ISLAMIC EDUCATION

  • THE REAL NEXT MOSLEM GENERATION

    Bersahabat dengan Mushaf

  • Program Pembelajaran

    Tahfidul Qur'an, BTQ (Baca Tulis Qur'an),Public Speaking, Dakwah Media

  • Character Building and Parenting

    Outbond, Public Speaking, FGD (Focus Grub Dissussion), Problem Solving

  • Pengarahan Minat dan Bakat

    Kelas Intensif Berdasarkan Spesifikasi Keahlian

  • Society Relation

    Membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar demi tercapainya misi perwujudan desa qur'ani

Saturday, April 4, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 7)


oleh : Ust. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


JUBN ( PENGECUT )


Al-Jubn ( pengecut ) merupakan lawan kata dari Syaja’ah (   الشجاعة ) keberanian.
Menurut  Ibnu Maskawaih “jubn “ adalah : Takut kepada hal yang tidak pantas ditakuti “. ( Tahdzibul Akhlaq ).
Prof. Yunahar Ilyas memberikan penjelasan tentang Jubn ini adalah: “Takut menghadapi musuh, takut menyatakan kebenaran, takut gagal, takut mengahadapi resiko, dan ketakutan-ketakutan yang lainnya”.  Selanjtnya beliau mengatakan, penakut adalah sifat yang tercela, sifat oaring-orang yang tidak benar-benar takut kepada Allah. Pribahasa mengatakan :
من خاف الله خوّف الله منه كل شيئ ومن لم يخف الله خوّف الله من كل شيئ

"siapa yang takut kepada Allah, Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadanya. Sebaliknya, siapa yang tidak takut kepda Allah, maka Allah akan membuat ia takut kepda segala sesuatu” ( Kuliah Akhlaq ).

Jubn atau pengecut,  digambarkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala sebagai bentuk rasa takut, cemas  disaat akan berhadapan dengan musuh,  seperti yang terjadi pada kaumnya Nabi Musa as. Saat Nabi Musa mengajak mereka memasuki palestina . peristiwa ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 21- 22
يَاقَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu , dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. ( QS. Al-Maidah : 21 )

قَالُوا يَامُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ
Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya." ( QS. Al-Maidah 22 ).

Pengecut adalah sifat yang paling buruk

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

شَرُّ مَا فِي الرَّجُلِ شُحٌّ هَالِعٌ أَوْ جُبْنٌ خَالِعٌ
Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit, dan sifat pengecut yang sangat pengecut”  ( Abu Daud ).

Begitu jeleknya sifat jubn ini sampai-sampai Rasulullah berlindung dari penyakit  ini sebagaimana sabda beliau :

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَحَدَّثْتُ بِهِ مُصْعَبًا فَصَدَّقَهُ
"Sesungghnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlindung dengan membaca kalimat-kalimat tersebut pada akhir shalat (yaitu): "ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL JUBNI WA A'UUDZU BIKA AN URADDA ILAA ARDZALIL 'UMURI WA A'UDZU BIKA MIN FITNATID DUNYA WA A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIL QOBRI" ("Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada serendah-rendahnya usia (pikun) dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur") Lalu aku ceritakan hal ini kepada Mush'ab dan dia membenarkannya.” ( HR. Bukhari )

Pengecut tidak akan masuk surga

Sabda Rasulullah :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَخِيلٌ وَلَا خَبٌّ وَلَا خَائِنٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ الْمَمْلُوكُونَ إِذَا أَحْسَنُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَوَالِيهِمْ
"Tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai kasar, dan orang yang pertama kali mengetuk pintu syurga adalah para hamba sahaya yang bagus dalam menjalankan apa yang ada diantara mereka dan Allah Azza wa Jalla serta apa yang ada diantara mereka dan tuannya."( HR Ahmad)

Pengecut adalah naluriah

Umar pernah menyatakan bahwa jubn adalah naluri yang ditanamkan kedalam  diri orang yang dikehendaki oleh Allah :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَرَمُ الْمُؤْمِنِ تَقْوَاهُ وَدِينُهُ حَسَبُهُ وَمُرُوءَتُهُ خُلُقُهُ وَالْجُرْأَةُ وَالْجُبْنُ غَرَائِزُ يَضَعُهَا اللَّهُ حَيْثُ شَاءَ فَالْجَبَانُ يَفِرُّ عَنْ أَبِيهِ وَأُمِّهِ وَالْجَرِيءُ يُقَاتِلُ عَمَّا لَا يَئُوبُ بِهِ إِلَى رَحْلِهِ وَالْقَتْلُ حَتْفٌ مِنْ الْحُتُوفِ وَالشَّهِيدُ مَنْ احْتَسَبَ نَفْسَهُ عَلَى اللَّهِ
Umar bin Khattab berkata; "Kemuliaan seorang mukmin adalah ketakwaannya, agamanya adalah kehormatannya, wibawanya adalah akhlaknya, sedangkan keberanian dan jiwa pengecut adalah adalah naluri  yang Allah tanamkan kepada siapa yang Ia kehendaki. Orang yang takut akan lari dari membela bapak dan ibunya, sedang orang yang berani akan berperang membela sesuatu yang tidak akan dibawa ke dalam rumahnya. Gugur dalam peperangan adalah salah satu jenis kematian, sedangkan syahid adalah orang yang menyerahkan jiwanya kepada Allah." ( HR. Malik ).

Pengecut ciri orang munafik
Orang-orang munafik tidak mau ikut berjihad, karena lemah iman dan dalam hatinya  adaperasaan ketir, sehingga membuat banyak alasan dusta . mereka mendatangi Rasulullah dengan merangkai cerita bahwa mereka takut tergoda oleh rayuan wanita wanita Romawi , agar dizinkan untuk tidak ikut berperang, sehubungan dengan ini maka turunlah ayat , sebagaimana Firman Allah :
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah[645]. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. ( QS. At-Taubah : 49 ).
Semakin menjadi rasa takutnya mereka disaat bahaya benar-benar telah datang , namun disaat bahaya telah berlalu mereka berbalik membuat cercaan dengan lidah yang tajam, begitulah orang-orang munafik.
Sebagaimana yallah Firmankan dalam Al-Qur’an :
أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati  dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ( QS. Al-Ahzab : 19 ).

Pengecut sangat dicela oleh Allah
Allah Subhaanahu wata’ala sangatlah mencela orang-orang yang takut pergi kemedan perang karena tidak berani menghadapi musuh, sebagaimana Firman-Nya :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. ( QS. An-Nisa : 77 ).




Share:

Wednesday, April 1, 2020

Penyakit-penyakit Berbahaya yang Akan Dipertanyakan Allah (Bagian 6)


Oleh : Ust. Drs. Rik Suhadi, S.Th.I (Pengasuh Pondok Babussalam Socah)


BAKHIL ( البخل )


Bakhil   secara bahasa berarti , menahan, mencegah, dan  merupakan lawan dari kemurahan hati, dermawan dan suka mengeluarkan  bantuan. Dalam bahasa arab kata  “bakhil “ sering juga  disebut dengan  شح  ( syuhhun ),  yang berarti sangat pelit atau kikir, tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan Ikhlas hati. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 128 :
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ
…..dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…

Bakhil menurut para Ulama

Al-Quthubi mengatakan, bakhil adalah manusia yang menahan hartanya , tidak memberikan haknya yang wajib, seperti zakat, infak, dan sedekah fiisabilillah. Adapun menahan harta pada perkara yang tidak wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat, bukanlah kebakhilan.

Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan, makan bakhil dalam ayat ini adalah mereka yang tidak mau membelanjakan hartanya di jalan Allah dan tidak mau menunaikan zakatnya .

Dalam tafsir Humud, memberikan contoh bakhil seperti,  tidak mau mengeluarkan zakat, tidak mau peduli atau tidak mau berkoraban disaat orang lain atau umat membutuhkan ( bantuan ).

Ibnu Abbas mengatakan, mereka adalah orang orang yahudi, mereka bakhil, yaitu tidak mau menjelaskan kepada manusia tentang apa saja yang ada dalam Taurat. Juga mereka menyembunyikan tentang kenabian Muhammad beserta sifat-sifatnya.

Dari uaraian para ulama tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa bakhil atau kikir adalah, tidak adanya kepedulian atau kemurahan hati  untuk melepaskan bagian dari haknya baik berupa harta, tenaga dan fikirannya untuk fiisabilillah, atau untuk kepentingan kemaslahatan umat. Seperti bakhil dengan harta, tidak mau mengeluarkan zakat,infaq dan sedekahnya. Bakhil dengan tenaganya tidak mau menolong orang yang sedang kesulitan yang membutuhkan bantuan tenaganya, padahal dia mampu menolongnya. Bakhil dengan ilmu dan pemikirannya, seperti tidak mau berbagi ilmu, padahal dia punya ilmunya, tidak mau menyampaikan ilmu agama padahal ia ahli agama , pelit untuk memberikan informasi-informasi penting untuk kemaslahatan umat dansebagainya.

Bakhil Penyebab Kehancuran

karena bakhil ini dapat menyebabkan kecelakaan, pertumpahan darah, dan menghalalkan yang haram, maka  bakhil ini diperintahkan untuk dijauhi.  Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam :
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
"Hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." ( HR. Muslim ).

Dalam hadits yang lain rasulullah bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

"Jauhilah sifat pelit, karena sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sifat pelit. Mereka diperintahkan untuk bersifat bakhil maka merekapun bersifat bakhil dan mereka diperintahkan untuk memutuskan hubungan kekerabatan maka merekapun memutuskan hubungan kekerabatan, dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka merekapun berbuat dosa." ( HR. Abu Daud )

Bahkan para malaikat selalu mendo’akan kehancuran setiap pagi bagi orang yang bakhil, sebagaimana sabda rasulullah : 
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ". ( HR. Bukhari )

Mendatangkan Adzab di Akhirat

Tidak hanya dalam kehidupan dunia saja bakhil ini bisa mendatangkan kehancuran tetapi sifat bakhil juga berimbas sampai pada kehidupan akhirat.  Orang yang bakhil kelak dihari kiamat akan mendapatkan siksaan yang pedih. Allah berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. Ali-Imran : 180

As-Sa’di mengatakan, ”  janganlah orang-orang  yang menahan keutaman keutamaan yang telah Allah karunialkan kepada mereka itu baik berupa harta kekayaan, kemulyaan, prestasi, kelas tinggi dan sebagainya itu adalah lebih baik bagi mereka, justru anggapan itu adalah sangatlah buruk bagi agama dan kehidupan dunia mereka.
Kelak pada hari kiamat  harta yang mereka bakhilkan itu,  yang tidak mau dizakatkan, diinfakkan dan tidak mau disedekahkan di jalan Allah itu akan Allah kalungkan dilehernya. Mereka akan diadzab dengan hartanya itu ,sebagaimana hadits :
مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ - يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ - ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ، ثُمَّ تَلاَ: (لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ) " الآيَةَ
"Barangsiapa yang Allah berikan harta namun tidak mengeluarkan zakatnya maka pada hari qiyamat hartanya itu akan berubah wujud menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari qiyamat lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya, yaitu dengan mulutnya seraya berkata,: 'Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu". Kemudian Beliau membaca firman Allah subhanahu wata'ala QS Alu 'Imran ayat 180 yang artinya "(Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, ……"). ( HR. Bukhari ).

Selalu dieprtemukan dengan kesulitan

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dirogoh dan dikeluarkannya.

Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi saw. dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah saw. bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga." Pemilik pohon kurma itu berkata: "Hanya sekian tawaran tuan?" Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Pemilik pohon kurma itu pergi. Pembicaraan dengan Nabi saw. itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai milikku?" Rasulullah menjawab: "Ya." Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu. Pemilik pohon kurma itu berkata: "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad saw. menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu: "Apakah kau mau menjualnya." Ia menjawab: "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memnuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi: "Berapa yang engkau inginkan?" Ia berkata: "Aku inginkan empat puluh pohon kurma." Ia pun terdiam kemudian berkata lagi:
 "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jiengkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.
Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan. " Maka berangkatlah Rasulullah saw. kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda: "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu."Maka turunlah ayat ini (S.92:1-akhir surat), sebagai bentuk pujian bagi dermawan yang iman dan taqwa, sekaligus sebagai celaan bagi yang bakhil dan tidak iman kepada pahala terbaik di surga.  
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى () فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى () وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى () وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, ( tidak butuh pertolongan Allah ), serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”.

Jauh dari Allah
Orang yang kikir hatinya akan jauh dari Allah karena tidak bisa bertemu dan  menyatu dalam hati seseorang antara keimanan yang kuat dengan sifat kikir dalam dirinya. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wasallam :
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ،
Tidak akan berkumpul antara sifat pelit dan iman dalam diri seorang muslim." ( HR. Ahmad )

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي مِنْ بَيْتِي إِلَّا مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ أَفَأُعْطِي قَالَ نَعَمْ وَلَا تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ يَقُولُ لَا تُحْصِي فَيُحْصَى عَلَيْكِ
dari Abu Mulaikah dari Asma' binti Abu Bakar ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang diberikan oleh Zubair kepadaku, apakah aku harus bersedekah dengannya?" Nabi menjawab: "Ya, dan janganlah engkau bakhil, maka Allah akan bakhil kepadamu ( HR. Tirmidzi )

Kebakhilan menutup Pintu Pahala
sebagaimana Firman Allah :
هَاأَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. ( QS. Muhammad : 38 ).
Dalam tafsir Humud dijelaskan bahwa Allah menyeru orang-orang islam untuk membelnjakan hartanya dijalan Allah, memberikan hartanya untuk para mujahid yang berjuang melawan musuh musuhmereka, memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang berjuang menolong dan menegakkan agamaNya, tetapi ada diantara mereka orang yang beriman yang bakhil untuk infak di jalan ini dan tidak mau berjihad di jalan Allah ini. Maka Siapa yang bakhil maka dia telah mencedrai dirinya sendiri, krena telah menutup pintu masuknya pahala, menutup pintu masuknya ridho Allah, Pdahal Allah maha kaya dibanding hamba-hambanya, sedangkan hamba sangatlah fakir sangat membutuhkan karunia dari Allah .



Share:
Babussalam Socah. Powered by Blogger.

recent posts

About us

like us on facebook or instagram

fb : babussalam socah
ig : babussalam_socah