?" -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya”.

Neraka mengeluh kepada Allah.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Surga dan neraka saling berselisih kepada Tuhan keduanya, surga berkata, 'Wahai Tuhan, mengapa aku tak dimasuki selain orang-orang lemah dan rakyat jelata? ' Sedang neraka berkata, 'Mengapa aku dikhususkan untuk orang-orang yang sombong? ' Allah ta'ala menjawab surga: "Engkau adalah rahmat-Ku", dan Allah berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah Siksa-Ku, yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan masing-masing diantara kalian berdua harus dipenuhi.' Nabi bersabda: "Adapun surga sesungguhnya Allah tidak menzhalimi satupun dari makhluk-Na, dan Allah akan memenuhi neraka dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas mereka dilempar ke dalamnya '(neraka berkata, 'Masihkah ada tambahan) ' (QS. Qaaf ayat: 30) -beliau mengulanginya tiga kali-, kemudian Allah meletakkan telapak kakinya sehingga neraka menjadi penuh, sebagian satu dengan sebagian yang lain saling berhimpitan, neraka pun berkata, 'cukup, cukup, sukup." ( HR. Bukhari ).

Menjadikan Hati Terkunci

Penyakit sombong atau kibir dapat mengunci rapat masuknya iman dan hidayah dari Allah kedalam hati. Hati yang kibir tidak mau menerima petunjuk-petunjuk Rasulullah, senatiasa menutup pintu hatinya dari sunnah rasulullah. Hati yang kibir tidak mau menerima pelajaran karena sudah merasa lebih dan merasa cukup ilmu dibanding yang lain sehingga tertutup dari kebenaran. Allah berfirman :

يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. ( Qs. Al- Mu’min : 35 )

Pintu langit Tertutup

Dalam tafsir Humud dijelaskan bahwa Allah menutup pintu-pintu langit untuk arwah mereka yang sombong lagi mendustakan ayat-ayat-Nya, amal-amal mereka  selama hidupnya tidak terangkat kelangit, juga do’a-do’a yang mereka panjatkan  terhambat tidak bisa menembus langit,   dan mereka tidak akan dimasukkan kedalam surga-Nya,  sampai ada unta masuk kedalam lobang jarum , sebagaimana Firman Allah :
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“ Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit  dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan” .( QS. Al- A’raaf : 40 )

Dibenci oleh Manusia           

Congkak, atau sifat kibir dan sombong sering tergambar dengan suka membuang muka disaat bertemu saudaranya karena sombong, sehingga sifat ini tidak disuka oleh orang lain. Cara berjalannya orang yang sombong, ataupun cara ber-kendaraan, akan sangat dibenci oleh orang lain, karena kesombongan dank e-angkuhannya.  Allah sangat melarang perbuatan semacam ini sebagaimana Firman-Nya :
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. ( QS. Luqman : 18 ).


Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah