ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Wednesday, March 25, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 5)



Oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


SUM’AH



Sebagaimana penyakit riya’ , sum’ah ini juga tergolong penyakit yang bisa menjadikan amal – amal yang dilakukan akan  lenyap tanpa bekas dan manfaat.  Dan sum’ah ini juga termasuk pada dosa syirik kecil. Secara definisi antara riya’ dan sum’ah ini maksud yang dikandung hampir sama.
Riya’ menuntut orang lain untuk bisa melihat amal-amal sahalih yang dilakukannya, sehingga apa yang dilkukannya diniatkan agar orang lain melihat  dan memuji nkebaikan-kebaikan yag dilakukannya. Sebagai misal, ada seseorang yang sholatnya diperbagus dan diperpanjang bila dilihat oleh orang lain,  agar orang lain menilai  khusyuk shalat yang dilakukannya . Namun disaat tidak ada orang lain yang sedang memperhatikannya , maka sholatnya asal-asalan.
Sedangkan sum’ah menuntut orang lain bisa mendengar amal-amal yang dia lakukannya , sehingga orang yang sum’ah ini berupaya memperdengarkan kebaikan atau kebagusan amalnya agar mendapatkan tempat dihati manusia. Seperti , membaca Al-Qur’an dengan niat dperdengarkan kebagusan suaranya untuk manusia, ceramah-ceramah yang disampaikan yang memukau pendengar dengan niat untuk selain Allah.
Kedua-duanya antara riya’ dan sum’ah secara lahiriyah amalan yang dilakukan adalah karena Allah,  namun dalam batinnya sesungguhnya  dia mengingikan datangnya pujiadan sanjungan  dari manusia.

Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani ada mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia.

Sehingga, menurut beliau, semua riya itu termasuk perbuatan tercela. Sedangkan sum’ah, bisa jadi termasuk amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Diera super canggih seperti sekarang ini dimana fasilitas fasilatas untuk berinteraksi social semakin mutakhir maka penyakit sum’ah dan riya’ ini semakin meluas jangakauannya. Penyakit penyakit ini membonceng apasaja yang bisa dikendarai dengan cepat,  terutama dia bisa terbang cepat melauli medsos, seperti,  Watsap, twiter, IG, Facebook, dansebagainya, orang bisa berbuat riya’ dan sum’ah dengan sangat leluasa melauli media media ini,   sehingga sangat berbahaya karena bisa memberikan daftar panjang dalam melakukan dosa dan kemaksiatan yang terus mengalir..( dosa Jariyah ).

Sum’ah melenyapkan Pahala

Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…”  ( QS. Albaqoroh : 264 ).

Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam haditsnya,

وَمَنْ قَامَ بِرَجُلٍ مَقَامَ سُمْعَةٍ، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُومُ بِهِ مَقَامَ سُمْعَةٍ وَرِيَاءٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.”  (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah, diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.

Amal Kebikan yang dilakukan Sia-sia
Setiap amal sholih yang dilakukan yang didalamnya terdapat sum’ah dan riya’ akan menjadi sia-sia, tiadak bermanfaat  kelak di mahkamah Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang berperang dijalan Allah dan hanya berharap wajah Allah dan pahala dari-Nya saja maka setiap gerak aktifitasnya menuai pahala. Sebaliknya orang yang berperang dengan tujuan agar dilihat  sebagai pemberani dan supaya kesohor terdengar ditelinga manusia   maka kelak dia kembali dengan tanpa membawa manfaat . Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Dari Mu'adz bin Jabal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Perang ada dua, adapun orang yang mengharapkan wajah Allah dan mentaati pemimpin serta menafkahkan hartanya yang berharga serta menjauhi kerusakan maka tidur dan terjaganya seluruhnya adalah pahala, adapun orang yang berperang agar dilihat dan didengar orang serta mendurhakai pemimpin dan membuat kerusakan di muka bumi maka sesungguhnya ia tidak kembali membawa manfaat."  ( HR. Nasai )

Mendatangkan Siksaan

Rukuk dan sujudnya oarang-orang yang riya’ ketika di dunia menjadikannya kelak pada harikiamat disaat akan sujud kepada Allah punggungnya bisa dirunduk-kan  . Sebagaimana Sabda Rasulullah :
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ فَيَبْقَى كُلُّ مَنْ كَانَ يَسْجُدُ فِي الدُّنْيَا رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ لِيَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا
Dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rabb kita menampakkan betisnya, maka sujudlah setiap orang mukmin dan mukminah, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang ketika di dunia ia sujud karena riya` dan sum'ah. Mereka mencoba untuk sujud, namun punggung mereka kembali tegak."  ( HR. Bukhari ).

Penceramah masuk neraka

Seorang penceramah, khotib, juru penyampai, yang sangat fasih mengunakan kalimat -kalimat memukau di hadapan jam’ahnya kalau tidak hati-hati dan meluruskan niatnya , akan terjebak kepada penyakit sum’ah ini. Inilah penyakit yang sering nempel secara samar dihati para juru penyampai .
Rasulullah bersabda :

مَنْ قَامَ يَخْطُبُ لَا يَلْتَمِسُ بِهَا إِلَّا رِيَاءً وَسُمْعَةً أَوْقَفَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَوْقِفَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ

"Barangsiapa yang berbicara dengan tujuan untuk riya dan sum'ah (diperdengarkan kepada orang lain-pent) niscaya Allah Azzawajalla akan menempatkan dia di tempat orang-orang yang riya dan sum'ah (neraka, pent). ( HR. Ahmad ).

Rugi dalam Timbangan

Sum’ah dan riya’ bisa terdapat pada Kuda atau kendaraan yang dimiliki seseorang,  jika kepemilikannya diniatkan fiisabilillah, dan di infakkan di jalan Allah, semata-mata hanya mencari ridha Allah maka keberadaan-nya ada pada jaminan Allah dan terhitung sebagai pahala dalam timbangan Allah. Sebaliknya siapa yang menambatkan kuda atau kendaraannya karena riya’ dan sum’ah maka akan merugi dalam timbangan akhiratnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 "Barangsiapa menambatkan tali kekang kuda di jalan Allah, dan menginfakkannya semata-mata mencari ridla-Nya, maka kenyangnya, rasa laparnya, anginnya, rasa dahaganya, kencingnya, dan kotorannya berada dalam timbangan-Nya pada hari Kiamat. Dan barangsiapa menambatkan kudanya karena riya' dan sum'ah (ingin didengar orang lain) maka hal itu akan menjadikan ia rugi dalam timbangan-Nya pada hari Kiamat."  ( HR. Ahmad ).

Dipermalukan oleh Allah

Membaca al-Qur’an, dzikir atau  bacaan bacaan yang digunakan untuk ibadah dengan tujuan  agar didengar orang lain sehingga mendatangkan sanjungan dan pujuian dari manusia , maka akan dipermalukan oleh Allah . Allah beri dia ganjaran dengan membuatnya tersohor dan membeberkan aibnya serta menampakkan apa yang ada dalam bathinnya.  sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wasallam :
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Barang siapa menampakkan amalannya agar didengar orang lain, niscaya Allah beberkan aibnya pada hari kiamat, dan siapa yang menampakkan amalannya agar dilihat ( lalu dipuji ) orang, niscaya Allah akan mempermalukannya pada hari kiamat” ( HR. Bukhari ).

Menurut Syeh Al-Utsaimin, tidak ada batasan apakah di dunia atau diakherat saja, karena itu bisa jadi Allah akan membeberkannya di dunia, sehingga orang banyak mengetahui aibnya. Bisa pula juga nanti di akhirat dan inilah yang lebih berat.

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُومُ فِي الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَرِيَاءٍ إِلَّا سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidak ada seorang hamba yang berdiri di dunia diatas pijakan sum’ah dan riya’ kecuali Allah akan mempermalukannya dengan memperlihatkan niat busuknya pada hari kiamat dihadapan makhluk-makhluk-Nya. ( HR. Thobroni ) Hadits hasan.

Memposisikan diri pada posisi orang lain
Barang siapa menempatkan diri pada posisi orang lain dengan rasa sum’ah dan riya’ , misalnya ada seseorang yang memiliki sifat-sifat yang terpuji, karena ketaqwaannya, kemulyaannya, kemasyhurannya, atau karena pengaruhnya yang luas, lantas dimanfaatkan sebagai wasilah untuk mendapatkan pujian dan pengaruh keduniaan dengan menyebut-nyebut atau meng-atas-namakan kedudukannya maka akan Allah tempatkan dia pada posisi  orang-orang  yang sum’ah dan riya’. Sebagaimana Sabda Rasulullah :
من قام برجل مسلم مقام سمعه  فإن  الله يقوم به مقام سمعة يوم القيامة
Barang siapa memposisikan diri pada posisi orang lain karena sum’ah dan riya’, maka pada hari kiamat Allah akan menempatkannya pada posisi orang-orang yang sum’ah dan riya’”. ( HR. Abu Daud ).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

"Barangsiapa mengambil sesuap makanan dari seorang Muslim (dengan zhalim), maka Allah 'azza wajalla akan memberinya makanan yang semisal dari neraka Jahanam. Dan barangsiapa mengambil pakaian seorang Muslim (dengan zhalim) meski hanya sepotong, maka Allah 'azza wajalla akan memakaikan pakaian yang semisal kepadanya dari pakaian neraka Jahanam. Dan barangsiapa memposisikan seorang Muslim pada posisi sum'ah (agar ia didengar orang lain), maka Allah 'azza wajalla akan menyiksanya kelak pada hari kiamat (dan mengumumkannya bahwa ia adalah seorang pendusta)."  (HR. Ahmad).










Share:

Sunday, March 22, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 4)



oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.i (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


Kibir ( sombong )

Berikutnya penyakit yang akan dipertanyakan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala pada hari kiamat adalah penyakit sombong atau kibir . penyakit sombong ini juga termasuk penyakit langka yang sangat membahayakan bagi penderitanya  . Bahkan penyakit ini yang menjangkiti iblis sehingga ia dilaknat oleh Allah dan di masukkan kedalam golongan orang-orang yang inkar atau kafir . Allah memerintahkan kepada para malaikat yang didalamnya ada iblis untuk sujud kapada Adam as . namun Iblis membangkang  sebagaimana Allah firmankan :
 أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ  ,
  Iblis enggan ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ( QS. Al-Baqoroh : 34 )

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kibir adalah menganggap dirinya lebih ( kuat dan sebagainya ); takabbur, sombong, angkuh.

Menurut istilah kibir adalah sikap angkuh, merasa dirinya lebih dari pada orang lain, memandang remeh  orang lain serta tidak mau taat/ tunduk kepada Allah SWT. Sebagaimana Sabda Rasulullah :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“ Kibir (kesombongan)  itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia." ( HR.Muslim ).

Sifat kibir atau sombong  hampir sama dengan sifat ujub. ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah hasil usahanya sendiri. Sedangkan sifat sombong (takbbur) adalah :   angkuh, suka membuang muka serta mengganggap dirinya lebih mampu  dan cendrung  meremehkan orang lain.

Tidak Mendengar Bau Surga

Orang yang sombong, ia tidak bisa masuk surga. Juga tidak bisa mencium bau surga. Bahkan, sekalipun kesombongannya sangat kecil, sebesar biji dzarrah. Padahal bau surga dalam jarak ratusan tahun sudah terdengar baunya, sebagaimana Rasulullah sabdakan :
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :
 Bau surga dapat dirasakan dalam perjalanan 500 tahun. Bau surga ini tidak bisa dicium oleh orang yang mencari keduniaan dengan menggunakan amal akhirat”. (Al- Jami’u Ash-Shagril. hal : 164. Irsyadul Ibad. hal: 63. Bab: Riya”).

Kibir walau sebesar biji sawipun jika bersarang dalam hati seseorang maka ia akan jauh dari surga, bahkan mendengar baunya saja -pun tidak. Sebagaimana Sabda Rasulullah :

مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَفِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ تَحِلُّ لَهُ الْجَنَّةُ أَنْ يَرِيحَ رِيحَهَا وَلاَ يَرَاهَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو رَيْحَانَةَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّ الْجَمَالَ وَأَشْتَهِيهِ حَتَّى إِنِّى لأَحِبُّهُ فِى عَلاَقَةِ سَوْطِى وَفِى شِرَاكِ نَعْلِى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْسَ ذَاكَ الْكِبَرُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ بِعَينَيْهِ

Tidaklah seorang laki-laki meninggal dunia, dan ketika ia meninggal di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari sifat sombong, akan halal baginya mencium bau surga atau melihatnya.” Lalu seorang laki-laki dari suku Quraisy yang bernama Abu Raihanah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, saya benar-benar menyukai keelokan dan menggemarinya hingga pada gantungan cemetiku dan juga pada tali sandalku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu tidaklah termasuk kesombongan, sesungguhnya Allah ‘azza wajalla itu Indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi sombong itu adalah siapa yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia dengan kedua matanya.” (HR. Ahmad, shahih lighairihi)

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ
 Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.” ( HR. Muslim )

Allah masukkan orang orang yang bernyakit sombong kedalam jahannam sebagaimana Firman Allah :

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS. An-Nahl : 29 ).

وَأَهْلِ النَّارِ كُلُّ جَوَّاظٍ عُتُلٍّ مُسْتَكْبِرٍ
“ dan penghuni neraka adalah setiap orang yang berhati keras dan menentang kebenaran lagi sombong." ( HR. Bukhari, Muslim ).

Mendatangkan Murka Allah

مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ، أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ
"Barang siapa merasa besar pada dirinya .atau conkak dalam jalannya, dia akan menemui Allah ‘Azza Wa jalla dalam keadaan murka kepadanya". ( Shahih adabul-mufrad )

أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda: "Makanlah dengan tangan kananmu! Dia menjawab; 'Aku tidak bisa.' Beliau bersabda: "Apakah kamu tidak bisa?" -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya”.

Neraka mengeluh kepada Allah.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Surga dan neraka saling berselisih kepada Tuhan keduanya, surga berkata, 'Wahai Tuhan, mengapa aku tak dimasuki selain orang-orang lemah dan rakyat jelata? ' Sedang neraka berkata, 'Mengapa aku dikhususkan untuk orang-orang yang sombong? ' Allah ta'ala menjawab surga: "Engkau adalah rahmat-Ku", dan Allah berfirman kepada neraka, 'Engkau adalah Siksa-Ku, yang Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan masing-masing diantara kalian berdua harus dipenuhi.' Nabi bersabda: "Adapun surga sesungguhnya Allah tidak menzhalimi satupun dari makhluk-Na, dan Allah akan memenuhi neraka dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas mereka dilempar ke dalamnya '(neraka berkata, 'Masihkah ada tambahan) ' (QS. Qaaf ayat: 30) -beliau mengulanginya tiga kali-, kemudian Allah meletakkan telapak kakinya sehingga neraka menjadi penuh, sebagian satu dengan sebagian yang lain saling berhimpitan, neraka pun berkata, 'cukup, cukup, sukup." ( HR. Bukhari ).

Menjadikan Hati Terkunci

Penyakit sombong atau kibir dapat mengunci rapat masuknya iman dan hidayah dari Allah kedalam hati. Hati yang kibir tidak mau menerima petunjuk-petunjuk Rasulullah, senatiasa menutup pintu hatinya dari sunnah rasulullah. Hati yang kibir tidak mau menerima pelajaran karena sudah merasa lebih dan merasa cukup ilmu dibanding yang lain sehingga tertutup dari kebenaran. Allah berfirman :

يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. ( Qs. Al- Mu’min : 35 )

Pintu langit Tertutup

Dalam tafsir Humud dijelaskan bahwa Allah menutup pintu-pintu langit untuk arwah mereka yang sombong lagi mendustakan ayat-ayat-Nya, amal-amal mereka  selama hidupnya tidak terangkat kelangit, juga do’a-do’a yang mereka panjatkan  terhambat tidak bisa menembus langit,   dan mereka tidak akan dimasukkan kedalam surga-Nya,  sampai ada unta masuk kedalam lobang jarum , sebagaimana Firman Allah :
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“ Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit  dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan” .( QS. Al- A’raaf : 40 )

Dibenci oleh Manusia           

Congkak, atau sifat kibir dan sombong sering tergambar dengan suka membuang muka disaat bertemu saudaranya karena sombong, sehingga sifat ini tidak disuka oleh orang lain. Cara berjalannya orang yang sombong, ataupun cara ber-kendaraan, akan sangat dibenci oleh orang lain, karena kesombongan dank e-angkuhannya.  Allah sangat melarang perbuatan semacam ini sebagaimana Firman-Nya :
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. ( QS. Luqman : 18 ).


Share:

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 3)



oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)

'UJUB

Terkadang seseorang sudah merasa terlepas dari penyakit riya’ jauh dari penyakit hasad dan dengki, namun secara tidak sadar jiwanya masih terbelenggu dengan penyakit ujub. Padahal penyakit ini juga bisa menggelontorkan amal kebaikan sebagaimana riya’. Ujub juga termasuk pada ranah syirik kecil, dan bisa menenggelamkan penderitanya  di neraka jahannam. Kagum pada dirinya sendiri, bangga dengan amalannya sendiri, bangga dengan ilmunya, nasabnya, hartanya, pengruhnya, jabatannya, keberhasilan dakwahnya dan sebagainya yang dirasa paling hebat adalah dirinya,  itulah ujub.

Ujub Menurut Para Ulama

Menurut Imam Al-Ghazali, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.”

Ibnu Al-Mubarok pernah ditanya apa itu ‘Ujub ? Dia menjawab “ engkau merasa  bahwa dirimu punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain . Aku tidak mengetahui sesuatu apada diri orang yang Shalat yang lebih jelek dari ‘ujub “.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “ sering orang menyamakan antara riya’ dengan ujub, kemudian dia menjelaskan perbedaan keduanya, “ Riya’ terkait dengan syirik atau menyekutukan Allah dengan makhluq,  sedangkan ujub adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Allah dengan dirinya sendiri “.
Dalam bahasa arab,  ‘ujub berarti : “ kagum”. Orang yang ‘ujub adalah orang yang kagum kepada apa yang ada pada dirinya sendiri, baik itu kebaikan ataupun keburukan. Jika dikatakan, “ si polan ujub pada dirinya sendiri”, berarti ia kagum pada pemikiran dan dirinya sendiri . ( Dr. Sulayman Al-Asyqar, Ikhlas ).

Ujub penyakit jiwa membinasakan

Perasaan bangga yang terselip  ada pada diri karena ‘ujub ini , bisa mjenjadikan seseorang terjerembab kejurang kebinasaan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Tiga  perkara  yang  membinasakan,  rasa  pelit  yang ditaati,  hawa  nafsu  yang  diikuti  dan  ujubnya  seseorang terhadap  dirinya  sendiri"  (HR  at-Thobroni  dalam  AlAwshath) 

Bahkan perasaan bangga terhadap perbuatan baik yang dilakukannya-pun juga dapat menghantarakan seseorang kedalam keburukan, semisal ada seseorang yang merasa bangga pada dirinya sendiri, karena ceramahnya yang sangat memukau hingga  banyak pengikut dan jama’ahnya , lantas dalam hatinya terbersit kekaguman pada diri sendiri dan berkata dalam hatinya “itulah aku, hanya aku yang bisa berbuat sepertini”, maka dia telah jatuh dalam kebinasaan amalnya.

Ubaidillah bin Abu Ja’far Al-Mishri , pernah memberi nasihat untuk murid beliau , “Jika engkau duduk di suatu majelis lalu engkau berbicara kemudian engkau merasa bangga dengan hal itu, maka tahanlah. Dan jika engkau berada di suatu majelis dan engkau diam lalu engkau merasa bangga dengan diammu itu, maka berbicaralah. Lihat dan perhatikan hawa nafsumu dan selisihilah .” (dalam Tahdzibil Kamal fii Asmaa-i Ar-Rijaal)

Said bin Jabir berkata : "Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan baiknya itu menyebabkan ia masuk neraka, dan sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan buruk lalu perbuatan buruknya itu menyebabkan dia masuk surge , hal itu dikarenakan perbuatan baiknya itu manjadikan ia bangga pada dirinya sendiri sementara perbuatan buruknya menjadikan ia memohon ampun serta bertobat kepada Allah karena perbuatan buruknya itu". (Majmu 'Al-Fatawa 10/277)



Rajin Ibadah diancam Neraka pelaku dosa masuk Surga
Dalam hadits riwayat Abu Dawud, ada dua orang bersaudara di zaman Bani Israil, yang satu bermaksiat, sedang yang satu lagi rajin ibadah. Seseorang yang rajin ibadah ini senantiasa memperhatikan kepada saudaranya yang mengerjakan dosa tatkala berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!”, suatu ketika orang yang rajin beribadah ini memergoki saudaranya sedang mengerjakan dosa, lalu ia berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!”
Namun saudaranya balik menjawab, “Demi Tuhanku, biarkanlah diriku, dan memangnya kamu dikirim untuk mengawasiku?” Maka orang yang rajin beribadah itu berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga.” Maka Allah mencabut nyawa keduanya, dan keduanya berkumpul bersama di hadapan Allah. Allah berfirman kepada orang yang rajin beribadah, “Apakah kamu mengetahui Diriku atau berkuasa terhadap apa yang Aku lakukan dengan Tangan-Ku?”, maka Allah berfirman kepada orang yang mengerjakan dosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku”, sedangkan kepada yang satu lagi Allah berfirman, “Bawalah dia ke neraka.” Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis ini berkata, “Demi Allah yang diriku di Tangan-Nya, ia telah mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya binasa dunia dan akhirat.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ اَهْلَكَهُمْ
Barangsiapa yang mengatakan “Orang-orang telah binasa”, maka sebenarnya kata-kata itu telah membinasakannya.”
Menganggap diri lebih baik dan lebih suci dari pihak lain sangat dicela oleh Allah sebagaimana Firman Allah :
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. ( QS. An-Najm : 32 ).
Rasulullah bersabda :
لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ، الْعُجْبَ الْعُجْبَ»
jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya yakni ujub,ujub  ( HR. Al-Baihaqi ).





Share:

Thursday, March 19, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 1)


oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


Dalam setiap acara- acara pertemuan, terutama pertemuan para manula seringkali terdengar obrolan asyik seputar penyakit, terutama penyakit penyakit yang sering terdapat pada mereka. Terdengar keluhan,  "cholesterol saya sekian sekian, asam urat saya tinggi, tekanan darah saya, diabet saya, asam lambung saya, lutut saya sudah ngilu-ngilu, penglihatan saya," ….riuh dengan nama nama penyakit dan keluhan-keluhan….yang munkin para pembaca bisa menambah lebih banyak daftar penyakit dan keluhan yang sering didengar…tentang kepanikan dunia yang diguncang corona misalnya. Semua Negara –negara besar lockdown, dan bahkan Negara sekelas Saudi Arabia, dengan Makkah Madinah-nya  yang nyaris tak pernah sepi ,setiap menit didatangi beribu ribu orang dari berbagai belahan dunia untuk datang beribadah juga lockdown, sepi mendadak dihempas corona. Dunia menjadi sangat panik dan ketakutan. Sekolah-sekolah mendadak diliburkan pemerintah. Dan nyaris semua sector menjadi lumpuh tak berdaya melawan corona.

Penyakit yang ditakutkan Rasulullah.

Nyaris tidak kita temukan dan kita  dengar orang me-ngelauhkan orang mengeluhkan tentang penyakit “ Hasad, dendam, iri, culas, dusta, sum’ah, ujub,riya’,  nifaq, dan yang lainnya, padahal penyakit penyakit ini telah lama bersaranga dalam dirinya. Dan salah satu penyakit diantara penyakit-penyakit itu ada yang sangat di khawatirkan oleh Rasulullah akan menjakiti umatnya. Pernah Suatu ketika Rasulullah berbda :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ " قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: " الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً "

"Sesungguhnya  perkara  yang  paling  aku  khawatirkan  menimpa  kalian  adalah  syirik  kecil",  mereka  (para  sahabat)  berkata,  "Wahai  Rasulullah,  apa  itu  syirik  kecil?",  beliau  berkata,  "Riyaa',  pada  hari  kiamat  tatkala  manusia  dibalas  amal  perbuatan  mereka  maka  Allah  berkata  kepada  orang-orang  yang  riyaa',  "Pergilah  kaliah  kepada  orang-orang  yang  dahulu  kalian  riyaa'  kepada  mereka  (mencari  pujian  mereka  -pen) semasa di dunia, maka lihatlah apakah kalian akan  mendapatkan  ganjaran  kalian  dari  mereka? ( HR. Ahmad ).

Rasulullah tidak meng-khawatirkan penyakit-penyakit jasmani yang akan menimpa ummatnya , karena penyakit – penyakit ini tidak akan ditanyakan oleh Allah pada hari kiamat kelak.

Beramal Surga Tapi Masuk Neraka

Penyakit riyaa’ ini bisa menjadikan penderitanya walaupun dia beramal surga akan tetapi akan dimasukkan oleh Allah kedalam panasnya api neraka. sebagaimana sabda Rasulullah :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah, maka dia didatangkan, dan diperlihatkan kepadanya segala nikmat yang telah diberikan kepadanya di dunia, lalu ia mengenalinya, maka Allah berkata kepadanya : apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat ini ? maka orang itu menjawab : aku berperang di jalan-Mu sampai mati syahid, maka Allah berkata : kamu telah berdusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan bahwa kamu adalah seorang pemberani, dan yang sedemikian itu telah diucapkan ( kamu telah dipuji-puji dst sebagai imbalan apa yang telah kamu niatkan) , maka diperintahkan supaya dia diseret di atas mukanya sampai dilemparkan di api neraka.
Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan menghapal al-Qur'an, lalu dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya segala nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya di dunia, maka diapun mengenalinya, maka dikatakan kepadanya : apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat ini ? maka dia menjawab : aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan membaca al-Qur'an untuk-Mu. Maka Allah berkata : kamu berdusta, akan tetapi kamu belajar dengan tujuan agar engkau dibilang seorang alim, dan engkau membaca/menghapal al-Qur'an supaya dibilang engkau seorang penghapal/pembaca al-Qur'an yang baik, dan semua itu sudah dikatakan ( kamu telah mendapat pujian yang kamu harapkan sebagai imbalan niatmu), lalu diperintahkan agar dia diseret di atas mukanya sehingga dia dilemparkan ke api neraka,
Dan seseorang yang Allah berikan kepadanya keluasan rizki dan diberikan kepadanya segala macam harta, lalu dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya segala nikmat yang telah diberikan kepadanya dan dia mengenalinya, maka Allah berkata kepadanya : apa yang kamu kerjakan dengan nikmat ini ? maka dia menjawab : tidak ada suatu jalan yang Engkau suka harta yang telah Engkau berikan agar dibelanjakan padanya kecuali aku telah membelanjakan harta itu di jalan tersebut karena Engkau, maka Allah berkata : Kamu berdusta, akan tetapi kamu melakukan itu agar dibilang bahwa kamu adalah seorang dermawan dan yang sedemikian itu telah dikatakan ( kamu telah mendapat pujian tersebut di dunia sebagai imbalan dari niatmu itu ), lalu diperintahkan agar dia diseret di atas mukanya sehingga dia dilemparkan ke api neraka.( HR.Muslim )

(bersambung)
Share:

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Oleh Allah (bagian 2)

Oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


HASAD

Nabi shalallahu’alihi wasallam mengingatkan,  Akan menjalar kepadamu suatu penyakit yang menjalar kepada umat sebelummu, yaitu hasad dan kebencian. Kebencian itu mencukur, aku tidak katakan mencukur rambut,akan tetapi mencukur agama. Demi(Allah) yang jiwaku berada ditangannya,sesumgguhnya kalian tidak masuk surga sampai beriman,dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai.Maukah aku ceritakan dengan suatu hal yang menguatkan kecintaan diantara kalian? Sebarkanlah salam diantara kalian” ( HR at-Tirmidzi ).

Hasad ini adalah penyakit paling tua dalam sejarah manusia  yang kelak akan dipertanyakan oleh Allah kepada penderitanya. Orang yang terjangkit penyakit hasad ini terkadang tidak merasa kalau dirinya mengidap penyakit berbahaya ini. Iblis yang semula tataran keta’atannya kepada Allah setara para malaikat tiba-tiba menjadi makhluq pembangkang pertama lantaran terkena penyakit hasad ini, sehingga dia dilaknat dan diusir oleh  Allah Subhanahu Wata’ala dari surga. Menyedihkannya justru penyakit ini ditularkan oleh Iblis kepada manusia. Dan karena penyakit ini pula Allah mengajarkan kepada kita untuk berlindung kepada Allah dari ke-hasadan orang-orang yang hasad.

Pengertian Hasad

Ulama berbeda pandangan dalan mendefinisikan tentang “ hasad” walau sesesungguhnya masih dalam tujuan yang sama .
Kata “ hasad “ , sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan arti “ iri” atau “ dengki”.

Ibnu Hajar mengatakan, Hasad adalah: “ seseorang ber angan-angan ( menginginkan )  hilangnya nikmat dari orang yang memilikinya”.

Hasad adalah,  “sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya “. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, 10/111)

An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin, Bab Tahrimil Hasad ).

Imam Al-Ghazali mengatakan, “ kethuilah tidaklah hasad itu kecuali kepda perkara nikmat. Jika Allah memberikan suatu nikmat kepada saudaramu, maka engkau akan mengalami satu dari dua hal. Pertama, engkau membenci nikmat tersebut dan menginginkan nikmat itu hilang, maka inilah yang disebut ” hasad”.
Atau kedua, engkau tidak menginginkan hilangnya nikmat, juga tidak membenci adanya nikmat itu pada saudaramu, tapi dalam hatimu muncul keinginan untuk memiliki nikmat yang sama dengan yang dimiliki saudaramu, maka itulah yang disebut dengan “ ghitbah “  (bila ghitbah ini terjadi kepada hal yang jelek atau maksiat maka berdosa).

Hasad adalah tidak suka atau tidak senang hati kepada segala nikmat, kelebihan, keberhasialan dan keutamaan yang dimiliki oleh orang lain yang terkadang berbentuk kekayaan, harta benda, kedudukan, kehormatan, dan sebagainya serta selalu berharap segala nikmat tersebut hilang dari orang lain.
Sebaliknya hasad ini menginginkan orang lain jatuh, celaka,  berada dalam kesempitan dan kesusahan, kekurangan dan kehinaan, serta penderitaan sehingga hatinya menjadi senang.
Orang yang hasad hatinya selalu gelisah, tidak tenang, hidupnya senantiasa dihantui kecemasan dan terombang ambing, ini semua terjadi bukan karena dirinya diliputi kekurangan tetapi karena sibuk, perhatiaannya terfokus pada kelebihan yang dimiliki orang lain, sehingga lupa mengoreksi diri .

Sebab Munculnya Hasad

Sebab-sebab terjadinya hasad banyak sekali. Di antaranya permusuhan   kenecian, takabur (sombong),  ‘Ujub (bangga diri) , ambisi, bakhil serta buruknya akhlaq.

Orang yang tertanam dalam hatinya kebencian, baik karena permusuhan atau karena tersinggung dan tersakiti,  ini akan menjadi penyebab terbesar munculnya api hasad pada diri seseorang , karena Kedengkian itu menuntut adanya pembalasan. sehingga apabila musuhnya tertimpa bala`, celaka, dan susah  ia pun menjadi senang.
Sebaliknya, jika yang dimusuhinya memperoleh nikmat, kemenangan dan keberhasilan , maka hatinya menjadi sedih gelisah dan sesak menyempit.  Dan ia merasa sangat tidak suka. Allah menggambarkan kondisi kejiwaan yang seperti ini akan dialami oleh orang-orang munafiq , sebagaimana Firman Allah :
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. ( QS. Ali Imran : 120 ).

Maka, hasad senantiasa diiringi dengan kebencian dan permusuhan.

Adapun hasad yang ditimbulkan oleh kesombongan, adanya perasaan tidak suka bila ada orang yang setingkat dengannya apalagi melebihinya, seperti bila orang yang setingkat dengannya memperoleh harta atau kedudukan maka ia khawatir orang tadi akan lebih tinggi darinya.  Sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an tentang sikap sombong Iblis disaat Allah perintahkan sujud kepada Adam karena Iblis merasa melebihi Adam:
قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ () قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ
75. Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?." Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." ( QS. Shad : 75-76 ).

Tidaklah setan dimurkai dan dikutuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan karena hasad dan sikap sombongnya terhadap Adam ‘alaihissalam.
Hasad adalah awal kemaksiatan yang dilakukan Iblis kepada Allah.
Manusia yang pertama kali melakukan hasad dibumi adalah salah seorang anak Adam, ketika kurbannya tidak diterima. Kemudian dia membunuh saudaranya sendiri .
Orang yang hasad selalu dirundung kegalauan melihat nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain, seolah-olah adzab yang menimpa dirinya. Rabbnya murka kepadanya, manusia pun menjauh darinya. Tidaklah anda melihatnya kecuali selalu bersedih hati menentang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Seandainya ia mampu melakukan kebaikan niscaya ia tidak akan banyak beramal dan berpikir untuk menyusul orang yang dihasadi. Dan seandainya mampu melakukan kejelekan, pasti ia akan merampas nikmat saudaranya lalu menjadikan saudaranya itu fakir setelah tadinya kaya, bodoh setelah tadinya pintar, dan hina setelah tadinya mulia. (Ishlahul Mujtama’, hal. 103-104)

Masuk Surga Dengan Tanpa Hasad

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu : "Kami sedang duduk bersama Rasulullah shalalahu'alaihi wasallam, lalu Beliau bersabda : "Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga". Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shalallahu'alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shalallahu'alaihi wasallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin 'Amr bin Al-'Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya :
"Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, "Silahkan".
Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya : "Abdullah bin 'Amr bin 'Ash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat subuh. Abdullah bertutur : "Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.
Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga", lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shalallahu'alaihi wasallam ?". Orang itu berkata : "Tidak ada, amalanku Cuma apa yang kau lihat".
Abdullah bertutur : "Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”
Abdullah bin Amru bin ‘Ash berkata, "Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga), dan inilah yang (kebanyakan) kami tidak mampu." (HR. Ahmad)

(bersambung)
Share:

Wednesday, March 4, 2020

SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MUSIBAH DAN PENYAKIT MENULAR



(Oleh: Prof. Dr. Maksum Radji)

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﻟِﻬَﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻱَ ﻟَﻮْ ﻻَ ﺃَﻥْ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﺍﻟﻠﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ. ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ أَمَّا بَعْدُ؛ ﻓَﻴَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ،ﺃُﻭْﺻِﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻧَﻔْﺴِﻲْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ  ﻭَﺃَﻃِﻴْﻌُﻮْﻩُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮْﻥَ. 



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji marilah kita panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman, Islam dan kesehatan, sehingga sampai saat ini kita masih bisa mensyukuri segala nikmat-Nya, dan istiqomah dalam melaksanakan semua yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya.  
Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarganya, para sahabat dan para pengikutnya yang setia yang InsyaAllah termasuk kita semua yang kelak akan mendapat syafaatnya di yaumil qiyamah. Aamin yaa Rabbal Aalamiin.

Belakangan ini, informasi yang terkait dengan merebaknya wabah pandemi tentang virus corona (covid-19) yang menakutkan mendominasi berbagai media. Seluruh dunia khawatir terhadap dampak penyebaran covid-19 ini, terutama setelah WHO mengumunkan bahwa covid-19 telah tersebar di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Pembicaraan tentang jenis virus corona (covid-19) membanjiri medsos yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat. Ada pakar-pakar bidang kesehatan yang dengan tulus menyampaikan informasi tentang penyebab dan upaya-upaya pencegahannya, namum ada pula yang menjadikannya sebagai bahan candaan dan berbagai info palsu (hoax) yang meresahkan masyarakat.

Sebagai seorang Muslim, ketika kita berhadapan dengan musibah dan merebaknya penyakit menular yang berbahaya ini, kita wajib bersandar kepada Allah semata berpegang teguh syari’at dan tuntunan Islam.
Lantas bagaimanakan sikap seorang muslim dalam menghadapi musibah dan wabah penyakit menular yang sedang merebak saat ini?

Pertama,
Meningkatkan Iman dan taqwa.

Meningkatkan ketaqwaan adalah melaksanakan dengan sungguh-sungguh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bila kita selalu mengingat Allah pasti Allah akan menjaga kita.
Allah SWT berfirman,

وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al-A’raf/ 7: 168)

Allah SWT berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ


"Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-An'am 6: Ayat 17).

Oleh sebab itu setiap manusia wajib untuk senantiasa meningkatkan ketaatan kepada Allâh dan Rasul-Nya. Jauhilah segala tindak maksiat; niscaya Allâh pun akan melindungi kita semua.
Allah SWT berfirman, 

 وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allâh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.  (Ath-Thalaq/65:3).

Allah SWT berfirman:

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا


Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. Al-Ahzab: 17)

Dalam nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”  (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim).



Kedua,
Bertawakkal kepada Allah.

Setiap muslim hendaknya tawakkal kepada Allah. Ingatlah bahwa segala sesuatu atas kuasa Allah dan sudah menjadi takdir-Nya. 

Allah SWT berfirman, 

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 
(QS. At-Taghabun: 11).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.”
(HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Ketiga,
Berikhtiar dan sandarkanlah ikhtiar hanya kepada Allah semata

Lakukanlah berbagai upaya uintuk menangkal dan mengobati penyakit. Berobat dan mencari penyebab penyakit tidaklah bertentangan dengan tawakkal. Namun sandarkanlah semua ikhtiar tersebut hanya kepada yang Maha Kuasa, karena hanya dengan izin Allah semata datangnya kesembuhan dari suatu penyakit. 

Sesungguhnya syari'at Islam mengajarkan untuk melakukan upaya pencegahan sebelum sakit dan berobat ketika sakit, dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalam menghadapi wabah penyakit menular, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk berobat atau menghindarkan diri dari wabah penyakit yang sedang menular.
Dri Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا.

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.”
(Muttafaqun ‘alaihi).

Keempat,
Berdoa kepada Allah.

Umat Islam berdoa untuk mencegah datangnya musibah, memperkuat diri dengan dzikir dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulallah. 

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ


“Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: 
بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

"Dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui". Sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). 



Kelima,
Perbanyak bershodaqoh.

Banyak hadits Rasulullah yang mengajarkan kita untuk   bersedekah agar terhindar dari musibah dan penyakit menular.

“Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak.”
(Riwayat Imam Thabrani).

“Bersegeralah bersedekah, sebab wabah dan bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (HR. Imam Baihaqi).

Keenam,
Bersyukur dan bersabar.

Allah SWT berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ,  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ .  أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (segala sesuatu milik Allah dan kembali kepada Allah). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
 Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).


Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Demikianlah sikap seorang mukmin ketika ditimpa oleh sebuah musibah termasuk wabah penyakit menular. Meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, berikhtiar seraya bertawakal kepada Allah, berdoa dan bersabar serta memperbanyak shadaqoh, mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib, serta menolong sesama dengan ikhlas karena Allah, merupakan sikap yang terpuji, Insya Allah dapat menghindarkan kita dari mara bahaya dan penyakit menular yang membahayakan diri kita.
Marilah kita sadari bahwa sesungguhnya musibah terbesar yang lebih kita khawatirkan adalah musibah yang menimpa agama, yaitu kerusakan akidah dan akhlak umat Islam, yang merupakan musibah terbesar di dunia dan akhirat.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan pertolongan dan lindungan-Nya bagi kita semua, sehingga kita terhindar dari bencana dan penyakit yang menular.

Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.


Pondok Babussalam Socah, Bangkalan,  4 Maret 2020.


(*Disarikan dari berbagai sumber)






Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah